Rabu, 19 Agustus 2015

Rock Hits Gathering 3, Dari (Bukan) Penikmat Musik Rock

Assalamu'alaikum.

Every man's memory is his private literature -Aldous Huxley-

Tidak banyak yang saya tahu tentang sosok Edu Krisnadefa sebelum dia jadi suami saya. Selain dia pun bukan orang yang banyak bicara, masa-masa pacaran kami juga lebih banyak dihabiskan untuk saling kenal keluarga masing-masing. Saya beruntung bertemu dengan seseorang yang menjunjung nilai yang sama dalam hidup, yaitu keluarga. 


Masa lalunya? Saya cukup tahu dari dengar-dengar sepintas dan foto-foto lama yang tidak terlalu banyak. Dari sana saya bisa tahu, dulu dia punya mimpi yang berbeda dari apa yang menjadi hidupnya bersama saya sekarang ini. Dia punya cinta untuk musik, dia punya hasrat untuk tampil di atas panggung dan dia punya jiwa yang bebas. Cintanya untuk keluarga yang membuatnya mampu mengalihkan rasa itu untuk keluarga. 

Minggu lalu, saya mendapat kesempatan langka bisa sedikit mengintip masa lalunya. Bisa ikut mencicipi mimpi yang sudah lama dia tinggalkan. Bisa merasakan keharuan sentimen nostalgia yang dirasakannya. Jiwa nge-rock yang sejak dulu sudah bercokol dalam dirinya, ternyata tak pernah hilang. Dia hanya tidur dan menunggu waktu untuk mendapat kesempatan muncul ke permukaan. Saya sepenuhnya paham seperti apa perasaannya waktu itu.


Sejak dia mulai sibuk latihan untuk penampilannya bersama sahabat-sahabatnya dari grup Rock Hits, saya belum memutuskan untuk menyaksikannya. Jujur, saya bukan penikmat musik, apalagi musik rock. I'm more like Taylor Swift's kinda girl. Hahahaha. Satu-satunya pengalaman saya nonton live music rock waktu saya masih kuliah di Bandung, melihat Rif/ yang saat itu masih menjadi pengisi tetap Tavern O'hara. Mereka kerap memainkan lagu-lagu keras dan saya hanya duduk menyaksikan "keriaan" teman-teman saya yang memang menyukai musik rock.

Ketika Mawar Berduri naik ke atas panggung, saya hanya bisa berdo'a, "God, give him what he want. For the sake of my guy's happiness, I'm begging You, make it work and make it rock."


Seorang teman baru yang saya kenal di sana, Mbak Nova, sempat bilang ke saya, "Kita memang sudah nggak muda lagi. Tapi tiap kali ada acara seperti ini, dan mendengar musik rock dimainkan, seperti ada yang menyentuh di sini, Mbak," ujarnya sambil menunjuk dada kirinya. "Rasanya seperti kembali ke masa-masa itu dan pokoknya, susah deh diungkapkan," katanya lagi. I got it. Saya pun selalu merasa begitu saat melakukan sesuatu yang saya sukai dengan sepenuh hati. Apalagi kalau ada unsur nostalgia di sana.

Melihatnya beraksi dengan bass tua yang dulu selalu dimainkannya di masa lalu, saya melihat sosok lain seorang Edu Krisnadefa. Tell me I'm wrong, or is it true that men on stage are ten times hotter than usual? Hahahaha. Saya yakin sejak awal menikah dengannya, saya akan banyak dapat kejutan indah. Saya akan banyak dapat kesempatan untuk berulangkali jatuh cinta dengannya. Lupa semua kebiasaan jeleknya yang sering membuat saya jengkel.



Melihat keluarga Rock Hits pun menjadi kehangatan tersendiri untuk saya. Sebenarnya saya bukan member dari grup pecinta musik rock ini. Semua yang saya temui di Grand Charly malam itu belum ada satu pun yang saya kenal. Tapi mereka menyambut saya hangat. Semua membaur. Saat berangkat saya sudah wanti-wanti agar jangan meninggalkan saya bengong sendirian karena dia asik seru-seruan sama teman-temannya. Pake ngancem pun. Huahahaha. Takut banget mati gaya. Ternyata ketakutan saya tidak terbukti. Surprisingly, I enjoy the show even though I didn't know half of the songs they played that night. It was fun to see how music can bring such warm and beautiful friendship. Salut, Rock Hits!


Oww, mau tau cerita tentang shownya? Ya jangan ngarep bisa dapet di sini. Lah, lagunya apaan juga gue banyakan gak taunya. Hahahaha. Baca ceritanya di sini. Feel nge-rock-nya lebih dapet karena yang nulis emang cinta banget sama musik rock. Semua pengisi acara Rock Hits Gathering Vol.3 dibahas sampe ke ujung-ujung kukunya. #kikir_kuku

Kisses and hugs for my new rocking girl friends: Nenny, Clara, Mbak Sisie, Mbak Nindy dan Mbak Nova, Natalia. Salam kenal yang hangat untuk semua teman-teman di Rock Hits yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, tapi percaya deh, keramaian di grup Rock Hits sukses bikin saya ngakak-ngakak kayak "orang bener" tiap malam. And also for Susan (Joe's wife) who shares exactly the same experience with her hubby. ^_^

We do not remember days, we remember moments. -Cesare Pavese-




Jumat, 14 Agustus 2015

Rock Hits Punya Gawe, My Hubby Ikut Ngeksis

  22 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Teringat 10 tahunan yang lalu, saat saya jadi Stay At Home Mom, melepaskan pekerjaan kantor, sering banget "nyureng" kalau udah kecapean ngurusin rumah sama anak-anak. Mungkin pengaruh kurang ikhlas kali, ya? Capek dikit, langsung nuntut "Me Time" sama suami. Terus suka sirik aja sama suami yang tiap hari bisa "lepas" dari rumah karena pergi kerja keluar rumah. Dulu, saya pikir, dia enak bisa sedikit bernapas lega dari urusan rumah dan anak-anak. Lah gue?




Tapi itu masa lalu. Tsah. Setelah agak pinteran dikit, banyak baca, buka wawasan dan gaol sana-sini, baru saya paham, "Me Time" itu mah soal kreativitas dan keikhlasan. Kalau nggak kreatif, spa seharian di salon juga gak bakalan dapet feel "Me Time"-nya karena dapetnya dari menuntut sesuatu yang harus saya dapat. Kalau nggak ikhlas melakukan apa-apa di rumah, biar pun tidur seharian leyeh-leyeh gak ngapa-ngapain tetep aja nyureng. Hahaha. 


Dari sana saya baru bisa mengerti, pentingnya punya hasrat atau hobi yang benar-benar bisa dinikmati dari dalam hati. Karena kalau udah nemu yang namanya passion, biar dilakukan di tengah tumpukan cucian dan setrikaan, tetep aja enjoy. Setelah mengerti, saya juga coba lihat dari sudut suami saya yang 6 hari dalam seminggu pulang pergi rumah - kantor. Apa iya, dia lega bisa keluar rumah tiap hari? Kalau kerja di luar rumah udah jadi rutinitas buat dia, apa bedanya dengan saya yang "hanya" di rumah saja?


Setahun belakangan ini, suami saya mulai akrab lagi dengan hasrat lamanya yang sempat terlepas karena kesibukannya bekerja. Sampai sekarang, musik tidak pernah bisa lepas dari dirinya, karena sudah akrab sejak kecil. Begitu dia menemukan komunitas yang cocok dengan kegemarannya mendengar dan bermain musik, dia malah kayak nggak ngerasain capeknya pulang kerja. Bass tua kesayangannya, yang sempat berdebu di pojok gudang, kembali dipegangnya. Kaset-kaset lamanya kembali terdengar di rumah. 


Di group Rock Hits inilah dia menemukan kawan-kawan baru yang berbagi kesamaan hobi dan kesukaan. Perlahan dia mulai akrab dengan beberapa teman baru dan mulai punya kesibukan pengisi waktu luang dengan bermain musik. Suami saya sudah teruji selama 13 tahun pernikahan soal dedikasinya untuk keluarga. Adalah egois jika saya bisa menuntut "Me Time" dengan memuaskan hobi saya crafting, menulis dan doodling, tapi dia tidak bisa melakukan hobinya sesekali waktu. Adalah egois, jika saya bisa mendapat banyak teman dan ilmu baru lewat hobi saya, dan dia tetap terkurung dalam rutinitasnya bekerja di kantor. Saya senang melihatnya punya kegiatan lain di luar kesehariannya yang sudah menyita sebagian besar waktunya. Karena dia melakukannya dari hati dan enjoy, kembali ke hobi lamanya jadi semacam terapi relaksasi untuknya.


Sama seperti saya, dia tentu ingin punya satu hal yang hanya dirinya sendiri bisa menikmati. Saya berusaha menghargai kebutuhannya. Satu hal yang saya pahami, seorang yang bahagia akan menjadi manusia yang lebih baik untuk sekelilingnya. Dia akan tetap menjadi suami yang baik seperti yang sudah dibuktikannya selama ini. Dia akan tetap tetap menjadi ayah yang paling keren untuk anak-anak, seperti yang selalu dilakukannya selama ini. Hanya bedanya sekarang, dia jadi pribadi yang lebih happy dan semoga itu akan mendorongnya menjadi suami dan ayah yang jauh lebih baik. 


Prioritas kami tentu saja tidak bisa digeser. Hobi tetap hobi, anak-anak dan keluarga tetap nomor satu. Tapi kalau ada kesempatan untuk sedikit "tampil" demi sentimen nostalgia dari hasrat terpendamnya di masa lalu, saya mendukungnya. Sabtu, 15 Agustus 2015 nanti, bersama teman-temannya dia memberanikan diri untuk tampil dalam band yang baru mereka bentuk. Band yang mengusung genre musik Classic Rock ini mereka beri nama Mawar Berduri. Nggak tau! Jangan tanya saya kenapa namanya Mawar Berduri, ya. Hahahaha. Besok tanya aja langsung di Grand Charly, Green Terrace TMII jam 7 malam, ya. Semoga acara dan penampilannya lancar. Saya cuma bisa mendukung dengan doa. Karena kalau mendukung beneran, saya nggak kuat. *krik-krik*

Sampai ketemu di Grand Charly, Green Terrace TMII besok, ya! ^_^

Mawar Berduri

Joe Tobing (Vokal)
Satia (Drum)
Charles (Gitar)
Roy (Gitar)
Edu (Bass)


Baca ini juga, yuk: Suamiku, Ayah Luar Biasa

Selasa, 11 Agustus 2015

Suka Duka Job Review di Blog

  96 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Alhamdulillaah, setelah lebih dari 10 tahun gak ngantor, beberapa tahun terakhir ini bisa punya penghasilan sendiri dari ngeblog dan main di socmed. Seperti umumnya karir dan keahlian tiap orang, ini juga melalui proses panjang belajar dan culun dulu. Sampe sekarang juga culunnya masih keterusan. Hahaha.

Jadi inget, waktu pertama kali ngeblog, nggak ngerti apaan sih link-link ituh? Malahan, baru kemaren lho saya paham sama istilah backlink. Eaa, sekali gaptek, tetep gaptek. Syukurlah, gaptek-gaptek gini, Allah masih berbaik hati ngasih saya rejeki lewat blog. Sambil sharing hal-hal yang saya suka dan alami sehari-hari, sesekali sambil nambah isi dompet.

Lah, kok gambarnya ini? Heu euh, bingung mau pake gambar apa. Ya, sekalian pamer ajalah, baru mulai main-main doodle :)))

Hampir tiga tahun terakhir ini ada aja perusahaan/brand/agency yang mengajak kerja sama lewat job review. Entah itu review event atau produk. Selama waktunya pas, produknya sesuai dengan profil saya dan jalannya kerja sama enak buat kedua pihak, dengan senang hati tentunya tawaran tersebut saya sambut.

Setelah beberapa kali mengerjakan job review, ada aja kejadian enak-gak enak yang akhirnya jadi bahan pelajaran dan bahan ketawaan sendiri. Sayang aja kalau nggak saya kumpulin di sini. Siapa tau ada yang punya pengalaman serupa, atau malah lebih ekstrim lagi?

E-mail misterius

Bukan sekali dua kali ada e-mail dengan subyek: Tawaran Kerja Sama untuk Blog Emak Gaoel mampir ke inbox saya. Seneng? Iya, dong! Girang. Karena kalau percakapan via e-mail ini lancar bisa berujung ke tanda tangan surat kontrak dan pengiriman invoice. Hehehehe. Tapi kenyataannya nggak selalu begitu. E-mail dengan subyek begini, awalnya biasanya masih basa-basi menjelaskan mau kerja sama dan menanyakan kesediaan saya untuk kerja sama. Ya, kan saya nggak bisa memutuskan mau atau nggak sampai saya tahu detailnya apa yang mereka butuhkan. Biasanya balasan pertama saya untuk e-mail ini adalah menanyakan bentuk kerja samanya seperti apa.
Reply saya akan langsung dijawab paling lama satu jam setelah saya menanyakan bentuk kerja sama seperti apa. Balasan mereka biasanya menjelaskan secara umum dan menanyakan rate. Makin seru, kan? Kalau penjelasan umum tentang kerja samanya saya rasa cocok, saya pun gak pake lama membalas e-mail tersebut lengkap dengan rate card. Trus kemudian hening .... Lama .... Sampe sekarang. Hahahaha!
Entah, ya. Apa karena rate card saya ketinggian buat mereka atau gimana? Yang jelas, kalau emang serius, mereka bisa nawar lho padahal. Karena rate card saya negotiable (dan selalu saya cantumkan di e-mail). Hihihihi. Intinya, saya lumayan banyak nyimpen e-mail misterius macam gini di inbox. Yang lucu, pengirim e-mail yang sama, di waktu yang lain, mengirim e-mail kerja sama baru untuk klien baru ke saya. Dan saya kasih rate card yang sama, eh jalan aja tuh kerja samanya. Hihihihi. Mungkin tergantung klien-nya kali, ya.

Dikira nyari gratisan

Saya selalu kasih "bonus" berupa sesuatu di luar permintaan klien. Ini saya upayakan agar hubungan bisa berlanjut terus (baca: kerja sama berulang, hehehe). Misalnya cuma diminta nulis blog post aja, saya jelasin juga kalau selama beberapa minggu tulisan tersebut akan selalu saya share di socmed saya. Walaupun nggak diminta, ya kali aja mereka hepi gitu ngeliat saya rajin. Semacam anak murid lagi nyari muka sama guru, ya. Hahahaha. Nggaklah. Tujuan saya cuma itu tadi, supaya klien senang aja dan mudah-mudahan bisa berlanjut.
Kadang nawarin "bonus" juga belum tentu bersambut, kok. Jangankan nawarin bonus, nawarin diri buat ngereview gratis aja trus ditolak saya sering, kok! Hahaha, ciaan, deh lo, mak! :p Beberapa kali saya nemu produk unik di internet. Saya suka dan pengen nge-review. Nggak dibayar pun gapapa. Saya kontak untuk coba menawarkan mereview produk, biasanya message saya cuma di-read doang, tapi gak dibales. Hiks. Saya emang minta produknya untuk direview, tapi apa mereka gak tau ya yang saya tawarkan itu KERJA SAMA. Bukan saya yang dapet gratisan, tapi mereka gak dapet apa-apa. Yang ada, saya dapet produk sebiji, mereka dapet link hidup di internet selamanya. :v

DP dan pencairan fee lancar itu asoy banget

Setelah beberapa kali kerja dengan pencairan fee setelah pekerjaan selesai, suatu kali ada klien yang dengan penuh kasih sayang langsung transfer fee 50% sebelum kerja sama dimulai. Rasanya ituuuu ... nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Wkwkwkwk. Rasanya pengen elus-elus layar komputer terus-terusan.
Kalau nggak di-DP pun sebenarnya saya fine aja, sih. Asal pas pencairan invoice gak pake lama. Alhamdulillaah, sampai saat ini selalu lancar. Nggak pernah dapet klien yang sampe berbulan-bulan kudu dicolek berkali-kali soal fee. Tips untuk menghindarinya adalah, pinter-pinter pilih klien. *sok pinter* Biasanya sebelum memutuskan untuk kerja sama saya selalu investigasi ala-ala dulu. Tanya-tanya lewat japri ke teman-teman yang pernah kerja sama, terus cek-cek website-nya, terus kepoin fanpage. Yang paling gampang itu kepoin fanpage pas calon klien lagi ngadain kuis. Pas di pengumuman pemenang, suka ada komplen gak soal hadiah yang gak dateng-dateng? Hihihihi, pertanda banget, tuh. :v

"Mbak, dibayar berapa sama klien itu?"

Jujur, pernah dua kali saya japri teman untuk menanyakan fee yang mereka dapat untuk pekerjaan yang sama. Tapi sebelumnya saya bilang dulu tujuan saya bertanya apa dan kalau mereka nggak mau ngasih tau, saya nggak akan maksa-maksa. Ya kali maksa, minta diserut sampe runcing banget. Dua kali itu saya bertanya dengan tujuan untuk berdiskusi seputar rate card, and that's all. Teman yang saya maksud, kalau baca ini pasti paham. #senyum
Yang bikin njlongop tuh kalau gak ada angin gak ada ujan, tiba-tiba ada inbox masuk dan nanya, "Mbak, job yang itu dibayar berapa?" Arrrgh, rasanya gimana banget. Itu kan sama aja kayak nanya gaji orang kan, ya? Heuheuheu. Biarlah, ini menjadi rahasia kita masing-masing. Kecualiii, kalau ada yang jelasin dari awal tujuannya nanya-nanya fee saya untuk apa. Karena ada juga yang emang nanya itu, mau riset rate yang "wajar" untuk pekerjaan tersebut. Dengan senang hati saya kasih tahu, dengan embel-embel, "Ini antara kita aja, ya." Eaaa. :v

Deadline maju mundur cantik

Heu euh, susah nih kalau dapet yang begini. Mungkin masih banyak yang mengira kalau nulis di blog kayak gini suka-suka aja, tergantung mood. Duh, padahal banyak banget blogger yang serius menggarap schedule blog-nya supaya update-annya terjaga. Jadi kalau udah megang jadwal job review, harus pinter-pinter ngatur supaya next post nggak posting "jualan" lagi. Atau diselingi sama postingan lomba misalnya. Yang pasti, ngatur alur postingan di blog itu butuh management juga. Kalau ujug-ujug dikabarin, "Mbak, acaranya dimundurin. Nanti kita kabarin lagi." Itu rasanya kayak digantung. Aku harus apa selain menanti? #deramah

Terpaksa nolak demi untuk setia

Hihihihi. Dih, ngikik duluan. Kejadian kayak gini bikin meringis-meringis asem sebenernya. Beberapa kali ditawari job review dari brand lain dengan produk yang sama dengan klien yang baruuuu aja kerja sama dengan saya. Adudududu, sayang banget buat ditolak. Tapi terpaksa nggak diambil. Ini sih kalau saya pribadi, ya. Nggak enak aja ngeliatnya. Lah, kemaren baru ngereview (baca: ngangkat-ngangkat) susu anu, kok next post-nya ngereview susu itu? Hwehwehweee, sekali lagi, itu sih saya, ya. Nggak tau deh kalo toko sebelah. :v

Malah jadi konsultan calon klien

Beberapa kali ada e-mail yang awalnya penawaran kerja sama berujung jadi ajang konsultasi. Tadinya nanya-nanya rate card dan apa aja yang saya tawarkan dalam paket, calon klien malah nanya-nanya seputar job review ke saya. "Emangnya perlu ya mbak di-share di social media?" atau, "Menurut Mbak lebih baik di Instagram atau Twitter?". Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, deh. Dan kadang bikin saya bingung sendiri, lah kok malah nanya ke gue? Wkwkwkwk. Tapi gapapa, saya mah berusaha jelasin aja sebatas pengetahuan saya. Yang pedih, udah bantuin jawab, eh kerja samanya nggak jadi. Hiks. :( *beneran kejadian*

Koordinator? Nggak sanggup!

"Mbak, sekalian cariin 5 blogger lagi bisa, gak?" Ya bisalaaah! Jangankan 5, 20 juga bisa. Wkwkwkwk. Tapi terus permintaan berlanjut, "Mbak Winda yang kumpulin, ya. Terus nanti bla bla bla bla. Nanti ada fee khusus buat Mbak." Huhuhuhu. Maap, maap, bukan sok sibuk, nih. Tapi emang sibuk (jemur baju). Saya selalu tolak permintaan semacam ini. Biasanya kalau ada calon klien yang minta dicarikan blogger lain yang cocok, saya langsung rekomendasi dan kasih link blognya. Biarlah terjalin hubungan langsung antara teman-teman dengan si calon klien. Lagian beneran deh, saya belum siap memegang tanggung-jawab jadi koordinator blogger, apalagi kalau urusannya udah job review. Da' saya mah apa atuhlah. Nongol di acara blogger aja kudu nunggu pesawat ulang-alik lewat dulu di pengkolan. Jadi koordinator blogger itu kan harus mobile, kakaaaa!

Masih banyak sebenarnya suka-duka culun saya seputar job review ini. Tapi nanti ajalah saya sambung lagi, kalau udah kelamaan nggak update tentang blogging. Hihihihi. Maaf kalau ada salah-salah kata, Ini murni dari pengalaman pribadi. Nggak menggambarkan blogger secara keseluruhan.


Baca ini juga biar lengkap:

Tanya Jawab Seputar Job Review

5 Manfaat Hashtag untuk Blogger

Membangun Hubungan yang Baik dengan Followers di Social Media

Cara Mudah Memanfaatkan Twitter untuk Penghasilan Tambahan

Senin, 10 Agustus 2015

Pinjam Mobil Grand Livina, Dong!

  9 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Haloo! Siapa yang mau minjemin saya mobil Grand Livina-nya sehari? Pleaaase! Hihihihi. Kenapa, deh?

Hastagah! Mata melotot aja gitu pas baca ada lomba testimoni online berhadiah mobil Nissan Grand Livina. *berbinar-binar* Lomba yang diadakan sama Nissan ini gampang bangeeet dan pasti banyak yang pengen ikutan. Lah, gak menang mobil juga, bisa menang uang belanja setahun total 12 juta rupiah! Aaaak, buat aku, buat aku! *celamitan*




Gimana caranya?

Lomba ini namanya 1001 Cerita Keluarga Livina. Iya, bisa ditebak ya, nggak jauh-jauh dari sharing pengalaman atau momen berkesan bersama mobil Grand Livina. Sharing bisa berupa cerita dan foto atau video yang di-upload ke microsite lombanya. 

Lah, kalo nggak punya mobil Grand Livina gak bisa ikut, dong? Saya juga tadinya langsung manyun karena nggak punya. Hiks. Aku kan pengen bisa menang hadiah mobilnya juga, kakaaak! :'(

Ternyata boleeh! Yang penting kita punya pengalaman mengendarai atau naik Grand Livina, pokoknya. Langsung daftar aja ke SINI, ya. Nanti di kolom tipe mobil yang dimiliki, isi aja dengan "Others". Trus aplod cerita kamu, bisa dalam bentuk foto atau video. Yang penting jangan abaikan syarat dan ketentuannya.

Syarat yang perlu diperhatikan:

1. Pria/wanita usia 18 tahun ke atas, memiliki Nissan Grand Livina atau pernah mempunyai pengalaman bersama Nissan Grand Livina.
2. Unggah video testimoni ke Youtube dengan durasi minimal 30 detik, lalu copy link-nya ke SINI. Atau, unggah foto dan cerita testimoni langsung ke SINI.
3. Format testimoninya: Nama pengguna Livina, asal daerah, sudah berapa lama menggunakan mobil Grand Livina, lalu diakhiri dengan, "Kami happy! Terima kasih, Grand Livina! (dalam bahasa daerah masing-masing)"

Syarat lainnya bis kamu lihat selengkapnya di SINI, ya. 

Jadi problem terbesar saya sekarang ini, siapa yang mau minjemin mobil Nissan Grand Livina buat saya pake sehariii aja. :')))) Buat yang udah punya Grand Livina, beruntunglah kaliaan, bisa punya kesempatan buat nambah Grand Livina satu lagi. Yang belum punya, cemungud eaa cari pinjeman, kayak aku. ^_^

Ikut Lomba 1001 Cerita Keluarga Livina

Klik gambar untuk mendaftar

Menangkan

✓ 1 Mobil Nissan Grand Livina 
✓ Uang Belanja Setahun (12 bulan x IDR 1 juta) untuk 3 Video Testimoni Favorit 
✓ Voucher Belanja IDR 1 juta untuk 5 Foto Testimoni Favorit

Kamis, 06 Agustus 2015

Dev and Ollie, Kite Crazy! Another Good Children Storybook

Assalamu'alaikum.

Hello! This is another children book review from me. Like last time, I received this book through my e-mail. You can get the paper back edition at Amazon, of course. This book I'm about to review is Dev and Ollie, Kite Crazy! written by Shweta Aggarwal. Let me just tell you about the book! Shall we? ^_^



It's Dev's birthday and his favorite present is a cool new kite. But there is a problem - he doesn't know how to fly it! Grandpa claims to be an expert and promises to teach Dev tomorrow but Dev is too impatient.
Ollie, Dev's bedtime magical owl, comes to rescue. Together, Dev and Ollie set off on an action packed journey to the one of the largest kite festivals in the world...in INDIA!


Yup! The story in this book is about a little boy named Dev and his magical toy owl, Ollie. Together, they have a magical adventure night to Kite Festival in Gujarat, India. There, Dev and Ollie met a boy named Rahul who was about to join the kite festival. Sadly, Ollie landed on some of Rahul's kites and broke them.

Dev and Ollie felt bad about it and tried to get another kites for Rahul. They went to the biggest kite market during the kite festival there, Patang Bazaar. And they met and old man, a kite maker. From there, the adventure kept going for Dev and Ollie. Will Dev be able to get the kites for Rahul? And who the old man really was?


I and my daughter enjoy the book. Although, for my 6 years-old daughter, the story might be too short and simple. This book suits to 2 to 5 years old, I think. It will be a great bed time story to tell. And, the illustration is colorful and attractive for little kids. 

At the end part, you can also find some facts about Kite Festival in Gujarat and a little history about kite. Pretty useful! For a children book, I give this book 4,5 stars. Good story, great illustration and so much fun to read. Oh, and there will be more books about Dev and Ollie, coming soon! Yeay! ^_^

Dev and Ollie: Kite Crazy! Paperback – Large Print, April 1, 2015by Shweta Aggarwal (Author), Somnath Chatterjee (Illustrator)

Rabu, 05 Agustus 2015

Dandanan Mata Istimewa Ala D'Eyeko Hijab Eyelashes Series

  19 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Emak-emak sibuk macam saya ini, kapanlah punya waktu buat dendong. Eeeh, sori, jek. Saya biar pun banyak urusan sama bocah, kalau gelora dandan lagi membuncah, gak bakalan bisa keluar rumah tanpa dandan. Minimal bedak, lipstik sama eyeliner harus terpasang. Hihihihi. 

Orang "bijak" bilang, "Perempuan sama dandan itu ibarat lampu sama tiang listrik." Eh, gimana? Maksudnya, cuma perempuan yang bisa merasakan kepuasan berdandan. Nggak harus buat nyenengin suami, karena sebenernya kalau saya dandan itu lebih ke kesenangan pribadi aja. Suami seneng liatnya? Ummm, kalau ditanya sih bilangnya pasti, "Cantik." Ya kali berani bilang kebalikannya. Hahahaha. Buat saya agak "percuma" nanya pendapat suami, karena biasanya laki-laki pada umumnya juga nggak ngerti-ngerti amat sama yang namanya seni berdandan. Coba tanyain, "Warna lipstik yang ini cocok nggak sama aku?" Paling ngangguk, karena nggak mau dapet masalah. Atau tanyain, "Bulu mata aku keliatan beda, gak?" Pasti bingung deh mau jawab apa. 


Buat urusan dandan, saya paling enjoy menggarap area mata. Suka banget berlama-lama di seputar mata. Mulas eyeshadow, pakai eyeliner, ngerapihin alis mata. Dan kesukaan terbaru saya sekarang ini: masang bulu mata D'Eyeko. Apalagi sekarang udah ada edisi terbaru dari D'Eyeko ini dikhususkan untuk cewek-cewek berhijab kayak akyuh. Terbuat dari bahan sintetis berkualitas tinggi dan nggak terasa berat di mata.

Pas diliat-liat waktu masih di packaging-nya rada "merinding" juga liat tebal dan panjangnya. D'Eyeko Hijab Eyelashes ini desain bentuk bulu matanya emang lebih tebal dan panjang dari eyelashes biasa. Kalau saya pribadi, karena udah pernah nyobain eyelashes yang natural dan ternyata hasilnya gak terlalu keliatan, malah suka dengan size dan bentuk D'Eyeko Hijab Eyelashes ini. Karena pasti ngasih efek yang lebih tajam dan terlihat di mata. Bener aja, dong! Mata ekeh langsung mencolot kelihatan tajam setajam pisau Chef Juna. Errr ....


Enaknya pakai D'Eyeko Hijab Eyelashes ini, karena dia udah cukup stand out di mata, nggak perlu-perlu amatlah pakai eyeshadow lagi. Cukup pakai liquid eyeliner (ini mah wajib buat saya), pasang D'Eyeko Hijab eyelashes, beres sempurna! D'Eyeko Hijab Eyelashes ini ada beberapa type. Kebetulan yang punya saya yang type Hidden Beauty dan Turn To Be Glamour yang memang lebih diperuntukkan untuk acara spesial kayak pesta mungkin, ya. Karena, yaah namanya juga glamouuurrr, masak dipake buat ke pasar belanja ikan teri sekilo? 

Kalau kamu udah biasa pakai fake eyelashes, nggak perlu kok pakai alat bantu lash applicator karena dipegang pakai tangan pun masih bisa. Kalau yang natural kan suka terlalu tipis dan fragile, kadang kita butuh bantuan pinset atau lash applikator. 


Before-after, cyiin .... ^_^ 


Khusus buat postingan ini karena buat photo session, perlu juga pake eyeshadow dikit, yaa. Biar lebih keliatan lagi. Tapi kalau mau langsung pakai tanpa eyeshadow pun sebenernya serial D'Eyeko Hijab Eyelashes ini udah OK banggeud. Bener, deh!


Mau dandan ala-ala Saudi Arabian Lady dengan cadar juga kece badai pakai D'Eyeko Hijab Eyelashes. Karena mata langsung terlihat besar, tajam dan menarik. Sebagai penggila dandanan mata, D'Eyeko Hijab Eyelashes series ini saya nobatkan sebagai perabotan lenong favorit saya yang ke-sekian. Lagian enak, beli sepasang udah sama lem-nya. Bisa dipakai berulangkali. Hemat dan praktis. Cetar dan membahana. Syantiex dan menggugah.




Senin, 03 Agustus 2015

Behind The Scenes Safina's Home Video

  13 comments    
categories: , ,
Assalamu'alaikum.

Sebagai emak yang banyak mau dan banyak gaya, dulu saya suka tergoda aja kalau baca-baca artikel parenting. Pengen banget praktek semua teori mendidik anak biar jadi generasi super. Tapi apalah daya, karena keterbatasan ilmu, kadang hasilnya suka nggak seperti yang dijanjikan artikel parentingnya. Hahahaha. Contohnya, pas baca Bagaimana Menjadikan Anak Menjadi Pribadi yang Percaya Diri. Disarankan untuk sering ngajak anak ketemu banyak orang, sering memberi pujian dan membekali anak dengan berbagai keterampilan. Eh, kejadiannya sama anak sendiri malah beda. Dibawa ketemu orang banyak, malah makin malu-malu. Dasarnya jago kandang, kayak emaknya. Wkwkwkwk. Sering dikasih pujian, malah nyolotin. "Kasih hadiah, dong!" Idih. Disuruh belajar ini itu biar nambah ketrampilan, malah ngomong, "Jangan suka memaksakan kemauan sendiri ke anak." Eaaaa.


So, udah lama saya melepas obsesi sama semua artikel parenting di banyak media. Karena saya sadar banget, tiap anak butuh beda perlakuan. Dan hanya orang tua masing-masing yang tahu cara pendekatan yang paling efektif ke anaknya. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak saya pun akhirnya saya mencari-cari cara sendiri yang paling cocok sama mereka. Kalau dibawa ke keramaian malah membuat mereka makin nggak nyaman, ya saya nggak mau maksainlah. Mereka bisa memupuknya lewat cara lain. Fadhil (12 tahun) misalnya, sekarang lebih saya bebaskan untuk leluasa mengeksplorasi hobinya main komputer. Saya coba arahkan dengan banyak project. Liburan kemarin dia belajar membuat animasi. Dan dengan bangga dia bisa menjelaskan ke saya, "Bikin animasi 3 detik itu, kerjanya bisa sampai 3 hari tau, Ma! Susah!" Okesip. Nulis blog juga biar kayak main-main gini, kerjanya lama tau, Dhil! #emakgakmaukalah


Kalau Safina, berhubung jiwa Jago Kandangnya masih bergelora, saya coba pupuk aja keberaniannya di rumah lewat video. Karena, sumpah deh, banyak yang gak percaya kalau saya cerita Safina itu bawel banget di rumah. Akhirnya, saya bujuk dia untuk mau bikin home video supaya dia bisa lihat sendiri betapa sebenarnya dia percaya diri banget kalau di rumah. Dan gak ada alasan untuk nggak PD di luar rumah. 

Ngomongin bikin video, nggak usah ngebayangin ada tripod, lighting sama kamera canggih, ya. Hahahaha! Kebayang emaknya gaptek kuadrat gini. Pake apa aja jadilah. Ini beberapa video yang berhasil saya unggah di Youtube, dan sedikit cerita Gaptek Behind The Scene-nya. Yah, siapa tau ada yang jago video editing yang terketuk hatinya mau bantuin Safina bikin video yang rada genah. Siapa tau, anak ekeh bisa jadi ngartis yucyub, gitu. :v

1. Safina 4 tahun, main scarf di kamar


Video ini diambil sambil goler-goleran di tempat tidur pake kamera hape. Kualitas suaranya juga jelek banget, padahal si Nana ngoceh banyak banget. Aplod ke Youtube pun sempat masalah karena jaringan internetnya lagi lemot. Plus, video ini diambil pas malam hari. Tapi sebenernya ngaruh gak sih suting malam sama siang kalau lokasinya indoor gini? #nanya Apa emang kameranya aja yang somplak? #nunduk

2. Safina 5 tahun, sesi wawancara


Masih lokasi di kamar tidur, lokasi favorit. Soalnya kalau di luar suka tiba-tiba lewat tukang perabot teriak-teriak, "Embeerrr! Gayuung! Sapuuu!" -_- Suaranya agak lumayan jelas, karena posisi take-nya nggak jauh dan ini diambil pake kamera tab Samsung. Mayanlah. Hihihihi. Tetep aja, dasar gaptek, ngambil angle-nya berdiri. Jadi pas di-aplod ke Youtube jadi gini. Bisa dipenuhin ke dalam frame gak sih sebenernya kalau kayak gini? #nanya

3. Safina, 6 tahun menceritakan cerita yang dikarangnya sendiri


Yak. ketebak! Lagi-lagi di kamar, hahahah! Tapi alhamdulillaah, kali ini kasurnya pake seprei. Wkwkwkwk. Tapi tetep, masih bego, ambil gambarnya tab-nya berdiri. Jadi gak full frame. Diambil pake tab Samsung juga. Cuma lama-lama saya genggeus banget liat background pintu lemari ituh. Huh. Ngaruh gak kalau saya beli kain putih berapa meter gitu dan digantung di belakang? Bisa nolong kualitas gambar gak? #nanya

4. Safina 6 tahun, tutorial main Minecraft


Sebenernya pengen bikin video tutorial Minecraft yang model-model profesional gitu. Yang ngerekam gambarnya langsung dari screen komputer. Tapi becanda amat kalau ngira saya ngerti gimana caranya. Hahahaha. Akhirnya, tetap di kamar dengan kasur tanpa sprei, jadilah video tutorial perdana Safina ini. Hahahaha. Kalau mau bikin tutorial yang ngerekam langsung layar tab, pake aplikasi apaan sih di tab? #nanya

5. Safina dan Mama, ngiklanin vitamin rambut dalam rangka lomba


Di sini saya baru ngeh, betapa pentingnya cahaya untuk kamera. *ke mane aje?!* Lokasi take di runag tengah dan pagi hari. Lumayan rada kece kan, karena cahayanya agak bagus. Cuma ini diambil pake kamera hape, jadi kualitas gambarnya ya gitu, deh. Kalau mau muka jadi kece dalam video pake apaan, sih? Ya, kali aja ada aplikasi edit muka buat video kayak buat foto gitu. Hahahaha. #nanya

6. Safina main fun dough


Video ini diambil pakai kamera hape yang bunyi notifikasinya lupa dimatiin. Huahahaha. Dudul. Gimana caranya ngilangin suara yang gak penting gitu, ya? #nanya

7. Safina dan Mama main origami


Video ini diambil di ruang makan, pas suasana lagi syahdu menjelang magrib. Pakai kamera tab Samsung yang ditaro di atas meja, cuma jarak 30 cm dari pemeran utama. Makanya suaranya menggelegar gitu. Tapi tetep aja, dasar gak jago ngatur angle pengambilan gambar, muka kepotong setengah. Udah gitu, banyakan muka emaknya pula. :v

8. Safina dan Mama menggambar bersama


Video ini juga sama kayak video di atas. Tapi posisi kamera direbahin biar gambarnya lebar. Nah, pertanyaan saya buat video ini adalah: Gimana caranya ngedit video yang kepanjangan gini? Wkwkwkwkwk. Mumet banget hidup lo, mak!

9. Safina endorsing online shop


Alhamdulillaah, Safina dapat job pertamanya meng-endorse online shop yang jualan mainan anak.  Mayan, dibayar pake mainan. Bocahnya girang. Alhamdulillaah lagi, emaknya rada ngerti sekarang gimana caranya supaya video nggak kepanjangan. Pake tombol pause doang ternyata. Tapi tetep, masih belum bisa ngedit video biar isinya rada cakepan gitu. Trus, pengen deh masukin intro musik gitu, sama tulisan credit title di bagian akhir. Ajarin, dong. :v

Okesip. Udah puas jadi saksi kegaptekkan Emak Gaoel? Puas ketawa? Makasih, yaa. Jadi pada tersentuh gak pengen bantuin bikinin home video serial Safina? Iya, dong! Iya, dong! Yuuk, main ke rumah. Ntar aku sediain bebek goreng sama es teh manis, deh. Hihihihi.

Buat yang pengen tau sharing saya seputar ngajarin anak bicara bilingual, bisa liat di sini, ya. 

Sabtu, 01 Agustus 2015

5 Manfaat Hashtag untuk Blogger

  31 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Kelakuan kalo udah libur, keenakan nyuekin blog. Lah baru blog, anak aja lupa. Iddih! Ngobrolin apalah enaknya hari gini? Sekolah anak udah mulai, udah banyak yang bahas. Eh, baydewey, seneng aja kemaren di socmed rame bahas kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah) yang aneh-aneh itu. Anak sulung saya kan juga lagi MOS (masuk SMP), termasuklah saya jadi mamak nyureng gara-gara mumet ngumpulin tugas bawaan yang ajaib-ajaib. Disuruh bawa balon 2 biji tiap hari, tangan dipakein pita, name tag bentuk kepala Miki Mos. Hhhh ... pucing pala mama syantiex. Akhirnya ngomellah di socmed. Eh, gak taunya banyak temennya. Hashtag #MOS dan #bubarkanMOS sempet jadi trending. Dan gak taunya Pak Mentri pun jadi turun tangan. Alhamdulillaah, pelaksanaannya sendiri nggak sampe melenceng ke arah yang ditakutkan (bullying) kalau di sekolah anak saya. Mudah-mudahan di sekolah lain juga gitu, ya. Tinggal nunggu perbaikan aja soal atribut-atribut nggak berguna itu. 


Tapi saya mah bukan mau ngomongin itu sebenernya sekarang. Wkwkwkwk. Kebiasaan gak fokus. Maap. Udah lama nge-draft mau (sok) bahas soal penggunaan hashtag (#) di socmed. Gunanya buat apaan, deh? Trus ngefek kagak sih pake hestek-hestekan gitu? Biar analisa saya nggak keliatan sotoy-sotoy amat, ya saya ngajak temen-temen untuk diskusi soal penggunaan hashtag ini. Supaya kalau ada yang bilang, sotoy, berarti gue nggak sotoy sendiri. Ada temennya. Hihihihi, sotoy ngajak-ngajak. 

Jadi ya, waktu pertama main di Twitter, saya baru kenal sama yang namanya hashtag. Baru tau juga kalau penggunaan tanda pagar di depan satu kata tertentu akan menuju ke satu link yang mengumpulkan semua twit yang mengandung kata tersebut. "Ajaib!" kata saya norak. Lama-lama jadi seneng merhatiin trending topic di Twitter melalui hashtag. Terus, lama-lama kreatif sendiri bikin hashtag sendiri. Semacam anti mainstream. 

Nggak lama, Facebook juga ikutan pake-pake hashtag supaya dibilang kekinian. Saya mulai serius "menggarap" persoalan hashtag ini setelah FB juga memakainya. Pikir saya, "Ini pasti ada manfaatnya buat netizen atau pun praktisi socmed dan juga blogger." Jiwa kepo saya bergelora, membuncah, gegap gempita dan lincah gemulai ngedaprak. Apalagi di Instagram juga lebih cihuy hasil perolehan "Likes" kalau pakai hashtag. *semacam penting banget dapet like bejibun ye, maaak* 


Berkat bantuan beberapa teman, saya coba kumpulin beberapa poin kegunaan hashtag untuk blogger khususnya dan pemain socmed pada umumnya. Sip, udah kayak judul tesis. Keren banget!

1. Branding blog
Bikin deh satu hestek kheuseus untuk blog kamu, kayak Blog Emak Gaoel ini, tiap ada apdetan atau sharing postingan lama, saya selalu pakai #BlogEmakGaoel. Tujuannya, selain agar terkumpul di satu area, juga jadi brand awareness untuk teman-teman yang membacanya di social media. Mau itu di FB, di Twitter atau IG, selipin satu hashtag khusus itu selalu.

2. Get more participants for your event
Yang lagi ngadain giveaway atau lomba di blognya, bikin satu hashtag khusus untuk lomba. Kalau ada yang belum tahu infonya, bisa klik hashtag tersebut dari twit/status siapa aja yang lagi share tentang event kita. Ujung-ujungnya akan mengarah ke event, kan. Sip.

3. Expand the effect of your reviews
Buat yang sering dapat job review di blog, hashtag berguna banget untuk memperluas keluarnya review kita di socmed. Biasanya ada beberapa hashtag yang ditentukan oleh pihak klien, tapi tetap usahakan selipkan satu hashtag pribadi kita, agar review kita yang terbaca, bukan milik orang lain. Uhum, trafik, cyin. Ini namanya persaingan bisnis. Okesip.

4. Get new people on your readers' list
Hashtag juga berguna banget untuk menjaring pembaca baru untuk blog kamu. Caranya, selain pakai hashtag khusus untuk blog, tempelkan juga hashtag yang lebih umum atau general. Misalnya Blog Emak Gaoel lagi bahas soal mainan. Saya  pakai hashtag #BlogEmakGaoel plus #toy dan #mainananak. Cucok, kan?

5. Make your job easier in tracking your review and event
Ya iyalah, ini mah gak usah dibahas. Kan udah dibilang tadi, hestek fungsinya kan ngumpulin twit/status yang spesifik di satu tempat. Pastinya kita akan lebih terbantu kalau paham gimana memainkan si tanda pagar ini.


By the way, kenapa sih bentuknya hestek kayak gitu? Ada yang tau? Kalau tau, kasih tau, ya. Gak penting, sih. Tapi siapa tau ada yang tau. Saya kan jadi pengen tau juga. #mbulet #hestekgakjelas #gakusahditiru #gakadagunanya

Kalau kata Suci Santy Risalah, "Hestek itu berguna banget untuk memudahkan kita mencari tema tertentu. Apalagi kalau lagi mau cari referensi untuk keperluan belanja online, nolong banget untuk bisa dapat beragam informasi, biar gak kecele."

Si Hendra Fu tadinya ngomong gak paham banget sih fungsi hestek itu apaan. Tapi dia tetap berbahagia karena kalau pake hestek, biasanya kebanjiran like, bisa dari mana-mana. Hahaha, gak paham tapi bahagia. Indah banget hidup lo, ndut. :v

Winda Carmelita senada nih sharingnya tentang hashtag. "Hashtag itu gunanya untuk mempermudah orang mencari suatu postingan terkait tema. Ada juga yang kasih hashtag sebagai branding, ciri khas. Lalu ada juga yang memberi hashtag yang lagi populer di promosi blognya di social media supaya kalau ada yang searching berdasarkan keyword tersebut, postingannya ikutan muncul di list."

Nah, soal "nebeng" di hashtag yang lagi trending, saya rada gimana sebenernya. Kadang suka gak nyambung soalnya. Selain itu juga suka gak etis banget. Pas lagi ada musibah nasional gempa misalnya, hashtag #gempaIndonesia ketempelan aja sama yang promoin olshop. Hih! Gak sopan! KZL! Sebaiknya jangan gitu juga kali, ya.

Kalau mau nyontek kreativitas ber-hashtag, bisa nyontek sama Tante Syahrini, tuh. Hashtag #seperti_ituuuh punya Syahrini populer banget di jagad maya, terutama di IG. Hihihihi. Kalau menurut kamyu, penting gak dunia persilatan hashtag ini?

Bacaan bergizi tentang kegunaan hashtag untuk keperluan online marketing bisa dibaca di sini.
7 Reasons Why Hashtags Are A MUST in Your Marketing