Selasa, 12 Oktober 2010

Perjalanan Menulisku: Ngeblog Ngurangin Goblog-ku (#5)

  6 comments    
categories: ,
Hahahahaaa...Maaf, dibuka dengan ngakak. Aku nggak tahan sendiri baca judulnya. Sengaja ditambah dengan 'ku' di akhir kata goblog, karena takut nanti ada blogger yang tersinggung. Wkwkwkwk....

Aku mulai lagi menyakiti otakku dengan flash back kapan pertama kalinya aku berkenalan dengan blog. Ya Tuhan, ini sungguh menyiksa... Sebentar, aku minum teh manis hangat dulu. Glek! Glek! Melihat dari postingan-postingan awal di blog ini, sepertinya memang tahun 2008 aku mulai kenal dengan si blog ini. Sebab blog ini juga blog pertamaku dan sampai saat ini masih kusayang-sayang. Darimana ya dulu tahu ada blog? Hmmm, sepertinya dari adikku juga. Iya, dia memang amat sangat bersahabat sekali dengan teknologi internet. Suatu hari dia bilang sedang blogwalking waktu kami sedang chatting. Blogwalking? Ya ampun, plis dong, apa lagi itu? Mungkin karena dia gemes sendiri dengan ke-goblog-an kakaknya ini, akhirnya dia hanya memberikan sebuah link blog ketrampilan untuk kulihat-lihat. Waaawwww! Dunia langsung terasa terbuka lebar!

Ternyata bisa ya curhat-curhat ala hobi lamaku nulis diary itu di internet? Wah, kereeen! Tidak pake lama, langsung bikin satu blog, dan inilah dia sampai sekarang. Walaupun tampilan awal sungguh menyedihkan, akibat nggak ngerti gimana masukin foto, nggak ngerti gimana mengubah warna huruf dan lain sebagainya. Tetap saja semangat itu berkobar-kobar. Adrenalin terpacu. Keringat menetes. Nafas memburu. Duh, ini lagi ngapain sih? Hahahaaa...pokoknya semangat banget deh waktu bikin blog ini. Girang setengah mati karena menemukan satu tempat buat menyimpan cerita-ceritaku. Khawatir dibaca orang? Jujur, aku malah berharap ada yang baca. Entah kenapa, mungkin karena dulu udah biasa ngibul di diary dan merasakan kepuasan kalau Mamaku percaya dengan tulisanku, maka begitu aku bisa menulis di tempat umum seperti blog ini aku jadi tambah semangat. Semangat buat ngibulin orang. Hihihihi...Nggaklah. Maksudnya aku semangat sekali memikirkan ada yang akan membaca tulisanku secara tidak sengaja kalau dia sedang blogwalking. Waaah, rasanya gimanaaa gitu. Seperti ada sensasi baru yang menggelitik dalam diriku ketika memikirkannya. Hahahh, lebay...

Awal-awal nge-blog memang mengasyikkan. Tenggelam dalam dunia kesendirian. Gimana nggak sendiri? Lah, kayanya ini blog dulu nggak ada yang baca kecuali aku sendiri deh. Wkwkwkwk...Karena aku nggak bisa terlalu lama bersepi-sunyi sendiri, akhirnya aku bosan main-main di blog. Walaupun baca-baca blog orang lain tetap aku lakukan. Aku suka sekali membaca. Selama itu tidak menyinggung SARA, politik dan hukum, mari sini aku baca tulisanmu. Apalagi kalau cerita-cerita fiksi. Wuaah, hobiii! Berhubung harga buku di toko buku mahalnya setengah ampun, baca-baca di blog jadi pilihan alternatif bacaan yang murah meriah dan menyenagkan bagiku.

Banyak membaca karya-karya orang lain ternyata tanpa disadari agak memberi pengaruh juga pada gaya menulisku, walau mungkin sedikit. Maaf, bukan sombong, cuma memang aku merasa ada sedikit progress-lah setelah beberapa lama aku mulai nge-blog. Nge-blog dalam hal ini adalah menulis di blog dan membaca blog orang ya.

Syukurlah, ada yang bisa kupetik dari pengalaman main-main di blog ini. Selain membuat kurang tidur dan pinggang sakit juga akibat kelamaan duduk di depan komputer. Tapi nggak apa-apa kok. Semua bisa diatur.

Besok aku mau cerita tentang beberapa blog yang menginspirasiku ya. Dan mohon maaf, jangan terlalu berharap lebih dengan pilihan-pilihan blog-ku. Blog yang menurut aku inspiratif dan keren, mungkin buat kalian tidak ada apa-apanya. Hahaha, biarin aja! Namanya juga selera. :P

Senin, 11 Oktober 2010

Biar Indie Bukan Berarti Asalan, Kan?

  No comments    
categories: 
Wow! Baru baca sebuah kabar gembira dan bikin 'iri' lagi. Dua teman blogger minggu lalu sudah menerbitkan bukunya pada sebuah event bertajuk “99 Writers in 9 Days”. Andi Gunawan dengan bukunya yang berjudul 'Kejutan' dan Vira Clasic dengan bukunya 'Lajang Jalang'. Walau terbaca sedikit rasa minder pada salah satu artikel Vira di Kompasiana karena dia menerbitkan buku melalui jalur indie, tak pelak saya harus acungkan jempol buat mereka.

Sebenarnya indie atau tidak, itu hanya masalah jalur saja. Sama seperti kita mengendarai mobil, mau lewat jalur cepat atau jalur lambat, itu pilihan kita. Pilihan yang berdasarkan tujuan dan belokan yang akan kita ambil di depan.

Sebuah pandangan sinis yang mengatakan jaman sekarang gampang sekali menerbitkan buku memang tidak bisa kita biarkan saja seperti angin lalu juga. Cuma sekarang kategori gampang itu dilihat dari sudut mana dulu. Gampang karena tidak melewati proses seleksi dari pihak penerbit, tentu saja. Kalau ada satu langkah sulit yang bisa dihindari untuk mencapai tujuan, kenapa tidak dilakukan? Semua berpulang pada prinsip ekonomi, melakukan sesedikit mungkin usaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Hahahaa...Saya suka sekali prinsip itu. Wkwkwkwk....Tapi coba bayangkan kerja keras yang juga harus dilalui oleh para penulis yang menerbitkan bukunya secara indie. Mulai dari memilah-milah naskah mana yang layak untuk diterbitkan saja dulu. Menilai tulisan sendiri bukanlah suatu hal yang mudah. Sebab kejujuran pada diri sendiri sering dipertanyakan. APakah kita manusia narsis yang merasa karya kita sudah pantas dan layak, tanpa mau melihat keluar? Hahaha, bagi saya itu saja sudah merupakan sebuah perang bathin yang tak berkesudahan. Jujur pada diri sendiri itu sulit.

Lantas mengedit naskah sendiri. Itu kerepotan lain yang harus dilalui ketika kita memutuskan untuk menerbitkan buku secara mandiri. Ya Tuhan, pekerjaan itu sungguh menyebalkan, walaupun harus saya aku kalau editing adalah satu langkah penting yang tidak bisa dihapus dalam dunia tulis-menulis. Sering sekali kita menemukan kesalahan fatal yang pada awalnya tidak kita sadari. Belum lagi, ketika kita menyadari ternyata tulisan ini masih belum layak setelah dibaca beberapa kali. Belum layak menurut ukuran siapa? Ya tentu saja menurut ukuran kita sendiri. Bukankah kita berperan sebagai editor untuk tulisan kita? Kembali lagi ke langkah awal saat kita memilah-milah naskah, ukuran kelayakan itu sangat bergantung pada kejujuran kita dalam menilai diri sendiri dan tentu saja tak bisa lepas juga dari ilmu kita dalam dunia tulis-menulis. Sekali lagi, proses editing itu sungguh melelahkan. Salut untuk teman-teman yang berprofesi sebagai editor. Bukan gampang juga mengedit naskah yang bukan tulisan kita sendiri bukan? Bottomline, editing itu juga kerja keras yang harus dihadapi.

Selesai proses editing, bukan berarti selesai perjuangan sampai di sana. Setelah naskah terkirim, ternyata hey ternyata, si percetakan cuma mau terima beres termasuk urusan cover design. Oalaaah, apa lagi ini? Beruntung bagi mereka yang memiliki ketrampilan lebih di dunia fotografi atau design grafis. Tapi kalau tidak? Berharap memiliki teman yang berbaik hati bisa membantu bisa jadi satu pilihan. Seperti Andi Gunawan yang memakai cover hasil jepretan si Pungky, sahabatnya, di bukunya itu. Vira Clasic mungkin lebih beruntung dan lebih merasa percaya diri kalau melakukan semuanya sendiri, maka dia pun membuat sendiri cover bukunya dengan ilmu yang dimilikinya. Apapun itu, tetap urusan cover design menjadi kerja tambahan untuk penulis yang ingin menerbitkan bukunya secara indie.

Buku telah terbit? Jangan hore-hore dulu. Ingat, ini self published, tidak ada toko yang mau menjual kalau tidak kita sendiri yang datang menawarkan buku kita ke sana. Kalaupun ada toko buku yang bersedia menampung buku kita, rasanya percuma juga kalau tidak ada usaha marketing, minimal promosi dari mulut ke mulut atau via jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Untuk buku Vira dan Andi yang baru akan cetak kalau sudah ada permintaan alias print on demand, mungkin agak sedikit tenang. Mereka bisa cuap-cuap menjual bukunya melalui media apa saja, termasuk dari mulut ke mulut. Mengumpulkan pesanan sendiri lalu memesan langsung ke penerbit tersebut. Walau begitu, itu bukan perkara mudah.

Lantas kalau sudah begitu, masih bisa bilang menerbitkan buku itu mudah? Saya percaya kesuksesan tidak datang tanpa kerja keras. Menerbitkan buku baik secara indie ataupun melalui mainstream publisher, tetap ada kerja keras yang harus dilakukan tanpa putus asa. Masalah kualitas? Itu lain masalah. Saya tidak berani bicara sampai ke sana, karena saya bukan kritikus sastra.

Anyway, kesuksesan teman kadang bisa membuat kita iri. Saya suka dengan si iri itu. Karena dengan iri saya terpacu untuk berbuat lebih. Iri jangan lantas menjadi dengki sehingga kesinisan yang akan muncul seperti ucapan, "Jaman sekarang mudah banget bikin buku ... gak aneh itu ... di tiap daerah jg banyak .." Hohoho...Coba dialihkan energi sinis itu untuk berbuat yang lebih positif, seperti menghasilkan karya yang nyata seperti dua teman muda kita itu.

Selamat buat Andi Gunawan dan Vira Clasic atas diluncurkannya buku perdana kalian pada acara Indonesia Book Fair 2010 di Istora Senayan (8 Oktober 2010). Kalian adalah sedikit dari banyak anak muda Indonesia yang bicara lewat karya, sehingga segelintir yang hanya bisa berkoar jadi tak terdengar gaungnya.

Minggu, 10 Oktober 2010

Perjalanan Menulisku: Modalku Untuk PD Menulis (#4)

  8 comments    
categories: ,
Maaf, rada terganggu nih postingan. Yang harusnya tiap hari masukin satu, kemarin jadi absen. Semua gara-gara SAMPAH! Wkwkwkwkwk...sudah..sudah yaa, nggak usah dibahas di sini. Di sini tidak menerima sampah.

Melanjutkan perjalanan menulisku. Ini sedikit curcol (lah, yang kemaren-kemaren emang bukan, ya?). Aku suka iriiii sama penulis-penulis muda seumuranku yang sudah bisa menerbitkan buku. Entah ya, biarpun katanya jaman sekarang nerbitin buku itu gampang, tapi tetap saja ada nilai lebihnya di mataku. Nerbitin buku gampang? Iya, self publish ternyata sudah ada yang gratisan! Wah, berita baru buatku. Setahun yang lalu sempat ngobrol sama beberapa teman yang suka menulis, mereka bilang kalau mau indie harus punya modal minimal 20 juta dan team marketing yang mumpuni. Waaah, begitu beratnyakah? Ah, nggak kuaaat!

Tapi sekarang ternyata lain. Tetap saja, buatku buku adalah buku. Sebuah bukti hasil tulis yang tercetak. Buatku pribadi, walaupun bisa menerbitkan buku sendiri, tetap harus milih-milih tulisan yang dianggap layak untuk dibaca orang lain. Belum lagi mengingat orang lain akan mengeluarkan uang untuk membacanya. Wuaaah, kebayang kan keselnya kalau kita beli buku mahal-mahal, ternyata isinya nggak bangeeet! Hahahaaa...gondok! Mau minta balikin duitnya sama si penulis, apa nggak diketawain? Paling dia cuma bilang : Sori sori sori jek! Wkwkwkwkwk...

Kembali ke rasa iri tadi. Ini adalah aspek penunjang untuk membuat rasa PD kita dalam menulis meningkat lho. Ceile! Teori siapa noh? Teori aku sendirilaaah! Hahahahaa...Setelah beberapa tahun menekuni tulis-menulis di ranah internet ini, aku menemukan ternyata suka saja tidak cukup. Harus ada cemeti yang memecut berlabel IRI. Plis, iri bukan dengki, lho! Iri itu ingin menjadi seperti (teori siapa lagi ini? ya masih teorikulaaah!). Kalau dengki itu cenderung jahat dan ingin orang yang didengkiin (kembali bahasa yang aneh) untuk jatuh atau celaka. Wadaww, aku belum sampai ke taraf itu sih jahatnya. Mudah-mudahan nggak pernah sampai ke sana. Amiiin....

Jadi tersebutlah seorang penulis novel. Kategori tulisannya aku masukin ke chicklit, karena menurutku tulisannya memang chicklit banget, walaupun beberapa resensi mengatakan dia adalah seorang sastrawati. Dia seumuran denganku. Dengan pengalaman yang nggak jauh-jauh beda denganku. Novelnya aku beli beberapa kali, berharap dapat sebuah kemajuan dari tulisan-tulisannya. Ukuran kemajuannya siapa yang bikin? Ya aku doong, kan aku yang baca. Wkwkwkwk...Tapi ternyata eh ternyata, kok dia ini kayak keasyikan narsis sendiri, kisah hidupnya dibuat novel dengan diganti nama tokohnya aja? Aaaah, aku jadi iriiii. Kalau cuma begitu aku juga bisa kayanya. Hahahaaa...sotoy!

Berbekal rasa jumawa itu, aku coba mulai-mulai menulis fiksi berdasarkan pengalaman pribadi. Eh, eh, eh...tidak mudah! Tidak sama sekali! Walaupun iya, awal, klimaks dan ending cerita sudah tahu. Karakter tokoh sudah jelas terbentuk dalam benak. Konflik sudah ada, tinggal dituliskan sedramatis mungkin. Tetap semuanya butuh proses. Nggak bisa ujug-ujug jadi novel kayak yang dia tulis. Hohohhooo...sotoy sih lo! Wkwkwkwk...

Akhirnya nggak jadi jumawa. Malah manggut-manggut paham. Ya ya ya, ternyata menerbitkan buku itu tidak mudah. Bahkan secara indie sekalipun. Tanggungjawab moral terhadap kepuasan bathin sendiri, itulah yang berbicara paling banyak. Sadar dong ah, siapa kamu? Baru nulis iseng-iseng aja selama tiga tahun, udah mikir mau bikin buku? Ehm, saya emak-emak sih, tapi cita-cita setinggi langit emang. Wkwkwkwk...boleh dong?

Kembali lagi ke tahap awal. Iri aja dulu. Sambil mengamati, belajar, banyak membaca. Pokoknya usaha terus. Ah, masa sih suatu saat nggak kesampaian itu cita-cita setinggi langit itu? Jangankan langit, bulan aja orang udah bisa sampai ke sana. Ya toh? Toh ya....

Intinya, jangan putus asalah. Wuahh, bukan aku banget kalau itu sih. Hihihihi...Oh, satu lagi modal tambahan untuk PD menulis ternyata NGGAK TAU MALU! Wkwkwkwk, teori siapa itu? Silahkan jawab sendiri...Aku jawab juga deh : ya teori akulaaah! Hahahahaa...Maksudnya nggak tahu malu itu bukan nggak tahu diri ya. Maksudnya jangan malu-malu menunjukkan hasil karya, dan jangan juga takut-takut kalau kena kritik pedas. Tulisan kalau nggak ada yang baca, ya bukan tulisan dong namanya. Cuma sekumpulan huruf terangkai menjadi kata dan kalimat yang teronggok di atas kertas atau dalam file komputer, bukan? Jadi, silahkan aja nggak tahu malu, publish tulisanmu di mana-mana. Resiko kena ejek dan hina pasti ada. Salah sendiri nggak tahu malu! Hahahaha...Nggak apa-apa...Bahkan katanya temanku, si Stephen Kings itu baru bisa menerbitkan bukunya setelah berpuluh-puluh naskah ditolak oleh penerbit. Sementara itu dia tetap menulis 1500 kata per hari. Luar biasa! Stephen Kings lho, weitjee...Keren deh lo! :)

Jadi hari ini membahas tentang seputar modal PD untuk menulisku dulu ya! Inga-inga :
*SUKA
*IRI
*NGGAK TAU MALU

Sip? Sip dong deh! :)

Peringatan keras : teori yang ada dalam tulisan ini belum terbukti keabsahannya. Apabila ada yang mengaplikasikannya dan ternyata gagal, saya tidak bertanggungjawab! Wkwkwkwk....

Sabtu, 09 Oktober 2010

Perjalanan Menulisku: Chatting Is Also Writing (#3)

  5 comments    
categories: ,
Melanjutkan kisah si orang tak terkenal ini. Coba-coba merangkai memori masa lalu tentang kejadian-kejadian dalam hidupku yang berhubungan dengan kesenangan menulisku. Mudah-mudahan otakku nggak nge-hang, soalnya flash back itu memang menyakitkan otak. Wkwkwkwk...males mikir.

Sepertinya setelah aku lulus kuliah dan mulai bekerja aku mulai bersahabat lagi dengan hobi lamaku itu. Bekerja sebagai resepsionis sebuah perusahaan asing ternyata banyak memberi waktu luang (terkadang). Ditambah lagi, kantorku sungguh sangat dermawan memberikan akses internet untuk resepsionisnya yang kurang kerjaan ini. Keberadaan komputer itu sebenarnya untuk menambah tugasku di front desk, karena aku kebanyakan bengong kayanya. Jadilah kami, aku dan rekanku, diberi tugas tambahan untuk membantu bagian finance menghitung beberapa pengeluaran operasional staff di kantor.

Norak dapet komputer lengkap dengan koneksi internet yang super duper cepat, siapa yang nggak girang mendadak? Wihhiii...hobi chatting makin menggila. YM terpasang setiap saat. Sayang waktu itu belum kenal sama Facebook atau Friendster. Kalau nggak bisa kebayang bagaimana kerja sudah mengganggu kegiatan berselancar di internet. Wkwkwkwkwk...

Saking asyiknya surfing-surfing internet saat kerja, aku lupa kalau kemampuan teknologiku menyedihkan. Suka asal klak-klik sana-sini kalau lihat yang menarik. Ada yang nawarin bisnis anu berpenghasilan besar menakjubkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, langsung aja klik. Ada gosip seputar artis yang judulnya 'ngajak' banget buat dibaca, langsung klik. Sampai akhirnya aku nggak tau kenapa, pop-up bermunculan tanpa ijin. Dan komputer nge-hang gak tau sebabnya. Panic attack! Kenapa nih kompie gue? Wkwkwkwkwk....

Akhirnya panggil teknisi IT di kantor, dan jederrrr...koneksi internet ke komputer ekeh diputus lho bo! Tegaaaa.....huhuhuhuuuuaaaa....Apa salahkuu? Aku kan cuma cari hiburan dan informasi dari aset yang tersedia di kantor? Masalah waktu, yang penting kan kerjaan beres? Ya kan? Ya nggak sih? Wkwkwkwkwk....

Gara-gara nggak ada lagi internet di kantor, akhirnya pulang kerja dibela-belain mampir ke warnet dulu untuk ngecek e-mail. Niatnya sih cuma ngecek e-mail aja, siapa tau ada tawaran kerja yang lebih baik, apa daya godaan untuk chatting lebih besar. Hahahaha....

Ngomong-ngomong chatting, kayanya udah berita basi ya kalau aku ketemu sama suamiku di chatroom? Wkwkwkwkwk....sudahlah, nggak usah dibahas. Kita kenalan dari chatting aja pokoknya. Bagiku sendiri, chatting is also writing. Nggak jarang hasil chattingan dengan teman-temanku aku save ke dalam file Word karena ada banyak informasi yang berguna di sana. Lagian, kalau dibaca-baca lagi, suka jadi ketawa-ketawa sendiri. Lumayan buat refresh mood. Itu masih aku lakukan sampai sekarang lho. Makanya folderku yang judulnya Mama di komputer rumah penuh sama file yang nama-namanya :
ceting sama si anu (tanggal)
ceting sama orang gila (tanggal)
nyesel gw ceting sama si onyon gila ini (tanggal)
sekilas ceting sama pervert (tanggal--->>kalau ini mah gak sengaja ketemu di chatroom global, wkwkwkwk....
dan file ceting-ceting lainnya.

Kesimpulan sementara : chatting adalah kegiatan menulis juga. Masih belum menjawab pertanyaan awal juga? Sabar aja deh. Ntar juga sampai di sana, kalo gak banjir, mogok atau macet. Hahahaaa....

Jumat, 08 Oktober 2010

Perjalanan Menulisku: Perkenalan Dengan Internet (#2)

  6 comments    
categories: ,
Mari kita lanjutkan kisah perjalanan menulis si orang tidak terkenal ini. Hahahahaa...

Sampai di mana ya kemaren? Oh, iya..aku memanipulasi diary-ku biar Mamaku nggak ribet lagi sama temen-temen cowokku ya? Wkwkwkwk....

Itu masa di SMA. Beranjak pindah ke Bandung untuk kuliah, makin nggak punya waktu buat nulis, bahkan untuk diary sekalipun. Terlalu senang karena akhirnya bisa keluar dari rumah dan kuliah di kota idaman. Wuaaah, keasyikan gaul sama teman-teman. Lama juga aku nggak nulis-nulis. Apalagi jaman itu (sekitar tahun 1995-2000) internet belum begitu booming kayak sekarang. Udah ada sih, tapi aku juga terlalu sibuk main sehingga ke warnet itu cuma kalau ada tugas kuliah yang perlu di-print.

Ngomong-ngomong soal internet, aku juga punya cerita lucu nih. Hihihihi...*lah, ketawa duluan?*

Ceritanya adik perempuanku sudah ada di Amerika untuk kuliah dan dia udah akrab banget sama yang namanya internet. Trus dia bilang mau kirim e-mail aja, karena lebih cepat dan gampang dibanding kirim surat lewat pos. Dia minta supaya aku bikin e-mail. E-mail? What the heck is that? Pikirku waktu itu. Akhirnya dengan sedikit sotoy dan membawa bekal gengsi yang agak banyak, aku ke warnet yang agak jauh dari kampus. Tujuannya supaya kalau sampai malu-maluin, aku nggak perlu balik lagi ke warnet itu. Hahahaha....

Aku pergi berdua dengan sahabatku. Sama-sama buta soal internet dan sama-sama sotoy tapi sama-sama penasaran dan jangan lupa, sama-sama gengsian. Sampai di sana kami menyusun kata demikian rupa agar tidak terdengar terlalu bloon untuk minta tolong sama si mas-mas penjaga warnet.

"Mas, kita mau bikin e-mail, bisa bantuin nggak?"
"Oh, bisa. Mau pakai apa? Hotmail apa Yahoo?"
"Apa aja deh, yang paling bagus dan murah aja"
Dari sana kebodohan sudah terlihat. Paling murah? Wuakakakaaak...sudahlah. Mari kita teruskan.
"Sama aja kok, mbak. Nggak ada yang lebih mahal atau lebih murah. Kan daftarnya gratis."
"Ooo, ya udah. Tolong dong"
"Pake Yahoo aja ya?"
"OK"
"Isi aja dulu formulirnya. Data-datanya juga"
Beberapa menit kemudian...
"Mas, ID-nya apa ya?"
"Ya, terserah mbak. Mau pake nama sendiri atau nama samaran juga boleh."
"Oh, gitu..."
Semenit kemudian...
"Mas, passwordnya apa ya?"
"Lho, ya terserah Mbak juga. Jangan sampai orang lain tau password e-mail Mbak, nanti ada yang masuk kan gawat!"
"Iya ya..." (dengan nada sok ngerti dan manggut-manggut).
Beberapa menit kemudian...
"Mas, udah nih Mas. Trus gimana lagi?"
"Ya, udah selesai. Sekarang Mbak bisa kirim e-mail ke teman-teman Mbak."
"Lho, alamat e-mailnya mana? Kok nggak dikasih tau?"
Dueng! Aku sih udah lupa (ingin melupakan, tepatnya) gimana tampang si mas-mas penjaga warnet itu. Untung udah lupa. Kalau nggak, entah bagaimana aku bisa melanjutkan hidup setelah kejadian itu. Sungguh lebay...

Seminggu kemudian, setelah tanya-tanya tanpa gengsi sama adikku di Amerika tentang e-mail yang membingungkan itu, akhirnya kuputuskan untuk tidak akan kembali ke warnet itu lagi untuk selamanya. Mualuuuuu!!!! Wkwkwkwk....

Wedeh, perkenalan dengan internet itu memang akhirnya membuka cakrawala banget ya. Dari nggak minat duduk lama-lama depan komputer sampai akhirnya rela ngutang buat bayar warnet. Hahahaa....

Chatting adalah spesialisasiku. Entah kenapa, kalau udah dapet temen ngobrol di chatroom, teman-teman baruku itu suka lama-lama ngalor ngidul sama aku. Katanya aku kocak. Hahahahaa, belum ketemu langsung aja. Pasti tambah ngakak liat tampangku. Kekekekek....
Intinya, untung ada internet. Gitu aja dulu kesimpulannya sementara ini. Masih belum menjawab pertanyaan juga kenapa aku menulis tentang perjalanan menulisku, ya? Ntar aja ya? Udah kepanjangan juga ini.

Kamis, 07 Oktober 2010

Perjalanan Menulisku: Sebuah Awal Yang Tidak Baik (#1)

  12 comments    
categories: ,
Hari ini tiba-tiba terlintas untuk menulis tentang perjalanan menulisku. Duh, sok banget yeee? Hehehehe...Bukaaan, bukan karena merasa udah gimana trus aku merasa wajib membuat sebuah memoar diri layaknya tante Titik Puspa dan mbak KD itu. Itu kan buat para fans mereka. Lah, kalau aku? Fans gak punya, artis juga bukan, suami juga bukan seleb, kayaknya tetep yang namanya popularitas itu adalah sesuatu yang hanya bisa kupandang-pandang aja dari jauh. Jadi kenapa dong, neng pake acara mau nulis tentang perjalanan menulis segala? Wkwkwkwk....Gini ya...jreeeng (makasih buat yang udah genjrengin gitarnya, efek dramatis mulai terasa nih).

Aku mulai menulis puisi itu kalau nggak salah waktu masih SD. Masih inget banget Tanteku yang pemain teater itu pernah membawa aku ke komunitasnya dan memperkenalkan aku ke sutradaranya. Entah apa hubungannya, yang pasti Tanteku bilang, aku berbakat dan dia memperlihatkan beberapa puisiku ke om sutradara itu. Waktu itu aku juga nggak ngerti apa hubungannya puisiku dengan dunia seni peran yang digelutinya. Yah, namanya anak masih umur 8 tahun.

Bertahun-tahun kemudian, saat aku duduk di bangku SMA, guru Bahasa Indonesia-ku memberi tugas membuat sebuah cerpen. Entah kenapa, aku merasa mendapat sebuah kado istimewa dan bukannya tugas yang nyebelin saat itu. Jarang sekali Ibu Guruku itu memberi tugas bebas seperti itu. Tapi karena memang sebelumnya belum pernah membuat satu cerpen-pun seumur hidup, tugas itu juga berakhir dengan nilai biasa-biasa aja. Jujur aku harus mengakui kalau hobiku menulis puisi saat aku kecil memang mengendor begitu aku beranjak ABG. Maklum deh, keasyikan main dan kebanyakan tugas sekolah. Walaupun begitu aku selalu sempatkan untuk menulis diary setiap hari.

Ngomong-ngomong tentang diary, aku punya kisah lucu yang kayaknya ternyata adalah awal dari ketertarikanku akan dunia fiksi (dalam tulisan). Mamaku itu orangnya mau tauuu aja. Aku nggak berani bilang kalau beliau itu curigaan, takut kualat. Lagian aku kan sekarang udah jadi seorang Ibu juga, jadi sedikitnya juga udah mulai bisa merasakan bagaimana was-wasnya menjaga anak, terutama anak gadis. Jadi si Mama itu tahu kalau aku suka nulis diary. Suatu saat kalau dilihatnya ada anak laki-laki yang mulai sering datang ke rumah, Mama akan mencari tahu tentang hubunganku dengannya. Awalnya memang lewat wawancara langsung denganku. Tapi nggak mungkinlah aku ceritain semuanya. Hahaha...tipikal ABG lah. Jadi sepertinya Mama masih belum puas, dan pada akhirnya sering sekali aku menemukan diary-ku sudah berpindah tempat. Terakhir kusimpan di laci meja belajar, tahu-tahu besoknya pulang sekolah aku menemukannya di dalam lemari. Wkwkwkwk...Sebel? Iyaaalaaah! Banget! Tapi mau marah sama Mamaku juga nggak berani. Kejadian itu berulang beberapa kali. Padahal aku sudah siasati dengan mengganti diary yang memakai gembok kecil (tau kan? pasti pada punya juga deh! hehehehe). Aku kasih tau aja ya sekarang, gembok diary itu adalah gembok yang paling gampang untuk dicongkel tanpa merusaknya. Hahahaa...Bagaimana aku bisa tahu kalau Mamaku sudah mencongkel-congkel gembok diaryku? Soalnya Mamaku itu kalau habis baca diaryku dan menemukan sesuatu yang kurang sreg di hatinya, pasti langsung ngomong sama aku. Dooh, tau darimana lagi kalau bukan dari baca diaryku? Wkwkwkwk...

Dua buah diary tebal sudah penuh dengan tulisan-tulisan keluh-kesah dan cinta-cinta monyet jaman sekolahku. Sampai akhirnya aku betul-betul punya pacar. Wah, bisa kacau kalau si Mama sampai tahu segala sesuatu tentang pacaranku sama dia. Kan aku maluuu!! Nggak tahu kenapa, aku nggak tahan aja membayangkan Mamaku membaca kalimat begini :
"Malam ini aku kangen banget sama kamu. Padahal tadi kita kan abis makan bareng di Mall, ya sayang?" Wuakakakakaaak...Belum lagi, bisa pergi ke Mall sepulang dari sekolah itu kan hasil dari berbohong ke Mama bilang ada tugas kelompok. Waduh, bisa kena omeeel!!!
Dan akhirnya aku menemukan sebuah solusi yang menurutku brilian (untuk ukuran otakku). Diary-ku berubah menjadi ajang menulis fiksi. Apa yang kutulis bukanlah kejadian yang sesungguhnya, melainkan kejadian atau sesuatu hal yang Mamaku ingin baca. "Horee, ulangan kimia dapet 90!" atau "Capek banget sekolah, tugas menumpuk. Harus cari-cari bahan di perpus sampe siang. Jadi pulang telat terus deh!". Dan sejak saat itu aku tidak pernah menggembok diaryku lagi. Kutaruh dengan indahnya di atas meja belajar. Aku justru berharap Mamaku akan membacanya. Wkwkwkwk..bandel yah?

Tapi itu dulu koook! Sekarang udah nggak lagi. Udah nggak separah dulu, maksudnya. Hahahaha....Kesimpulannya (sementara): kurasa momen itu adalah momen pertemuanku dengan dunia fiksi yang saat ini sedang aku jatuhi cinta (bahasa yang aneh) setengah mati. Kemampuanku memanipulasi pembaca melalui kata-kata dan khayalanku terasah sejak saat itu. Wkwwkwkwkwk...Kesimpulan asal, biarin deh!

Lah? Kok udah panjang aja? Padahal tadi niatnya mau bikin postingan ini jadi satu artikel aja. Dan lagi, belum menjawab pertanyaan awal, kenapa aku harus menulis tentang perjalanan menulisku. Ya sudah, bersambung aja ya. Wkwwkwkwk...

Berhubung tulisan ini berbau-bau pengakuan dosa, makanya aku posting di sini, Cil. Soalnya di sini sepi. Hihihihi....