Sabtu, 25 April 2015

Pemenang Lomba Blog Selfie Story Contest

  43 comments    
categories: 
Bismillaah. Assalamu'alaikum.

Sudah beberapa kali menggelar lomba blog dan give away, baru kali ini saya pusing setengah ampun menentukan pemenang. Menggandeng Dzulfikar dan Kang Benny jadi bala bantuan pun, malah tambah galau. Hahahaha. Kami bertiga sepakat, tulisan peserta (terutama yang masuk 50 besar) semua bagus. Seminggu lebih kami bertiga ngulik-ngulik tulisan mereka dari berbagai sudut. Sampai akhirnya bisa menentukan 3 pemenang, dalam hati ada sedikit rasa nelongso, karena tidak bisa memenangkan semuanya, padahal selisih nilai benar-benar tipis sekali. 


Saya hanya berharap, semoga kisah-kisah inspiratif yang teman-teman tulis dalam rangka untuk ikut Lomba Selfie Story ini juga diniatkan untuk berbagi, sehingga menang atau pun tidak, setidaknya sudah memberikan manfaat dan pelajaran bagi yang membacanya. Pada akhirnya, soal rejeki ada di tangan Allah. Kami bertiga hanya berupaya semaksimal mungkin untuk mengantarkan rejeki tersebut ke tangan mereka yang berhak mendapatkannya. #usapaermata

Terima kasih sebesar-besarnya untuk 163 peserta yang ikut lomba ini dan antusias sekali membagikan informasi seputar lomba. Semoga, dengan banyaknya peserta lomba kali ini, membuat pihak sponsor bersedia meneruskan kerja sama ini. Kan enaak, bisa sering-sering ngadain lomba. Hihihihi.

Saya banyak belajar saat menilai tulisan para peserta. Banyak mengenal teman baru. Banyak menangis dan banyak tertawa. Dan banyak terpana juga melihat hal-hal unik yang diangkat sebagai cerita di balik foto selfie mereka. Saya pribadi tidak pernah menilai selfie sebagai sesuatu yang negatif. Ada usaha di balik sebuah selfie. Ada kisah yang tidak bisa kita tebak di balik sekumpulan orang yang tampak bahagia dalam selfie. Kalau tidak diceritakan, kadang prasangka membuat selfie tampak hanya sebagai ajang narsis. Semoga lewat lomba ini, cara berpikir kita terbuka untuk tidak terlalu mudah meluncurkan prasangka buruk.

Kita bisa memilih untuk mengira di balik sebuah selfie dengan latar pantai yang indah sebagai: tukang pamer atau kegigihan seseorang menabung untuk bisa pergi berlibur ke sana. 

Kita bisa memilih untuk mengira di balik sebuah selfie sekumpulan anak sekolah berseragam sebagai: anak-anak korban social media atau sekumpulan anak muda yang sedang berjuang dalam pendidikannya. 

Kita bisa memilih untuk mengira di balik sebuah selfie seorang BMI di tengah keramaian sebagai: BMI yang kebanyakan gaya atau BMI yang sedang berbahagia karena mendapatkan ijin majikannya untuk bisa menunaikan Sholat Ied. 

Kita bisa memilih untuk mengira di balik sebuah selfie sekumpulan mahasiswa Indonesia dengan latar salju berguguran sebagai: mahasiswa kaya yang sedang bersenang-senang di luar negeri atau usaha kerasnya meraih beasiswa untuk bisa belajar di sana.

Kita bisa memilih untuk mengira di balik sebuah selfie pasien di rumah sakit sebagai: narsis akut sampai-sampai lagi sakit pun masih selfie atau sebuah usaha menekan kekhawatiran dengan cara merekam senyum di balik kesakitannya.

Semua pilihan. Yang bisa menghindarkan kita dari berprasangka buruk hanyalah meluangkan waktu untuk lebih banyak mendengar dan membaca.

Eh, kelamaan, deh. Tanpa mengurangi rasa takjub dan terima kasih saya kepada semua peserta lomba, ini dia 3 pemenang hadiah utama Lomba Selfie Story berupa 3 Windows Phone Ascend W1:

Aulia Gurdi


Tanti Amelia


Echa


Dan berikut adalah 3 pemenang yang berhak mendapatkan merchandise dari Smartfren:

Olive Bendon


Wylvera Windayana


Susi Sukaesih


Dan 1 peserta yang juga berhak menerima merchandise dari Smartfren karena isi tulisannya yang kreatif walaupun tidak masuk dalam Top 50:

Sally Octoveny
(Orang mah nyeritain siapa dan apa di foto selfie mereka, Sally kreatff sendiri ngasih tips berfoto selfie supaya hasilnya maksimal. Dia mah gitu orangnya. Hahahaha!)



Selamat untuk semua pemenang. Terima kasih untuk semua peserta. Tetaplah berbagi inspirasi. Percayalah, kami berusaha sekuat tenaga untuk memberikan hasil yang seadil-adilnya, menilai dari semua kriteria dan aspek penilaian dan melepaskan kepentingan mau pun kedekatan internal. Pada akhirnya, kami tidak bisa menyenangkan semua pihak, karena hanya ada 3 pemenang yang bisa dipilih. Mohon dimaklumi, keputusan kami tidak bisa diganggu-gugat. Semoga kita bisa jumpa lagi di lomba-lomba selanjutnya. Doain ajaa rejeki saya lancar. Aamiin. Hihihihi.

Btw, untuk peserta yang masuk Top 50, siap-siap, ya. Kayanya masih ada kejutan lanjutan. Semoga lancar. ;)

Dan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Smartfren dan dua juri yang sudah saya seret-seret ikutan galau. Kerja sama yang menyenangkan sekali.

Catatan: Kepada semua pemenang, mohon mengirim e-mail data diri, alamat, no. HP dengan subyek: Pemenang Selfie Story ke selfiestory48@gmail.com.


Kamis, 23 April 2015

Melawan Takut untuk Lebih Banyak Berbagi

"I think fearless is having fears but jumping anyway."

Kalimat tadi membawa saya ke tahun 2011, saat saya #BeraniLebih melawan rasa takut saya untuk sebuah alasan kuat. 

Alkisah, sekumpulan perempuan sedang hopeless mencari jalan untuk mendapatkan sejumlah dana agar bisa mendistribusikan buku untuk anak-anak tidak mampu di hampir seluruh Indonesia. Kegiatan ini adalah kegiatan mandiri, mereka harus memutar otak mecari jalan keluar.

Pengalaman pertama saya #BeraniLebih melawan takut bicara di depan orang banyak (Workshop Menulis Kampung Fiksi, 2011).

Kesepakatan didapat, karena para perempuan desperate ini tergabung dalam komunitas menulis, maka muncullah ide untuk mengadakan pelatihan menulis berbayar. Masalah lain muncul. Siapa yang akan menjadi pembicara? Tidak ada satu pun dari mereka yang punya pengalaman menjadi pembicara sebelumnya. Waktu semakin sempit, harus ada yang berani melempar diri ke tengah api agar bisa tetap menyala. Terpilihlah satu perempuan untuk menjadi pembicara, dan itu adalah saya.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang sedang saya lakukan. Waktu itu pengalaman menulis saya baru sejauh menerbitkan satu buah novel. Bicara di depan umum? Not to mention, memberi pelatihan? Are you kidding me? Tapi kembali lagi, kami sedang putus asa. Kami butuh dana tersebut secepatnya. 

Seminggu menjelang hari H, keraguan saya makin besar. Rasa takut menjelma menjadi beberapa keluhan fisik. Sakit perut, masuk angin, gangguan maag, insomnia, you name it. Satu hal yang saya tahu, sudah tidak mungkin berbalik arah dan kabur karena kami menggandeng sponsor. Ada tanggung jawab besar di sana. Satu-satunya pilihan adalah, saya harus #BeraniLebih melawan rasa takut saya berbicara di depan banyak orang. 

Hari yang (tidak) saya nantikan tiba. Langkah saya seperti melayang. Suara-suara di sekitar saya seperti dengungan serangga. Otak saya bahkan seperti membeku, tidak mampu memproses informasi paling sederhana sekali pun. Do'a saya hanya satu; semoga saya tidak jatuh pingsan di depan 40 peserta pelatihan hari itu.

Dua jam kemudian, pelatihan usai. Keringat membanjiri sekujur tubuh saya. Suara saya nyaris tak terdengar di awal pelatihan. Dengan polosnya saya mengakui kepada semua peserta pelatihan kalau saya grogi setengah mati. Kejujuran saya ternyata menjadi ice breaker yang menolong saya menyelesaikan pelatihan dengan lumayan baik. Saya belajar banyak hari itu. Tak mudah ternyata berdiri di depan banyak orang. Bukan hanya perkara berbicaranya. Tapi tanggung jawab besar yang mengikutinya. Apa kata dunia kalau si pemberi materi pelatihan ternyata tidak mampu melakukan apa yang sudah dia ajarkan kepada orang lain? 

Hari itu adalah titik balik hidup saya sebagai seorang penulis dan juga landasan rasa percaya diri yang mulai saya bangun setelahnya. Saya mulai lebih rajin menulis dan berusaha lebih berani mengungkapkan pendapat di depan orang banyak. 

Pengalaman didapat dari perjalanan. Saya mulai berani menerima tawaran untuk mengisi seminar dan workshop. Setiap itu, selalu ada pelajaran baru yang saya dapatkan. Setiap itu, selalu tumbuh keyakinan baru dalam diri saya. Dan setiap itu juga, saya kembali ke hari pertama menjadi pembicara. Andai waktu itu saya memutuskan untuk tidak #BeraniLebih melawan rasa takut saya, tentu tak seperti ini perjalanan hidup saya. 

Wawancara dengan Alinea TV.

"I think fearless is having fear but jumping anyway." (Taylor Swift). Karena takut dan berani hanya dipisahkan oleh sebuah garis tipis yang menunggu untuk dilewati.

 Mengisi Workshop Dari Cerpen Menjadi Film di Social Media Festival.


 Memberi laporan pendistribusian buku saat Launching Buku Peri-peri Bersayap Pelangi (Newseum, Jakarta).


 Sharing seputar blogging di acara Smartfren Media Gathering.


 Mengisi kelas Akademi Berbagi Bekasi.


Sharing pengalaman menulis saat launching novel Macaroon Love.

Menjadi pembicara di Annual English Seminar, STBA Pranoto, Bekasi.


Facebook: Winda Krisnadefa
Twitter: @windakrisnadefa
Google +: Winda Krisnadefa
Instagram: @emakgaoel
Fanpage FB: Emak Gaoel 


Rabu, 22 April 2015

Pulau Bidadari, Pulau Cantik 20 Menit dari Jakarta

Assalamu'alaikum.

Untuk warga Jakarta mepet (baca: Bekasi) seperti saya, wisata ke pantai bisa dibilang cuma bisa diterjemahkan ke dalam satu kata: Ancol. Dari kecil sampai punya anak kecil sekarang, kalau mau piknik ke pantai, tujuannya cuma satu, Ancol. Masalahnya, pantai di Ancol bisa dibilang udah kehilangan hampir semua aspek pantainya. Airnya kotor, warna pasirnya juga butek dan penuh sampah dan ramainya luar biasa. Susah ngebayangin saya bisa rebahan cantik ala model Victoria Secret pakai bikini kalau begini kondisi pantainya. (Yeah, nggak di mana-mana, tetep aja susah sih ngebayangin loe jadi model Victoria Secret, mak!).







Selalu mupeng kalau lihat foto teman-teman yang tinggal di daerah atau yang sedang berkunjung ke kota lain. Kayaknya kok gampang banget nemuin pantai cantik berpasir putih. Siriik. Kapan saya bisa menikmati suasana pantai yang sesungguhnya? Kapaaan? *jeritan hati orang jarang piknik*

Alhamdulillaah. Jeritan hati saya didengar Tuhan lewat undangan Vlogger Gathering dari VIVA Log beberapa hari yang lalu. Saya dan 39 teman Vlogger lainnya diberi kesempatan untuk menikmati wisata One Day Trip ke Pulau Bidadari Eco Resort. Senaaang! Senaaaang! 



Jam 6 pagi saya dan dua teman Vlogger dari Bekasi sudah sampai di area Marina Ancol. Sambil menunggu kedatangan teman-teman yang lain, iseng-iseng saya mengamati suasana dermaga yang baru pertama kali saya datangi itu. Banyak kapal speed boat dan yacht bersandar. Beberapa berlabel Pulau Bidadari. Tidak jauh dari tempat kami menunggu, ternyata ada kantor kecil tempat pemesanan tempat untuk ke Pulau Bidadari. Tempat parkir mobil pun luas dan relatif tampak aman. Khusus tempat parkir mobil ini, menjawab pertanyaan saya, "Apakah aman meletakkan mobil di area dermaga Ancol selama kita piknik ke pulau? Apalagi kalau pakai acara menginap?" Insya Allah aman, deh. Kan sudah masuk area Taman Impian Jaya Ancol.






Jam 8.30, kami semua naik ke atas speed boat menuju Pantai Bidadari. Speed boat dengan kapasitas kurang lebih 60-an seat ini lumayan nyaman. Pelampung pun disediakan untuk tiap penumpang untuk kepentingan kondisi darurat. Baru asik-asik menikmati suasana laut dalam perjalanan, tidak lama ternyata kita sudah sampai. Lho? Cepet banget? Cuma 20 menit! Ini highlite pertama dalam kunjungan saya ke Pulau Bidadari kemarin.



Begitu turun dari speed boat, nggak pakai menunggu lama, highlite kedua langsung tercatat: pantainya berpasir putih! Cantik banget! Aaaak, lari-larian sambil nendang-nendang pasir. Norak! Orang Bekasi belum pernah liat pasir putih, maklumin aja, ya. 





Rombongan disambut dengan welcome drink yang segar dan juga welcome dance yang OK-lah. Hihihhihi. Masalahnya suasananya emang panas. Namanya juga pantai. Pihak pengelola Pulau Bidadari Eco Resort pun tidak buang-buang waktu. Kami langsung diajak jalan-jalan keliling pulau dengan seorang guide yang menjelaskan semua obyek dan fasilitas yang ada di sana.

Pulau seluar 6,5 hektar ini jadi terasa tidak melelahkan untuk dieksplore sambil jalan kaki (bahkan oleh seorang pemalas jalan kayak saya ini) karena begitu banyaknya obyek yang kami lihat. 



Dimulai dari menyusuri pantai tempat dermaga kapal bersandar, kami berjalan masuk mulai memutari Pulau Bidadari. Mulai dari mana, nih

Pulau Bidadari adalah pulau resort, artinya isinya ya resort milik Pulau Bidadari yang dikelola oleh PT. SeaBreez Indonesia. Tidak ada penduduk lokal dan nelayan di sana. Begitu kaki kita menginjak pasir putih di dermaga Pulau Bidadari, kita sudah masuk dalam area resort. 




Apa saja kegiatan yang bisa dilakukan di Pulau Bidadari Eco Resort? Dengan pilihan beragam cottage di sana, termasuk floating cottage di atas laut-nya yang sangat beraroma romantis dan honeymoon sekali, tentu saja menginap bisa jadi pilihan. Tapi kalau cuma punya waktu satu hari, tidak menginap pun bisa. Ingat highlite pertama saya? Pulau ini cuma berjarak 20 menit dari Jakarta.





Wisata sejarah juga bisa kita lakukan dengan mengeksplor seluruh pulau karena pulau ini dipenuhi dengan peninggalan masa kolonial Belanda. Termasuk di dalamnya masih terdapat puing-puing reruntuhan Benteng Martello (Martello Castle). 





Sesuai dengan namanya yang menyandang Eco Resort, Pulau Bidadari juga menawarkan kegatan berbau-bau ramah lingkungan. Antara lain, kita bisa mengamati satwa seperti elang bondol, rusa totol, biawak bahkan lumba-lumba yang dipelihara di kolam khusus dalam area resort. Kalau waktunya pas, kita bisa ikut memberi makan si dolphin lucu itu. 



Menyusuri bagian tengah pulau, kita bisa menyusuri hutan lindung yang terdiri dari beragam pohon langka. Ini obyek belajar yang mengasyikkan, nggak cuma buat anak-anak, bahkan orang dewasa seperti saya. Jujur, ini pertama kalinya saya melihat hutan bakau.






Nama eco resort juga diusung oleh Pulau Bidadari karena mereka pun menyediakan kegiatan go-green bagi pengunjung yang berminat di Saung Kreatif, seperti pengolahan air limbah, pembuatan kompos dan pembuatan kertas daur ulang. Selain itu kita bisa berkreasi membuat prakarya dengan memakai kerang-kerang di sekitar pantai. 



Buat yang ngincer wisata air, Pulau Bidadari dilengkapi dengan fasilitas banana boat dan kano. Selain itu pantainya yang ramah (tidak terlalu berombak) relatif aman untuk berenang dalam jarak tertentu. Kegiatan memancing pun bisa dilakukan di sana 

Highlite ketiga yang saya catat di Pulau Bidadari adalah pemandangan pantainya yang cantik. Nggak heran, saat keliling pulau saya sempat melihat beberapa pasang pengantin sedang melakukan pre-wed photo session. Pilihan yang pas karena background romantisnya dapet banget.






Setelah puas mengelilingi Pulau Bidadari, kesimpulan saya satu: resort cantik ini pas banget untuk kegiatan gathering keluarga, kantor atau sekolah. Pilihan pun terbuka lebar, mau menginap atau hanya satu hari di sana. Tetap puas. Apalagi dalam perjalan pulang dengan speed boat yang sama, kami dibawa untuk melihat 3 pulau terdekat di sekitar Pulau Bidadari: Pulau Onrust, Kelor dan Kahyangan.



Satu hari tidak terasa sama sekali. Saya bahkan nggak sadar kalau ternyata satu pulau saya langkahi hari itu. Begitu banyak yang bisa dinikmati di Pulau Bidadari Eco Resort. Tinggal menyesuaikan aja sama budget dan waktu yang kita miliki. By the way, kalau malas jalan kaki, ya naik sepeda aja kali keliling pulaunya. Gitu aja kok repot. Hihihihi. 

Di bawah ini info terbaru seputar rate, fasilitas, tempat pemesanan dan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Bidadari Eco Resort. So, kalau ada yang mau ke sana, ajak saya, ya. :D 






Selasa, 21 April 2015

Galeri Foto Kartini Cilik 2015

  9 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

21 April selalu mendapat tempat istimewa di hati saya. Hari ini adalah hari pernikahan kedua orang tua saya (tahun ini sudah masuk 43 tahun). Alhamdulillaah, mereka berdua masih diberi berkah kesehatan oleh Allah SWT. Selain itu, 21 April kan Hari Kartini. Hihihihi.


Kenangan masa kecil saya seputar Hari Kartini kurang lebih sama seperti yang lan. Bangun pagi-pagi, dipakaikan baju tradisional lalu didandani oleh Mama. Sampai sekarang nggak akan pernah lupa.

Makanya pagi tadi, saat saya membangunkan Safina untuk bersiap-siap merayakan Hari Kartini di sekolahnya, saya agak-agak terharu lebay gitu. Saya melakukan apa yang Mama saya lakukan bertahun-tahun yang lalu: mendandani gadis kecilnya di Hari Kartini.


Soal mereka paham apa tidak apa itu Hari Kartini biarin aja dulu, deh. Toh, nggak ada yang bisa ngeles, kalau ditanya apa kenangan pertama mereka tentang Hari Kartini, pasti jawabannya pawai pakai baju daerah. Pengetahuan mereka tentang perjuangan Raden Ajeng Kartini akan mereka dapatkan sesuai waktunya kelak. Tapi kenangan masa kecil seperti ini, tak akan terulang lagi.


Hari ini timeline socmed saya penuh dengan foto-foto Kartini cilik (dan Kartono cilik? Hihihihi, abis apa dong istilahnya buat anak cowok?) berkebaya dan berbaju adat. Seneng banget ngeliatnya. Ada yang masih muka ngantuk, ada yang masih nguap, ada yang lipstiknya udah belepotan, ada yang hiasan kepalanya miring, ada yang nangis, ada yang kepanasan, ada yang cuek aja lari-larian padahal lagi pakai kain dan sanggul. Hahaha, pokoknya lucu ngeliatnya.


Seperti biasa, sayang kalau nggak dibikinin galerinya di Blog Emak Gaoel. Yuk, liat-liat foto anak-anak ini yang merayakan Hari Kartini dalam busana nasional kita.