Selasa, 24 Januari 2012

Tentang J50K, Mbak Xenia dan Pesan Sponsor

  10 comments    
categories: 
Maleeem semuanyaaa...
J50K tahun ini agak tersendat. Magali, sabar yaa...

Huaaa, maaf ya, lama juga nggak posting...Jangan salahkan akyuuu, salahkan si mbak yang mendadak pulang kampung. Huhuhuuuu... Udah sebulan ini mbak yang nolong saya di rumah pulang, gara-gara sakit. Buyar semua rencana menulis saya selama sebulan ini. Biasanya bisa nulis kalau anak-anak udah tidur, ini harus nyuci piring dulu, nyetrika dulu, nyapu dulu, kadang pake acara ngepel. Kenapa nggak bisa siang aja sih ngerjainnya? Nggak, nggak bisa! Saya tipe emak yang pengennya maen terus sama anak-anak kalau mereka lagi maen. Hihihihi...Resikonya, waktu menulis saya jadi berkurang. Mega project January 50K jadi terbengkalai. Sampai hari ini, novel Magali saya masih muter-muter aja di angka 15.000 kata, sementara peserta yang lain malah udah ada yang selesai 50.000 kata! Whoaaa...Sepertinya tragedi Ooops tahun lalu akan terjadi lagi pada calon novel baru saya. Hiks! Tapi untungnya kali ini belum jadi terlalu banyak, dan kendalanya muncul di awal-awal, jadi saya nggak akan terlalu nelongso kalau nggak bisa mencapai target. Soalnya tahun lalu, sampai hari terakhir bulan Januari 2011, saya sudah dapat 45.000 kata, dan lalu mandeg! Waaah, itu benar-benar moment "ngok" banget, deh! Intinya, Magali akan terus berjalan, tapi mungkin agak sedikit pelan, merangkak dan ngesot. Hahahaha...

Minggu, 22 Januari 2012

Kamu, Seutas Tali Yang Mengikat Leherku

  8 comments    
categories: , , ,

kenangan masa lalu bersamamu ini seperti tali yang mengikat leherku...
membuatku takut bergerak karena kupikir aku akan tercekik nantinya ...
lama aku bertahan di tempatku berdiri karena ketakutanku itu ...
sampai suatu hari aku muak, karena aku tak pernah bergerak, dengan tali melingkari leherku...
kupikir, tak ada ruginya aku bergerak...kalau aku tercekik aku akan mati...
dan itu sama saja seperti keadaanku yang tak bergerak ini...maka aku nekad berjalan...
aku siap mati tercekik oleh tali yg melingkari leherku...dua, tiga langkah...
tali itu belum juga menegang, menarik leherku...empat, lima langkah...

Jumat, 20 Januari 2012

Inilah Aku Tanpamu

  10 comments    
categories: , ,
Kamu duduk di bawah pohon yang sama sore itu. Bedanya, kamu tidak bersamaku. Sepertinya kamu sendiri. Ada yang lain darimu kulihat. Rambutmu terlihat lebih berkilau. Yakin sekali wangi tubuhmu pasti seperti aroma buah, seperti yang pernah kuingat. Sedikit sesal menyelinap dan masuk ke dalam rongga hatiku.
Dulu kamu juga cantik, walaupun tak secantik sekarang. Saat pertama kita bertemu, aku begitu terpukau. Tak lama kamu menjadi milikku, hari-hariku mulai diisi dengan aroma buah dari tubuhmu. Namun itu tak lama. Aku yang salah. Aku bosan. Entah kenapa. Yang pasti, perlakuanku kepadamu sempat membuat marah adikku.
"Kamu jahat! Tidak perhatian! Jangan salahkan siapa-siapa kalau suatu saat dia akan pergi darimu diam-diam karena perlakuanmu padanya!" Ketus teguran adikku, menghakimi perlakuanku padamu.
Waktu itu aku hanya tertawa, menyepelekan. Tahu apa anak kecil itu? Aku bosan dan malas. Kenapa harus disangkut-pautkan dengan perhatian? Toh kamu tetap ada di sampingku. Aku yakin sekali kamu tak akan pergi meninggalkanku. Kamu begitu ketergantunganpadaku, betapa pun tak pedulinya aku padamu terkadang.

Rabu, 18 Januari 2012

Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

  11 comments    
categories: , ,


Tanganku sudah cukup dingin, sekarang bergetar pula memegang selembar kertas itu. Terlalu lama aku menunggu rangkaian kata dalam secarik kertas itu menghampiri hidupku. Terlalu lama, sampai mungkin sekarang sudah terlambat.
Untuk apa dia mengirim surat itu untukku sekarang? Dia sudah menikah. Tak akan ada apa pun untuk kami berdua sekarang ini. Semua yang indah sudah menantiku dan dia, calon istriku. Jadi untuk apa selembar kertas itu sampai di tanganku hari ini?
Calon istriku menghampiri dengan tanda tanya besar di wajahnya.
“Surat dari siapa?”
“Bukan dari siapa-siapa!” jawabku sambil merobek dan membuangnya dengan tergesa.
“Bukan siapa-siapa adalah seseorang yang istimewa, begitu biasanya,” ujarmu pelan, menyelidik.
“Tidak istimewa! Tidak pernah istimewa dan tidak akan istimewa selamanya!” Entah mengapa aku merasa harus membela diri dengan suaraku yang tinggi.
Dia terdiam. “OK, kalau begitu,” katanya kemudian.

Selasa, 17 Januari 2012

Ada Dia Di Matamu

  16 comments    
categories: , ,


“Ayo, kita udah telat, nih! Habis fitting di tempat Mbak Siska, kita masih harus ke catering untuk bayar DP!” Suara Dinda terdengar sedikit kesal di telepon.
Banu menghembuskan nafas perlahan, berusaha agar Dinda tidak perlu mendengar desahannya. Banu khawatir Dinda menangkap kegalauan dalam suara desah nafasnya yang tertahan itu.
Tiga minggu menjelang hari pernikahan mereka, semua persiapan tampak makin kacau-balau saja. Kebaya Dinda yang kurang motte, catering yang mendadak minta ditambah uang DP, fotografer yang terus-menerus mendesak mereka segera berangkat ke Anyer untuk keperluan foto pre-wed, dan seribu satu masalah kecil yang mengganggu sekali.
Banu heran, dengan pasukan panitia pernikahan mereka yang sejumlah dua kelurahan itu, masih saja ada yang tidak bisa dibereskan oleh mereka dan terpaksa calon pengantin yang turun tangan. Beberapa temannya di kantor sudah sempat mengingatkan Banu tentang masalah ini.
“Biasanya makin dekat hari H, malah makin kacau, Nu!” kata Mas Bambang, operator mesin di kantornya.
“Waduh, mas! Kok bisa gitu?”
“Nggak tahu juga, Nu. Tapi justru di situ dinamikanya. Itu akan jadi sesuatu yang akan kalian kenang berdua nantinya.” Mas Bambang menepuk-nepuk pundaknya, memberi semangat.

Minggu, 15 Januari 2012

Aku Mau Kamu. Titik.

  24 comments    
categories: , ,
Kenapa tiap bulan nasib gue selalu begini, sih? Sebenarnya apa salah gue sampai harus mengalami nasib kayak begini? Gue rasa, gue udah cukup manis selama hidup di dunia ini. Gue nggak pernah macem-macem. Gue selalu nurut sama lo. Gue selalu makan apa aja yang lo beliin buat gue. Gue selalu pergi tidur tepat waktu, sesuai keinginan lo. Malah gue selalu siap bertarung demi menjaga kehormatan lo, orang yang gue sayang. Kurang apa gue?
Kurang apa gue sampai tiap bulan gue harus babak-belur kayak gini? Tapi dasar gue emang manis banget, gue nggak pernah marah diperlakukan begini sama lo. Gue rela, ikhlas, entah kenapa. Mungkin gue bego, tapi biarin, deh! Gue nggak peduli. Asal lo tetep kasih gue apa yang gue butuhin, apa aja akan gue lakukan. Toh, tiap gue babak-belur, lo malah jadi tambah sayang sama gue. Lo jadi lebih perhatian ke gue. Lo jadi lebih merhatiin makan gue. Bahkan lo nggak segan-segan nungguin gue sampai ketiduran di kamar gue.
Ah, jadi bingung gue. Sebenarnya lo itu sayang atau nggak sih sama gue? Di satu sisi, lo biarin aja gue sampai berdarah-darah babak-belur. Kadang-kadang lo malah ikut-ikutan nyorakin gue kalau gue udah mulai nggak bisa ngelawan lagi. Tapi di sisi yang lain, lo selalu perhatian sama semua yang menyangkut hidup gue. Lo tau nggak, lo itu udah bikin hati gue terombang-ambing, galau men, galaauu!!!

Sabtu, 14 Januari 2012

Kamu Manis, Kataku

  15 comments    
categories: , ,

Tempat mereka bertemu selalu sempit dan bundar. Setiap mereka bertemu,
panas selalu menyergap. Belum lagi usai panas itu, pihak ketiga akan
selalu muncul mengacau dan mengaduk-aduk pertemuan mereka. Kalau sudah
begitu, keduanya hanya bisa diam memendam dalam panas.
Pagi, seperti biasa, adalah waktunya mereka kembali bertemu. Seperti
yang sudah-sudah, mereka tahu tak akan ada kesempatan yang leluasa
untuk bisa saling menyapa, apalagi berkenalan.
Namun salah satu dari mereka sudah membulatkan tekad, sebelum semuanya
luruh karena si pengacau yang selalu hadir lima detik setelah mereka
bertemu.
''Pagi ini paling tidak aku harus bisa menyampaikan sesuatu untuknya.
Lima detik yang berarti harus bisa kumanfaatkan dengan baik!" Tekadnya
membara dan membaja.

Jumat, 13 Januari 2012

Dag Dig Dug

  17 comments    
categories: , ,

Dag…
Image from http://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-images-girl-waving-hand-image3803209

Tangan kecil melambai riang melepas kepergianku. Ah, si kecil itu, makin hari makin kuat saja daya magnetnya. Ingin rasanya aku melepas pekerjaanku demi bisa selalu bersamanya di rumah. Tapi kami, aku dan dia, sama-sama butuh pekerjaan ini. Darimana lagi kami bisa mendapat uang pembeli susunya? Laki-laki yang harusnya dipanggil ayah oleh pemilik tangan kecil itu berkhianat atas nama cinta. Cintanya pada perempuan lain lebih besar, begitulah.