Sabtu, 21 April 2012

Apa Gunanya Ngerayain Ini Itu?

  6 comments    
categories: 
Image from www.teammatesmentoringprogram.wordpress.com

Kayanya saya pernah bikin postingan yang bilang kalau saya ini penggemar berat segala rupa bentuk perayaan, ya? Tapi lupa di mana. Hihihihihi… Tapi itu bener, kok. Saya ini nge-fans banget sama yang namanya perayaan. Ulang tahun, hari raya, hari kemerdekaan, hari-hari besar nasional atau agama, semuanya sudah menyumbang banyak kenangan dalam memori masa kecil saya hingga saat ini.

Saya masih ingat dulu bagaimana ibu saya heboh dandanin saya waktu di sekolah ada acara karnaval baju tradisional untuk merayakan Hari Kartini. Saya masih ingat bagaimana dulu saya sumringah sekali menang lomba makan kerupuk di perayaan kemerdekaan kita, padahal hadiahnya cuma dua buah buku tulis gambar Eva Arnaz di depannya. Saya masih ingat juga bagaimana saya tersipu-sipu saat menerima sebuah Valentine’s card dari seorang teman laki-laki saya jaman masih ABG dulu (ngok!). Dan memori paling menyenangkan bagi saya itu adalah saat saya dan saudara-saudara saya menerima salam tempel setiap lebaran. Rasanya itu….mendadak tajir. Hahahahaa….


Hari ini, 21 April 2012. Saya bukannya tidak tahu kalau hari ini adalah Hari Kartini. Sempat beberapa tahun saya absen merayakannya (dalam arti kata, ikut-ikut pakai kebaya dan kondean kayak waktu masih kecil dulu). Terakhir saya merayakannya adalah di sekolah TK anak saya empat tahun yang lalu. Saya dan anak saya ikut karnaval ibu dan anak. Kami berdua memakai pakaian tradisional Dayak waktu itu. Saya senang, karena saya bisa menyumbangkan memori menyenangkan untuk anak saya sehubungan dengan merayakan Hari Kartini.

Makanya saya jadi suka sedih aja kalau ada yang mempertanyakan, apa gunanya segala rupa perayaan ini? Hari ini pun tidak luput dari pertanyaan sinis seperti itu di tempat-tempat saya berinteraksi (uumm, mostly ya di Facebook sama Twitter sih….hihihihi…). 

“Ngapain Kartinian, repot-repot pake konde, tapi gak kenal sama perjuangan Kartini?”

“Lo itu pada ngapain sih, ngomongin emansipasi segala macem, ngerayain hari Kartini, bela-belain pake sanggul kebaya, cuma sekali setahun?”

Uwuwuwuww, emang kalau kata orang pinter, jangan melakukan sesuatu yang kita tidak memahami sepenuhnya. Sama seperti merayakan Hari Kartini ini. Sekarang, setelah saya umur segini, rasanya memang pantes-pantesnya saya mengenal lebih dalam tentang Kartini. Tentang bagaimana ceritanya hingga beliau bisa dianggap sebagai pahlawan nasional. Tentang bagaimana bisa akhirnya kita berakhir dengan sebuah tanggal yang sepertinya ‘wajib’ untuk dirayakan. 

Ini sih saya mau ngomongin semua perayaan, nggak cuma Hari Kartini aja. Perayaan buat saya pribadi adalah momentum, dengan makna yang berbeda ketika dulu saya masih kecil dan sekarang setelah pemahaman saya berkembang. Perayaan untuk saya di masa kecil adalah kesenangan, keceriaan dan kebahagiaan bersama orang-orang yang saya sayangi. Dalam prosesnya perasaan-perasaan itulah yang akhirnya menjelma menjadi sebuah kenangan indah dalam memori saya. Perayaan bagi saya sekarang ini adalah sebuah pengingat. 

Lebaran perlu dirayakan, karena pada hari itu kita diingatkan untuk melanjutkan amalan sholeh yang sudah kita bangun selama bulan Ramadhan sebelumnya. Lalu muncul ucapan sinis, “Puasa sebulan, lebaran makan langsung nggak dikontrol, abis itu maksiat lagi. Ngapain ngerayain lebaran?” Ngerayain aja suka banyak yang lupa, apalagi kalau nggak dirayain? Hihihihi…

Hari kemerdekaan perlu dirayakan, karena pada hari itu kita diingatkan kalau dulu banyak pendahulu kita gugur untuk bisa membebaskan diri dari penjajahan dan kita diingatkan juga untuk berusaha menjadi warga negara yang berguna. Lalu muncul ucapan sinis, “Merdeka nggak merdeka sama aja! Upacara bendera cuma pajangan! Pada ngerti nggak sih merdeka itu apaan?” Dirayain aja pada males buat mikir untuk mengisi kemerdekaan, apalagi kalau nggak dirayain? Hihihihi…

Pada akhirnya, yang sinis dan hanya bisa melihat dari sudut sempit akan selalu ada. Tapi rasanya jadi kasihan, saat sebenarnya ada sudut yang lebih luas dan lega untuk memandang manfaat dari perayaan-perayaan ini dibanding hanya melihatnya sebagai sebuah kesia-siaan. Saya jadi membayangkan bagaimana hari-hari saya jika tak ada perayaan sama sekali. Terlebih dari itu, saya jadi sedih juga, akan lebih sulit bagi para orang tua untuk menciptakan memori-memori indah dalam benak anak-anaknya tanpa adanya momentum perayaan ini. Dan bagi kita yang sudah dewasa dan (katanya) sudah paham dan berproses, kita akan kehilangan momentum untuk menyikapi apa yang terjadi di sekitar kita. Harus diakui kan, kita ini manusia biasa, diingetin aja suka lupa, apalagi kalau dicuekin. 

So my friends, ini pilihan. Saya memilih untuk ikut merayakan momentum sesuai dengan kadar kedewasaan saya, secukupnya. Hari-hari istimewa itu terpilih karena memang mereka istimewa, manfaatkan saja sebagai ajang pengingat dan hari untuk merenung agar bisa jadi manusia yang lebih baik lagi. Toh, kalau mau mengeluh, sinis dan skeptis nggak perlu ada hari khusus untuk melakukannya kan? Atau apa perlu kita tentukan satu hari sebagai Hari Sinis Nasional? Biar hari-hari perayaan yang lain tidak jadi korban? Wkwkwkwkwk…. 
Katanya sih, hari ini Hari Kartini, harinya perempuan Indonesia. Harinya perempuan Indonesia untuk ngapain? Yok, kita pikirin sama-sama hari ini, perempuan Indonesia mau ngapain biar bermanfaat. Mumpung ada moment untuk mikirinnya hari ini. ;) (image from www.mac.gadgetsfolder.com)

6 komentar:

  1. di hari kartini ini kita diingatkan untuk selalumengingat jasa kartini, kaitannay dengan emansipasi tapi jangan lupa juga sebagai kodrat wanita ya:)

    BalasHapus
  2. wah mbak lidya rajin amat pertamax ya...hihihihihi

    iya, tiap orang mungkin akan beda2 menyikapi perayaan2 ini ya mbak.....sesuai kadar pemahamannya mungkin... ;)

    BalasHapus
  3. hari sinis nasional.....? hehe, kira2 pas nya jatuh di bulan apa ya mbak....?

    eh iya, sekarang ini masih ada ngga ya buku tulis bergambar eva arnas.....hihihi.....jadi inget jaman saya SD nih mbak

    BalasHapus
  4. Ngerayain monggo, nggak ngerayain juga bagus. Ga ngaruh sebetulnya hahahahahaaaa... Ouw ngaruh buat pemilik salon dan penjual kebaya/baju daerah :))))

    BalasHapus
  5. Mami Zidane:
    hahahaaa, dulu kalo gk eva arnasz, atau gk sally marcelina ya mbak...wkwkwkwkwkwk

    G:
    dipilih dipilih dipilih...
    gw mah milih nontonin aja sekarang...mungkin 2 tahun lagi kebagian ikut karnaval lagi bareng nana...hahahahaa.....
    kalo skrg ini pengennya ngerayain hari kartini dgn baca bukunya, tapi bisa dapet di mana ya? rumor has it, she doesn't deserve any of this... ;)

    BalasHapus
  6. Yep.... :))) smoga suatu hari nanti sejarah bisa jadi lebih proporsional, huehuehue... Ntah kapan. Kecurigaannya kan surat2nya sudah ditulis ulang sama Ny.Abendanon itu, secara, konon, ga pernah ditunjukkan bukti nyata surat2 aslinya. Yg pasti sih, nggak seperti pejuang2 perempuan lain yg bener2 anti dan melawan Belanda (secara fisik pulak), dia kan temenan sama mereka (^^,)

    BalasHapus