Jumat, 27 Februari 2015

Lingkungan Bilingual Sejak Bayi

  40 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Setelah sharing tentang raising bilingual kid di sini dan sini, banyak teman yang nanya-nanya seputar gimana sih ngajarin anak bilingual di rumah? Apa orang tuanya harus jago banget ngomong bahasa asing? Apa semua anak bakalan bisa dapat hasil yang serupa?




Baeklah, mari kita kupas dari kecemete emak-emak yang sudah menjalankan program bilingual di rumah selama hampir 10 tahun terakhir ini. Sebelum ada yang nyinyir ini anu itu ono segala rupa, tentu saja ini cuma sharing pengalaman aja. Bukan terus ini bisa jadi bahan acuan, apalagi pegangan kayak artikel-artikel parenting dari pakar tumbuh kembang anak, yaa. Walaupun saya menjalankan program bilingual di rumah juga hasil dari kepo baca banyak artikel parenting. Tapi aplikasinya menyesuaikan sama kondisi dan kemampuan saya dan anak.

First of all, ini yang paling penting sebelum set-up bilingual environment untuk anak di rumah: tujuannya apa? Saya pribadi, punya beberapa goal dengan menjalankan program bilingual di rumah. Pertama, memudahkan komunikasi anak-anak saya yang tinggal di Indonesia dengan para sepupunya yang sebagian besar tinggal di luar negeri. Kasihan, kalau udah gede-gede nanti, harusnya bisa seru-seruan bareng, tapi terkendala bahasa. Kedua, dengan memilih bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di rumah, saya berharap anak-anak kelak mendapat beberapa kemudahan dalam mengakses pendidikan yang tidak terbatas lokasi dan bahasa. Mereka akan punya lebih banyak pilihan nantinya. Sebab gak sedikit saya dengar, "Pengen kuliah di luar negeri, tapi bahasa Inggrisku jeblok." Duh, sayang banget. Padahal, kalau dibiasakan berbahasa Inggris sejak kecil, halangan bahasa bisa dilewati, jadi bisa fokus ke masalah lain. Biaya misalnya. Wkwkwkwk. Gue banget. Yang penting niat, biar pun budgetnya belum ada juga. :')

Terus hal penting lainnya adalah: jangan berharap hasil instan. Nggak ada yang namanya anak langsung bisa cas cis cus (baik itu pakai bahasa ibu atau bahasa asing). Semua berproses dan hasilnya tergantung disiplin dan konsistensi. Jadi, kalau ngobrol cuma sekali seminggu pakai bahasa Inggris dan sisanya pakai bahasa Indonesia, ya pasti bahasa Indonesianya lebih bagus. Begitu juga kebalikannya. 

Yang ketiga, mulailah sejak dini. Nah, ini kadang masih ada pro-kontra di kalangan orang tua dan pakar. Katanya, kalau masih kecil jangan bilingual dulu, sebaiknya bahasa ibu dikuasai dulu supaya nanti gak bingung anaknya. Saya mau jelasin panjang-panjang juga gak PD kaena bukan pakar anak. Tapi yang terjadi sama anak-anak saya alhamdulillah, nggak ngalamin yang namanya delay speech atau terlambat bicara. Padahal memakai dua bahasa di rumah kami lakukan sejak mereka lahir. Memang ada beberapa masalah kecil, seperti kosa kata yang lebih terbatas dibanding anak-anak seusia mereka, tapi bisa diakalin dengan cara lain, kok. 


Ngomong soal aplikasi bilingual ke anak bayi, jangan ngebayangin kayak apaan ya bahasa asing (Inggris) yang saya pakai ke mereka. Waduh, saya juga gak jago-jago amat ngemeng wasweswos. Bukan apa-apa, mulut suka pegel. Btw, sebelum lebih jauh bahas ini, saya mau garis bawahi satu hal: bahasa ibu dan bahasa kedua di keluarga kami berimbang, karena kami bagi tugas. Jadi jangan nganggep kita keluarga song nginggris, trus gak cinta bahasa Indonesia, ya. Balik lagi ke tujuan awal, soalnya. Masing-masing keluarga punya tujuan berbeda dalam mendidik anak-anaknya. 

Kalau bahasa Indonesia, karena kita tinggal di Bekasi, otomatis lingkungan sudah mendukung. Keluar rumah, orang-orang bicara pakai bahasa Indonesia. Ke rumah nenek/kakek, mereka juga komunikasi pakai bahasa Indonesia. Di sekolah, guru dan teman-teman pun biasanya berbahasa Indonesia. Makanya saya lebih concern untuk menumbuhkan percaya diri anak-anak dalam berbahasa Inggris. 


Ini beberapa kata bahasa Inggris yang konsisten saya ucapkan ke anak-anak waktu mereka masih bayi. Mereka nggak bisa mengucapkannya, tapi saya yakin banget mereka mendengar dan mengingat. Makanya, tiap hari saya ngemeng aja sama mereka. 

1. Sapaan sehari-hari: Good morning, good night, how are you, hello.
2. Ungkapan sayang dan pujian: I love you, good job, excellent.
3. Ungkapan sopan-santun: thank you, excuse me, please.
4. Ungkapan penyemangat: let's go, you can do it.

Selama hampir dua tahun, kata-kata tersebut yang selalu saya ucapkan ke anak-anak setiap hari. Komunikasi masih satu arah, soalnya mereka juga baru bisa ngomong, "Baaa ... baaa ... baaa ...," terus pup. -_-

Ngajarin nama binatang, warna dan nama-nama benda sekitar gak? Waduh, itu mah kalo inget aja. Hahahaha. Ntar-ntar aja deh. Kadang kalo lagi inget dan gak males, suka juga ngenalin beberapa nama binatang, warna dan angka. Tapi gak tiap hari.

Anak-anak saya mulai lancar bicara sekitar usia 15 bulan. Dua tahun baru lancar banget. Dan mereka langsung bisa memakai ungkapan-ungkapan di atas dengan benar, yang selama ini hanya mereka dengar lewat saya sejak bayi. 

Apa hasilnya akan sama untuk semua anak? Mak, dua anak saya aja beda-beda. Si sulung sekarang lebih pasif berbahasa Inggris. Secara tulisan dia mengerti, tapi nggak terlalu minat untuk bicara bahasa asing. Dia lebih memilih komunikasi pakai bahasa Indonesia dengan kami. Nggak ada paksaan. Yang kecil, cewek, entah ngikut bawel emaknya atau emang udah bawaan orok, sejak bisa ngomong, cascescos banget pakai bahasa Inggris gak bisa berenti. -_- Si kecil ini keliatannya emang lebih verbal anaknya. Sampai pas umur baru 5 tahun, dia udah bisa ngarang cerita dalam bahasa Inggris. Sekarang hobinya, ngoceh ngasih tutorial main Minecraft. Pemahamannya dalam bahasa Indonesia gimana? Alhamdulillaah, baik-baik sajaa. Kan sekolahnya pakai bahasa Indonesia dan kalau ngomong sama bapake juga pake bahasa Indonesia. Sebisa mungkin berimbanglah. 


Nggak takut nanti anaknya suka nyampur-nyampur kata kalo ngomong? Macam Agnez mo atau Cinta Laura gitu? Hehehe. FYI, mencampur dua bahasa dalam satu kalimat itu bukan gaya-gayaan, bukan trend, dan bukan keren juga. Dan itu juga bukan cuma Agnez mo dan Cinta Laura doang yang begitu. Itu adalah masalah semua anak yang tumbuh dalam lingkungan bilingual. Gimana cara ngatasinnya? Kalau saya di rumah, karena anak-anak udah mulai gede, sudah bisa koreksi kalau mereka mulai campur-campur ngomong. Biasanya penyebabnya itu ya tadi, kosa katanya yang masih kurang. 

Intinya, saya lebih bersedia mendampingi dan membantu menyelesaikan "masalah-masalah" kecil mereka karena memakai dua bahasa, demi kebaikan mereka di masa depan. Ini saya ambil dari sebuah web tumbuh kembang anak:

Anak-anak yang mempelajari dua atau lebih bahasa kemungkinan memerlukan waktu lebih lama untuk mulai bisa bicara dan mengembangkan kemampuan bahasa yang menyeluruh. Tapi hasil akhirnya adalah mereka mengerti kebudayaannya sendiri, meningkatkan rasa percaya diri, rasa komunikasi yang lebih besar, dan bisa jadi mempunyai kemampuan berpikir yang lebih kompleks (Rosenberg, 2002)

Lebih awal anak belajar kedua bahasa, lebih mudah baginya untuk mempelajari masing-masing bahasa dan mendapatkan aksen yang alami. Semakin besar usia anak, semakin sulit baginya untuk menguasai bahasa tersebut dengan lancar.

Dari pada tiba-tiba mengajarkan dan berusaha membuat anak berbicara bahasa lain, lebih baik pelan-pelan memperkenalkan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan mencampurkannya dalam aktivitas harian.

Jadi, silakan setting goal keluarga masing-masing, sesuaikan dengan cara didik masing-masing dan konsisten. Semoga bermanfaat. :D

40 komentar:

  1. suka liat video Safrina mak ^_^ lancar ya bahasa inggrisnya

    anak2 memang seperti spons ya, menyerap dan belajar lebih cepat..

    belum bilingual di rumah, mau coba pelan2 ah, supaya ga bengong kalo ada yg ngomong bahasa inggris :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, anak2 itu keliatannya aja cuek gk dengerin, padahal mereka ngerekam semua yg mereka dengar dan lihat lho.. :)
      cobain aja, konsisten...

      Hapus
  2. Malu aku padamu mak..aku yg guru bhs.Inggris aja ga fokus program bilingual ... meskipun aku ga selalu ngomong bhs.Inggris ma ñadia tp sejak kecil ada ungkapan2 yg selalu kuulang..persis spt tipsmu td mak ..aku jg selalu tontonin kartun anak2 dlm bhs.Inggris spt barney..dora dll... dan hasilnya lumayan bgt.. ntar tiba2 nyeletuk aja gtu bbrp kalimat bahkan dgn pengucapan yg betul (mungkin karena denger langsung dr native ya)
    Thanks for sharing mak ..makin smangat memulai program bilingual..semoga blm terlambat ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha iya maak, dari dengar film di tv pronounciation mereka emang jadi kayak native...lebih bagus dari emak bapaknya malah...
      ayo dimulailah, apalagi guru bahasa inggris, aduuh sayang banget :)

      Hapus
  3. memang anak sepertikertas kosong cepat belajar yaa
    salam

    BalasHapus
  4. Tips nya manfaat banget, saia kok gk kepikiran yak ngajarin english hehe.lebih fokus ngajarin bahasa indonesia karena lingkungan yg cenderung menggunakan bahasa daerah. Cobain deh tipsnya habis ini.tenkyuuu ya mbak :)

    BalasHapus
  5. aduh aku seperti tertampar karena idealisme saat hamil mah: saya bahasa inggris, suami bahasa indonesia. kenyataannyaaa bubar jalan pas anak lahir. boro-boro inget ngomong pake bahasa apa, survive nggak ketiduran di kantor aja udah bagus huahahah

    mau dimulai ah ngomong bahasa inggris sama si bebe, nggak telat kan ya, dia sekarang 9 bulan.. :S

    BalasHapus
  6. makasih sharenya mak..pengen jg membiasakan english d rumah minimal yg basic da emaknya ga jago2 amat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sama maaak...mari kita sotoy wasweswos hahahahaa

      Hapus
  7. kalau mau mencoba bilingual di saat anak2 sudah SD, bisakah mak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa aja...yg jelas mungkin udah beda nerimanya anak-anak...tapi gak ada kata terlambat untuk belajar kaaan.. ;)

      Hapus
  8. Wah... bisa jadi plan pas mau punya anak entar :D

    BalasHapus
  9. aku mau bealajr ya sama Safina ,boleh yaaa

    BalasHapus
  10. terimakasih sharingnya mak :)
    jadi terinspirasi juga untuk memulai menggunakan dua bahasa dirumah.

    BalasHapus
  11. Mbak aku bangga banget sama dirimu. Komsistensimuuu.... *pasang iket kepala*
    Thanks for the tips anywaaay :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku yakin kamu sama adrian pasti bisaaaaa....semangat!!!

      Hapus
  12. ehm komen dua kali gpp kan hehe

    BalasHapus
  13. Udah lama pingin bikin program bilingual di rumah
    Tapi gak pede karena bahasa inggrisku acakadut
    Setelah baca postingan mak winda ini jadi semangat buat merealisasikan program bilingual di rumah

    BalasHapus
  14. wwaahhh cool you doughter good in english even she still litlle girl, thumbs up.



    http://litarachman.blogspot.com/

    BalasHapus
  15. Speechless....

    *bayangin ketemu Safina trus dia ngoceh, trus aku terdiam trus aku melengos pura pura ga liat trus aku lirik Safina lagi dan dia ngomong lagi padahal aku cuma pingin ciwel ciwel.pipinya trus trus trus.... kasetnya rusak

    BalasHapus
  16. Speechless....

    *bayangin ketemu Safina trus dia ngoceh, trus aku terdiam trus aku melengos pura pura ga liat trus aku lirik Safina lagi dan dia ngomong lagi padahal aku cuma pingin ciwel ciwel.pipinya trus trus trus.... kasetnya rusak

    BalasHapus
  17. Haaa...kerennnn. Thanks tipsnya Mak, Anda membuat saya lebih percaya diri.

    BalasHapus
  18. TFS Mak.. gegara si Ka Al mulai bilingual di SDnya kmrn mulai pelan2 digalakkan lg nih. Secara si ka Zaha juga masuk SD yg sama tahun ini. Dulu waktu msh kecil2 sdh dimulai tp lalu berhenti gt aja krn klo lg english2an diliatin sm sodara atau tetangga kok kayaknya sok enggris gt. Dan sy kok nyerah gt..jd gak puguh deh. Si kakak mulai mau diajak bilingual lg sejak masuk SD dan makin intents saat di kls 2 gurunya mensupport bgt doa utk practice english. Nah saat mulai lg bilingual di rumah saat itu adekknya ka zaha suka bilang ibu mah sombong ngomongnya basa inggris *tepok jidat*. Skrg dia masuk SD yg sama dan Missnya ngajakin ngomong inggris di kelas hahahaha. Masak mau bilang missnya sombong...

    BalasHapus
  19. semoga bisa juga mengajarkan cara seperti ini kepada anak2 ntar :)

    BalasHapus
  20. Bermanfaat sekali Mak :-D

    Ditunggu share pengalaman lainnya ttg pendidikan bilingual, awalnya maju mundur cantik mau nerapinnya, sekarang akan memantapkan diri *pasang ikat kepala

    BalasHapus
  21. Ini juga menjadi salah satu topik pendidikan anak kami di rumah. Bahasa apa yang akan diajarkan. Bapaknya dari Jawa, Ibu keturunan Makassar. Kami sekarang tinggal di Qatar. Akhirnya demi kenyamanan kami mengajari campuran antara Indonesia dan Inggris.

    BalasHapus
  22. Waaah bener - bener menginspirasi. Semoga nanti ketika punya anak mau aku ajarin bahasa inggris ah pake program bilingual ala mak winda :D

    BalasHapus
  23. Makasih maaakkkk. Aku juga ga lancar bgt inggrisnya. Tp insyaallah akan nerapin ini juga ke bayikuuu

    BalasHapus