Senin, 03 Desember 2012

Review Novel A Love at First Sight (2012 End of Year Book Contest)

  9 comments    
categories: ,
Judul:            A Love at First Sight (Cinta pada Pandangan Pertama)
Pengarang:   Jennifer E. Smith
Penerjemah: Linda Boentaram
Penerbit:      Qanita, PT. Mizan Pustaka
Tebal:          316 halaman


Blurb:

Hadley Sullivan seperti mengalami mimpi buruk saat dia ketinggalan pesawat ke London. Tapi Oliver, cowok Inggris keren, mengubah kesialan Hadley menjadi sebuah kisah romantis. Mereka bertemu di bandara, secara kebetulan duduk bersebelahan dalam penerbangan susulan Hadley. Dimulailah bincang-bincang yang langsung mendekatkan keduanya; Dickens, kue pretzel, awan kumulus hingga pernikahan.

Setibanya di London, keduanya terpisah satu sama lain. Namun Hadley telah merindukan Oliver dan bertekad untuk mencari cowok itu. Permasalahannya, London bukanlah kota kecil, terlebih bertualang dengan kereta bawah tanah dan menyusuri gang-gang tua tak dikenal bukanlah keahlian Hadley. Berhasilkah Hadley menemukan cinta pertamanya?



Review si Emak:

Kisah yang berangkat dari ide paling klise dari sederet ide brilian untuk genre romance bukan berarti akan berakhir klise juga, ternyata. Jennifer E. Smith berhasil membuat rasa malas-malasan saya saat membuka halaman pertama novel ini menjadi sebuah cengiran lebar karena mendapatkan banyak pelajaran berharga dari caranya menuturkan kisah cinta klisenya ini.

Banyak penulis genre romance memakai tool "narasi" untuk menjelaskan berbagai aspek dalam ceritanya. Menjelaskan setting memakai narasi. Menjelaskan latar tokoh utama cerita memakai narasi. Menjelaskan sebuah tempat dan kejadian memakai narasi. Belum lagi, agak jarang juga cerita romance yang memakai point of view orang ke-3 seperti novel ini. OK, ini saya bicara novel roman yang ditulis oleh penulis Indonesia memang, yang lebih suka memakai POV orang pertama (aku) dalam menuturkan cerita. Ini memang hanya masalah preferensi saja sebenarnya, saya lebih menyukai cerita yang bertutur melalui POV orang ketiga.

Kembali ke soal narasi dan menjelaskan aspek-aspek cerita tadi, Jennifer memanfaatkan semua tools yang ada sebagai alat untuk menjelaskan sesuatu. Melalui dialog dia berhasil menggambarkan karakter Hadley yang skeptis dan Oliver yang ceria dan penuh perhatian. Melalui dialog juga Jennifer berhasil menggambarkan latar belakang keadaan Hadley dan keluarganya. Selain lewat dialog, permainan plot juga menjadi modal Jennifer dalam menjelaskan kejadian-kejadian terkait yang terjadi di masa lalu Hadley. Kenangan-kenangan romantis Hadley dengan sang ayah yang akan menikah lagi masuk melalui plot yang sedang terjadi. Saya suka dengan keliahaiannya memindahkan kejadian dari present to past yang tidak terasa ada "gap" atau dipaksakan. Contohnya, saat Hadley memegang buku Charles Dickens yang berjudul A Mutual Friend di tangannya, angannya berkelana ke masa lalu saat sang ayah menghadiahkan buku tersebut untuknya. Dari kenangan itu, saya jadi tahu bahwa ayah Hadley ternyata orang yang sulit mengungkapkan perasaannya. Ketika Hadley tersadar kembali dari angannya, saya juga seperti kembali tersadar, "Oh iya, tadi kan dia lagi megang buku itu..." Ciamiklah, luwes banget kalau kata sayah.:)

Apa yang paling saya suka dari novel ini? Selain kelihaian Jennifer memainkan dialog dan plot sebagai tools pencerita dengan maksimal, saya suka gaya bahasa yang simple dan tidak berbunga-bunga. Cenderung realistis dan sesuai dengan usia karakter tokoh utamanya yang masih remaja. Uuum, saya suka agak terganggu soalnya kalau baca novel romance, apalagi yang tokohnya masih remaja, tapi bahasa percakapan mereka berbunga-bunga dan maksa banget supaya kedengeran romantis. Ihiks. Bukannya nggak boleh atau nggak bagus, sih. Cumaaa, kalau di penggambaran karakter tokoh utamanya tengil, rasanya aneh kalau sampai bisa ngomong, "Bunga mawar merah tak beraroma ini sepert hatiku tanpamu yang terus..bla..bla...bla..." Hedeeeh...-_-

Ending ceritanya sendiri sih ya bisa ditebaklah. Tapi siapa sih yang pengen sad ending untuk novel se-cute ini? I mean, lihat aja covernya yang pinky unyu begitu dan judulnya yang udah manis banget. Hihihihi... Tapi happy ending pun bisa gagal lho kalau digambarkan dengan lebay dan norak. Untungnya, endingnya novel ini stays cute, as cute as the cover. :D

Excerpt:

"Cinta adalah hal paling aneh dan tidak masuk akal di dunia."
"Aku bukan bicara tentang cinta," ujar Hadley bersikeras. "Aku bicara soal pernikahan."
Mom mengangkat bahu. "Itu'" katanya, "lebih parah lagi."

2012 End of Year Book Contest


(Review diikutkan dalam "2012 End of Year Book Contest")

9 komentar:

  1. wah akhirnya tayang jg...sdh mefet kan...mudah2an menang mak :)

    BalasHapus
  2. good luck ya mbak winda, aku suka nih bawa reviewnya

    BalasHapus
  3. uwihhh..semoga menang ya mbk winda :D

    BalasHapus
  4. Saya jarang sekali menemui perempuan yang suka membaca karya sastra. Semoga resensinya menang ya mbak? salam kenal:) mampir ya?

    BalasHapus
  5. kata temen2 novel luar emank keren-keren katanya...wahhh pengen nyoba baca juga niii...maklum suka yang lokal-lokal mba. hehe

    BalasHapus
  6. Hmm... itu dia, novel2 luar mmg udah gape banget teknik storytelling-nya. Bisa banyak belajar dari mereka ;)

    BalasHapus
  7. dah lama gaj baca novel romantis...btw, semoga sukses kontesnya , mau ngintip juga akh ke tkp yang puny ahajatan kontes hehehe

    BalasHapus
  8. Kalo liat premisnya emang menarik..
    Tapi jarang ada karya lokal yg eksekusi ceritanya bikin premis jadi lebih hidup dan menarik. Kalo liat dari reviewnya bagus nih kayaknya.. :D

    Makasih ya uda berpartisipasi dlm 2012 End of Year Book Contest :D

    BalasHapus