Selasa, 23 September 2014

Absurdity, Saatnya Menertawakan Diri Sendiri

Fikri dan absurd adalah dua hal identik yang sulit untuk dipisahkan. Fakta ini saya temukan beberapa tahun yang lalu saat saya mulai membaca cerita-cerita ajaibnya di blog. Saya sempat sangsi, apakah benar seajaib itu hidup si Fikri? Tapi sejalan dengan waktu, saya makin mengenal Fikri melalui akun social media dan sempat bertemu dengannya, saya paham akhirnya; KALAU FIKRI DAN HIDUPNYA MEMANG ABSURD!

Maka saya adalah orang yang paling berbahagia saat dia me-whatsapp (sebentar lagi kata ini akan masuk KBBI, percaya, deh!) saya dan curhat soal calon bukunya. Lagi-lagi ke-absurd-an terjadi. 




"Mbak, ada penerbit yang mau nerbitin naskah aku, nih!"
"Wah, selamat, ya! Cerita yang mana?"
"Itu, kumpulan ceritaku di blog."
*dalem hati* "Giling, belum jadi orang tenar aja, kisah hidupnya mau dibukukan gini si Fikri."
"Tapi, mbak, penerbitnya ngasih syarat berat banget ..."
"Apaan?"

Jawaban Fikri bisa kamu dapat di bagian (mungkin) kata pengantar, tapi dia menamakannya Semacam Prolog tetapi Sekapur Sirih dalam bukunya "Absurdity," (pake koma):

Di pertengahan 2013, salah satu penerbit membalas surel dengan aneh: menyuruh saya mencari pengikut sebanyak 200.000 orang agar buku ini bisa terbit. Macam saya nabi yang sedang menyiarkan agama saja. Lantas daripada semakin lama mengerak di dasar komputer, saya memutuskan untuk self publishing.

Yak, akhirnya "Absurdity," (pake koma) pun terbit, tanpa Fikri harus cari sensasi di socmed demi mendapat 200.000 followers. Dan saya (lagi-lagi) adalah salah satu orang yang paling bahagia menyambut kelahiran si Absurdity, ini. Kenapa?

1. Seperti penulis yang ngebet pengen menerbitkan buku pertamanya, Fikri tentu saja punya ide brilian untuk bahan tulisan buku perdananya: menulis kisah hidupnya sendiri. Bedanya, ini gak difiksikan, melainkan ditulis layaknya jurnal. Semacam Kambing Jantan-nya Raditya Dika, gitu? Kamu boleh bilang begitu, tapi buat saya Absurdity, beda banget dari banyak sisi.

2. Fikri adalah tipe anak muda yang nggak jaim. Entah dia polos atau dia nggak butuh puja-puji, semua yang dia ceritakan di Absurdity, pure konyol. sampe mungkin kamu bakalan bertanya-tanya, "Ni orang beneran ngalamin begini gak, sih?" Tapi pada satu titik di tiap ceritanya, kamu akan menangkap kejujuran Fikri, bahwa apa yang diceritakannya memang benar adanya dan tidak mengada-ada. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena semua detil kejadian begitu jelas diceritakan Fikri. Misalnya saat dia mencari lokasi ujian di sebuah kampus di Jogja.

"Bu, kalau ke perpustakaan kampus gimana caranya?"
"Ohh, gampang, Mas! Perempatan yang itu, Mas ke utara aja," telunjuknya mengarahkan.
"Ohh dari perempatan ke kiri?"
"Bukan! Ke utara, Mas!"
"Lurus?"
"Bukan, ke utara, Mas!"
"Kanan?"
"Iya ke utara."
Semenjak saat itu saya yakin arti arah utara adalah perempatan belok kanan.

3. Tiap bagian dalam buku ini menyajikan keajaiban-keajaiban (kalau nggak mau dibilang kekonyolan) yang dialami Fikri selama masa SMA sampai kuliah. Beberapa waktu yang lalu saya dapet bocoran dari seorang penulis script sitkom tanah air. Katanya, ada formula tertentu untuk bisa sukses menulis script cerita komedi. Paling tidak tiap 15 detik adegan berjalan, penonton harus tertawa. Saya berani jamin, tiap 15 detik kamu terus membaca Absurdity, kamu nggak cuma tertawa, tapi menyumpah-nyumpah karena gemes banget sama si Fikri atau orang yang lagi dia ceritain. 

4. Tadi saya bilang, mungkin untuk buku jurnal komedi, Absurdity, bisa jadi disama-samkan dengan Kambing Jantan karya Raditya Dika. Tapi buat saya Absurdity, punya nilai lebih. Seancur-ancurnya cerita yang diangkat Fikri, dia menyampaikannya dengan amat sangat rapi. Kalimat dalam bahasa Indonesia yang rapi tertata menjadi penambah aroma konyol saat kamu membacanya. Misalnya waktu Fikri memulai kisah petualangannya ke Jogja untuk ikut ujian masuk kuliah dan semua orang minta oleh-oleh dari sana.

Mereka yang meminta oleh-oleh sepertinya lupa kalau saya pergi ke Jogja bukan untuk pelesir. Saya ujian! Saya ingin melanjutkan pendidikan! Saya ingin berguna bagi bangsa dan tanah air tercinta! Saya ingin Indonesia lebih maju! Saya mengetik ini dengan posisi tangan ke dinding, badan condong miring, posisi kepala menghadap langit, dan sinar matahari menerpa wajah sebelah kiri membentuk siluet yang indah.

5. Pada akhirnya, Absurdity, tidak melulu berisi kisah konyol tanpa pesan. Buat saya pribadi, pesan besar dari buku ini sangat filosofis (kalau nggak mau dibilang dicari-cari. Hahaha, becanda, Fik!). Butuh kedewasaan yang matang untuk mampu menertawakan diri sendiri. Fikri, seabsurd apa pun hidupnya, adalah anak muda dengan hidup yang penuh warna abstrak dan dewasa dengan caranya. 

Saya jarang review sampe berbusa-busa begini. Tapi Absurdity, ini memang beda. Kamu bakalan terhibur sekaligus belajar banyak dari cerita-cerita Fikri. Belajar supaya terhindar dari kekonyolan yang sama. Hahahaha! Beli buku ini di Nulisbuku, ya! Setidaknya kamu membantu Fikri untuk membuktikan kalau dia nggak perlu cari sensasi buat dapet 200.000 followers demi bisa menerbitkan buku ini. Lagian, saya bilang ke Fikri, kalau kamu punya 200.000 followers mending kamu jadi buzzer aja, Fik. Ngapain nulis buku? Wkwkwkwk!

Favorite quote:

Hanya perempuan beruntung dan perempuan pembuat galau yang namanya membekas di ingatan.


8 komentar:

  1. Selamat Fikri.... saya sih gagal paham sama penerbit yang mengharuskan penulisnya punya follower 200ribu. Apakah memang sudah ada study atau penelitian yang valid akan hal ini??? :)

    BalasHapus
  2. Artikel yang sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  3. 200K follower? Kapan bisa sampe segitu banyak kalau benar-benar yg follow itu akun asli semua :-)

    Oya, semalat atas lahirnya buku heeee

    BalasHapus
  4. Selamat lahir bukunya, Mas Fikri.

    hmm, ada gratisannya ga? *minta dikeplak*. Haha

    BalasHapus
  5. Wew harus 200ribu weww

    selamattt fikri...lantjarrrrr jaya sukses bukunya

    BalasHapus
  6. Setelah terbitnya buku ini, semoga punya 200K follower akun beneran dah.. :D

    BalasHapus
  7. adeuuh.. jadi penasaran sama isi bukanya..
    seriusan baca qoutes-nya aja udah bikin ketawa2 gini :D
    review-nyaa kereeen maak, aslii deh (y)

    BalasHapus
  8. maaf klo boleh tau absurdity artinya apa ya bun?maklum ane kurang gaul...
    btw ditunggu bukunya, klo bisa versi ebook juga. Biar mudah dinikmati banyak orang.

    BalasHapus