Rabu, 26 November 2008

Drafts Masih tentang 'Ketipu'

  No comments    
Aku bukan malaikat...juga bukan orang suci...
Tapi aku tak ingin jadi orang munafik
Manakala berkata aku berusaha tak dusta...
Manakala berjanji aku berusaha tak ingkar...
Manakala dipercaya aku berusaha tak khianat...
Aku hanya tak ingin menipu...
Menipu orang-orang yang kusayang...
Menipu diri sendiri...
Yang terpenting...aku tak ingin menipu Tuhan...
Karena Tuhan pasti tahu...(bukan malaikat ya, Dee...:-))

Terlahir setelah tertipu...hehehe...daleeem
!

Senin, 24 November 2008

Sambungan Doa Untuk Bapak-bapak Yang Berwenang di Bekasi

  No comments    
Alhamdulillaaaaah....akhirnya ada pergerakan juga di jalan masuk Taman Galaxi Bekasi. Saya harus bersyukur sama Tuhan yang pasti. Setelah penantian panjang selama lebih dari 6 bulan. Tersiksa terguncang-guncang di dalam mobil. Ditambah perasaan was-was takut mobil rontok. Akhirnya...
Saya harus terima kasih ke siapa nih, Pak? Ke Bapak atau ke warga yang berinisiatif sendiri buat benerin jalan itu? Soalnya saya juga gak tahu, Pak, perbaikan ini atas prakarsa siapa. Siapapunlah, saya tetap bersyukur Pak. Apalagi kalau ternyata ini memang benar atas perintah Bapak yang terhormat. Wah...Bapak masih ingat kan janji-janji saya? Doa-doa saya yang akan saya panjatkan buat Bapak kalau ternyata Bapak benahin jalan ini?
Saya bukan bermaksud ingkar janji nih, Pak. Bapak belum saya doain. Saya mau lihat dulu apakah perbaikan jalan ini berjalan sampai tuntas atau tidak. Yang sudah-sudah sih Pak, proyek begini berhenti di tengah jalan. Walhasil serba tanggung jadinya. Naaah...kalau ternyata jadinya nanti seperti itu, maaf-maaf nih Pak, kayanya gak jadi didoain. Hehehe...
Tapi sambil menunggu hasilnya saya tetap berdoa kok,Pak...supaya proyek perbaikan jalan ini selesai sampai tuntas. Moga-moga Bapak beserta jajarannya istiqomah ya, Pak. Ingat...doaku menantimu di penghujung jalan. Hihihi....Semangat ya, Pak!

Eksis

  No comments    
Aku bernafas namun sesak...
Aku melihat namun kelam...
Aku mendengar namun senyap...
Aku bergerak namun menetap...
Aku menggapai namun tak sampai...
Adakah aku di dunia ini?

Perdana untuk KBJ
Nov 24, 2008

Jumat, 21 November 2008

Rumah Nenekku

  No comments    

(Posted : 20 Nov 2008 on my Facebook)
Alkisah almarhum Nenekku adalah anak dari seorang saudagar kaya di kampungnya. Sebagai seorang anak perempuan dari keluarga Minang, ayah Nenekku sewajarnya memberikan segalanya untuk Nenekku. Maklum saja, anak perempuan adalah penerus dinasti keluarga di Minangkabau.

Maka ketika Nenekku menikah dengan Kakekku, dibangunlah sebuah rumah oleh ayah Nenekku sebagai hadiah pernikahan. Rumah batu, orang-orang menyebutnya. Disebut rumah batu karena rumah itu satu-satunya yang berdinding tembok atau batu. Masa itu rumah orang-orang di kampungku pada umumnya terbuat dari anyaman bambu. Hanya orang-orang terpandang dan berduit yang bisa memiliki rumah batu kala itu. Tidak heran kalau di kampungku akhirnya hanya terdapat dua buah rumah batu waktu itu. Milik Nenekku dan adik perempuannya.

Singkat cerita, Nenekku meninggal dunia menyusul Kakekku yang sudah terlebih dahulu berpulang puluhan tahun yang lalu. Meninggalkan tujuh orang anak yang sudah berkeluarga dan merantau keluar kampung selayaknya orang Minang. Tinggallah rumah Nenekku kosong melompong. Dikelilingi sawah milik Nenekku yang luas namun tidak tergarap. Alangkah sedihnya...

Rumah Nenekku yang dulu berdiri angkuh dan megah seantero kampung, kini tidak lebih dari rumah keropos yang sudah lapuk dimakan waktu. Ternyata batupun tak selamanya kuat. Pada waktunya, dia pun akan habis dimakan jaman.
Rumah Nenekku punya nasehat...tak ada yang pantas untuk sombong di muka bumi ini, bahkan batu sekalipun. Karena pada akhirnya tak ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan melalui masa.

Cita-cita : POLWAN, Dokter, Pramugari

  1 comment    

(Posted : 20 Nov 2008 on my Facebook)
Minggu lalu muncul status baru di YM kakak sepupuku (sort of) : Promosi Buku Perdana. Dia sudah menerbitkan buku perdananya. Memang masih berupa kumpulan cerpen dan bergabung dengan penulis-penulis lainnya. Tapi tetap saja aku tergugah. Ditambah lagi penerbit yang meluncurkan bukunya bukan penerbit sembarangan.

(Sigh)....jealous, euy! Jalanku kesana memang belum terbuka. Ditambah lagi aku juga belum merasa cukup pantas untuk dapat menerbitkan sebuah buku (buku gambar, mungkin). Tapi keinginan itu ada, dan besar. Semacam obsesi, tapi belum sebesar itu.

Kadang aku menyesali kenapa dulu aku justru melangkah ke perhotelan kalau ternyata hasratku adalah menulis. Tapi dulu aku memang kurang peka dengan keinginanku. Malah boleh dibilang aku benar-benar tidak tahu mauku apa, totally. Sehingga sekolah apapun yang mau menerimaku apa adanya, aku sambut dengan penuh syukur. Daripada tidak kuliah?

Kenapa dulu aku seperti tidak punya waktu untuk merenung sejenak memikirkan apa sebenarnya cita-citaku? Waktu aku masih kecil aku selalu menjawab cita-citaku adalah POLWAN jika ditanya. Jawaban anak seusia itu selalu cenderung bersifat profesi jika menyangkut cita-cita.
Setelah dewasa aku baru mengerti ternyata cita-cita lebih dari sekedar berupa profesi. Keinginan untuk mencapai hal yang paling kita impikan dalam hidup, itulah cita-cita. Dan sepertinya aku terlambat menyadarinya.

Sebenarnya masih bisa mengejar ketinggalanku. Pepatah bilang : lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tapi seandainya aku sadar lebih awal...Mungkin keadaanku masih tetap sama seperti sekarang. Tapi setidaknya 32 tahun hidupku ke belakang aku habiskan untuk mengejar impianku yang paling dalam. Kalaupun tidak atau belum tercapai, setidaknya aku puas.

Alangkah beruntungnya mereka yang tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup dan mereka tidak terlambat untuk mengetahuinya.

Rain...rain...go away...come again another day...

  No comments    

(Posted : 20 Nov 2008 on my Facebook)
Kalau udah mulai musim hujan begini, paling ribet kalau rumah bocor. Untung suruntung udah sempat dibenerin bocornya bulan lalu. Kalau nggak....nelongso aku.
Jadi manusia memang ditakdirkan buat ngeluuuuh terus. Dikasih panas, ngomel kegerahan. Dikasih hujan, khawatir kebanjiran. Maunya apa sih...?

Udin

  No comments    

(Posted : 17 Nov 2008 on my Facebook)
Udin bukan siapa-siapa. Kalau keluargamu punya Toyib, Soleh, Kirun atau siapapun untuk kerja serabutan di rumah, kami punya Udin. Walaupun kehadirannya semu, kadang ada, kadang tiada.

Aku dan saudara-saudaraku tidak ada yang tahu asal-usulnya. Dia muncul di rumah kami entah sebagai siapa pada saat kami masih kecil. Belakangan kami baru tahu bahwa kami memang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengannya, apalagi hubungan darah.

Tapi kehadiran Udin selalu berkesan. Tubuhnya yang gempal adalah tempat persembunyian yang pas manakala aku dan adikku takut melihat tayangan horor di televisi. Tenaganya yang besar adalah bantuan yang pas untuk mengaduk rendang ibuku menjelang lebaran. Suaranya yang keras adalah perlindungan yang pas untuk menjaga rumah kami dikala kosong. Semuanya memang serba pas-pasan tentang Udin.

Perkenalan kami selama 20 tahun dengan Udin pun ternyata sangat pas-pasan. Kami tidak pernah tahu siapa keluarganya, dimana kampungnya, apa pekerjaannya. Dia datang dan pergi sebebas burung.

Ibuku bilang dia mantan preman Tanah Abang. Menyeramkan kedengarannya, tapi tak pernah sekalipun kami merasa terancam dengan kehadirannya. Justru terkadang kami mengakui kalau kami membutuhkannya.

Yang paling berkesan bagi kami tentang Udin adalah kejujurannya. Tak pernah sekalipun kami kehilangan sesuatu pada saat dia bersama kami. Padahal dia tidak pernah punya uang. Baginya yang penting perutnya bisa kenyang sampai esok hari, itu sudah cukup. Tidak pernah dia meminta-minta belas kasihan kami. Baginya apa yang diberi orang padanya, itulah yang dia terima dengan lapang dada. Siapa yang percaya kalau dulunya dia adalah seorang begajul Tanah Abang?

Sekarang Udin sudah berpulang ke pangkuan Tuhan. Dia meninggal karena sakit gigi. Siapa sangka sakit gigi bisa membuat seseorang meninggal? Tapi itulah yang terjadi pada Udin.

Kami sangat kehilangan. Ibuku bilang, orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain akan meninggalkan rasa kehilangan yang besar pada saat dia meninggal. Benar adanya. Udin ternyata sangat berarti bagi kami. Tapi kami baru menyadarinya setelah dia pergi.

Selamat jalan, Udin. Terucap doa untuk keselamatanmu disana. Semoga Allah melapangkan tempatmu disisiNya seperti kau selalu melapangkan urusan kami manakala kau bersama kami. Amin.

Udin memang bukan siapa-siapa. Tapi Udin punya tempat istimewa di hati kami.

Cemen...

  No comments    

(Posted : 17 Nov 2008 on my Facebook)
Menerawang ke belakang waktuku
Sesal membuat sesak di dada
Tangis tak cukup hapuskan dosa
Takut selalui hantui langkah
Tanya selalu datangi pikir...
Akankah diampuni aku olehMu?
Masihkah pantas menghamba aku padaMu?
Banyakkah waktu tersisa 'tuk mengemis ampun padaMu?
Sudikah tempatkan aku disampingMu?