Senin, 04 Januari 2016

Barang Baru, Banting Harga!

  13 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Selamat datang di Shop Emak Gaoel. Di postingan ini, semua barang yang saya jual masih dalam kondisi baru, tersegel dan belum pernah dicoba. Dapat dari ... yah, dari mana ajalah, namanya rejeki. Tapi sayang nggak kepake, jadi mau dijual murah (di bawah harga pasaran) aja. Hajar, bleeh! 

Aturan belanjanya gampang, tinggal kirim email ke windafitriani48@gmail.com dengan subject: Shop Emak Gaoel (nama barang).

Coffee Machine Dolce Gusto Mini Me (White). --SOLD--

Kondisi: Baru.
Bonus 6 capsules sudah expired karena dapat barangnya udah lama, jadi nanti tidak saya sertakan, ya. 

Harga di Lazada Rp 1.899.000. Saya jual dengan harga Rp 1.500.000 (belum termasuk ongkos kirim dari Bekasi). 

Harga: Rp 1.899.000 Rp 1.500.000

Smartfren Andromax Q 4G LTE. --SOLD--

Kondisi: Baru (tersegel)
Including: - Nomor perdana Smartfren 4G LTE
                 - 2 + 6 GB Bonus Data (berlaku selama 7 hari)
Warna: Dark Blue

Harga di website resmi Smartfren Rp 1.299.000. Saya jual dengan harga Rp 1.099.000 (belum termasuk ongkir dari Bekasi).

Harga: Rp 1.299.000 Rp 1.099.000

Smartfren Andromax Ec 4G LTE. --SOLD--

Kondisi: Baru (tersegel)
Including: - Nomor perdana Smartfren 4G LTE
                 - 2 + 6 GB Bonus Data (berlaku selama 7 hari)
Warna: Black

Harga di website resmi Smartfren Rp 799.000. Saya jual dengan harga Rp 599.000 (belum termasuk ongkir dari Bekasi).

Harga: Rp 799.000 Rp 599.000

Estee Lauder BB Cream

Kondisi: Baru (tersegel)
Double Wear, All Day Glow, SPF 30/PA+++. 30 ml. Intensity 3.0. Color: Normal.

Harga resmi di counter Rp 520.000 (lihat sticker harga resmi di belakang kemasan). Saya jual dengan harga Rp 350.000 (belum termasuk ongkir dari Bekasi).

Harga: Rp 520.000 Rp 350.000

Happy Shopping! ^_^

Minggu, 03 Januari 2016

Asiknya Lettering dan Typography Al Qur'an

  51 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Saya lagi asik sama kegiatan baru saya di rumah. Selain ngulek sambel, hobi saya emang coret-coret di kertas alias doodling. Berhubung ngulek sambel pake urusan keringetan (di mana lebih enak keringetan karena hal lain ketimbang gara-gara nyambel), doodling lebih menarik buat saya. Beberapa bulan belakangan ini, saya latah ikut-ikutan nyoba nulis-nulis yang digaya-gayain gitu. Bahasa kekiniannya, lettering, you know. *songong*


Awalnya saya coba-coba pakai brush pen (pulpen yang ujungnya kayak kuas cat air) nulis huruf sambung beberapa quote ala-ala saya dan posting di Instagram. Kalau ngeliat hasil tulisan tangan saya mah, sebenernya mengenaskan hasilnya. Tapi apalah daya, keinginan tampil begitu besar. Cuek ajalah, posting ajaaa. :v 

Nggak pake lama, kesongongan saya meningkat, pengen nyobain pake kuas dan cat air beneran (ada gitu yang bo'ongan?). Wah, ternyata susah emang. Butuh kesabaran, keuletan, ketekunan dan latihan tanpa henti untuk bisa dapat feel dan bentuk huruf yang diinginkan. Sampai sekarang aja, walaupun udah latihan tiap hari selama satu jam, saya masih belum puas sama hasil bentuk huruf tulisan tangan saya. Semoga Hayati tidak lelah, bang. 



Lagi asik-asiknya latihan lettering, di Instagram ketemu satu akun yang keren banget. BANGET! BAAANGEEET! Nama akunnya @stefankunz (Stefan). Foto-fotonya berisi kumpulan tulisan typography-nya yang menulis isi Alkitab (Bible) dan lengkap dengan video singkatnya. Saya cuma bisa bengong melihat hasil karyanya. Typography bisa dibilang sebagai bagian dari seni lettering. Banyak artis typography profesional yang dipakai jasanya untuk membuat pesanan logo perusahaan atau font modifikasi untuk berbagai keperluan. 

Typography is the art and technique of arranging type to make written language legible, readable, and appealing when displayed. The arrangement of type involves selecting typefaces, point size, line length, line-spacing (leading), letter-spacing (tracking), and adjusting the space within letters pairs (kerning[1]). The term typography is also applied to the style, arrangement, and appearance of the letters, numbers, and symbols created by the process. (Source: Wikipedia)

Typography of Stefan @stefankunz on Instagram

Melihat keuletan Stefan membuat kumpulan typography Alkitab, saya jadi terinspirasi untuk melakukan hal serupa dengan Al Qur'an. Sebenarnya sejak setahun yang lalu Mama saya sudah sering banget mengingatkan saya untuk mulai membaca tafsir/terjemah Al Qur'an sekalian menghafal. Ngingetinnya pake bikin baper, "Tahun depan umur udah 40, Nda. Umur 40 tahun kalau belum berubah ke arah yang lebih baik, kita akan tetap seperti itu." Mama saya juga mengutip satu ayat Al Qur'an untuk mempertegasnya. Dan saya makin clegukan. 

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri.”” (Al-Qur’an, Surat Al-Ahqaf, ayat 15).

Kalau udah bicara umur, emang suka ngeri-ngeri gimana gitu. Ditambah lagi sama omongan dari Mama saya itu. Makin gelisah hati ini. Tsah. Akhirnya, dengan mengucap nama Allah, bismillaahirrahmanirrahiim, saya coba pasang niat karena Allah untuk mulai membaca terjemah Al Qur'an dan menghafalnya pelan-pelan. Cara yang paling efektif, alhamdulillaah udah ketemu waktu saya melihat akun Stefan tadi. Saya mulai menulis typography Al Qur'an. Dengan begitu, saya meluangkan waktu untuk membaca terjemahnya sambil melakukan sesuatu yang saya suka dan nikmati. Alhamdulillaah, sampai hari ini, sudah sampai Al Baqarah ayat 32. Masih jauh memang dari target satu Al Qur'an. Tapi seenggaknya saya sudah mulai melangkah. Udah hafal juga artinya, Mak? Belum semua. Hihihihi. Tapi, makin lama saya menghabiskan waktu menulis indah satu ayat, makin lama ayat itu menempel di kepala saya. So, dengan sendirinya saya sedang berusaha menghafalnya. Beberapa ayat saya ingat, beberapa belum berhasil karena terlalu panjang. Mungkin harusnya saya mulai dari Juz Amma (bagian terakhir Al Qur'an) yang terdiri dari surat-surat pendek dulu, ya. Tapi udah terlanjur. Hiks. Ya udah, kita terusin aja. 


Saya mohon do'anya, ya. Semoga project menghafal dan menulis typography Al Qur'an ini lancar sampai akhir. Semoga saya diberi umur dan kesehatan untuk menyelesaikannya. Aamiin. Thanks to you,Stefan in Switzerland, for the inspiration. I always believe, goodness and kindness are beyond religions. To have you, a good Christian, as my inspiration of doing my Muslim's activity, is such a great way to show people that difference and religions don't matter. What matter is we keep spreading inspiration to others. 







Sabtu, 02 Januari 2016

I Think I Broke Some Blogging Myths Last Month

  42 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Di saat teman-teman blogger berlomba-lomba naikin Klout Score, DA, PA, Alexa Rank dan pageviews harian di blognya, selama bulan Desember kemarin saya justru harus berusaha ikhlas melepaskan kegiatan ngeblog dan "nyampah" di socmed karena kepengen fokus ngurusin Crafting for Charity. Biarin deh, Desember nggak ada kerjaan dulu. Saya udah komitmen sejak tahun lalu, Desember memang akan saya khususkan untuk kegiatan Crafting for Charity. Sekalian terapi untuk ketenangan jiwa seorang blogger rempong seperti saya ini. 


Tapi biar gimana, namanya juga sama blog sendiri, pasti cinta kaaan. Sebelum meninggalkan sejenak blog ini, nggak lupa ngecek posisi segala macem penilaian sistem itu. OK, Klout score lagi nangkring di angka 77 dan ini sisa basian abis ngadain lomba blog sama Smartfren sebelumnya, sih. Wkwkwkwk. Terus DA sama PA lagi ada di angka 23 dan 32, kalo gak salah. Alexa rank di angka 190.000-an. Pageview harian blog juga masih biasa aja, kalau lagi ada postingan baru sekitar 1.000 - 2.000an, kalau lagi gak ada update paling cuma sekitar 600-an. Biasa banget ....

Saya udah siap banget Klout Score bakalan terjun bebas. Bener aja, nggak pake nunggu lama, minggu pertama dan kedua Desember, Klout Score saya meluncur syantiex ke angka 69. DA dan PA masih sama, walaupun kata yang pakar blogging, ada semacam update untuk angka DA dan PA yang bikin hampir semua website mengalami kenaikan. Semacam itulah, jangan tanya saya, gak ngerti. Alexa rank juga sukses nyungsep ke angka 220.000-an. Saya males mikirinnya, ntar aja deh kalo mood, dikatrol lagi, pake apaan gitu. Hahaha. Soale, dulu saya pernah obsesi banget sama angka-angka ini, dan berujung ke ribet sendiri. -_- Niatnya ngeblog mau buang mumet, malah jadi mumet sendiri. Lelah .... Makanya, abis itu saya nggak mau lagi ribet sama angka-angka itu, kecuali ngintip-ngintip doang sekali-sekali. Itu juga kalau ada calon klien yang nanya. Selebihnya, cukuplah buat hibur-hibur diri pas arisan gak keluar. Sekitar pertengahan Desember kemarin memang saya pas dapat tawaran untuk mereview campaign satu perusahaan, makanya sempetin ngintip kondisi statistik blog yang ternyata mengenaskan itu. Eh, syukurlah, job-nya tetep deal. Rejeki gak ke mana, masih ke Bekasi.
Akhir Desember 2015 kemarin, kegiatan Crafting for Charity resmi selesai, saya coba cek lagi keadaan blog dan status social media milik saya. Dengan keadaan minim update, ternyata statistik blog saya justru mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan. Jangan tanya saya kenapa, karena saya pun nggak tahu. Daripada saya coba jelasin sok tau, terus ada yang ngakak di belakang, mending kalem aja, menikmati pete bakar cocol sambel. 

Tapi biar gimana, saya mikir juga, kenapa justru di saat saya "males" update di blog, segala rupa angka-angka itu malah naik? Konon kabarnya, sekitar awal Desember kemarin penilaian angka DA dan PA memang ada semacam pembaruan yang lumayan menghibur karena semuanya naik. Baydewey, kocak juga kalau semua naik, berarti kan kondisi sebenernya sama aja dong, ya. Hihihihi. Yah, buat yang ilmunya cetek macam saya ini, sekali lagi, lumayanlah kalau liat angka-angka itu naik (walaupun nggak tau kenapa), buat hiburan. :v 

Iseng, saya coba buat catatan, sebatas ilmu yang saya tahu aja, seputar kondisi statistik yang rada anomali di blog saya. Kenapa-kenapanya, saya nggak tau pasti. Tapi yang saya catat di sini adalah apa yang saya (tidak) lakukan dan hasil yang saya dapat, ternyata nggak selalu seperti yang ada di teori ngblog. Beberapa kondisi mungkin berbeda dengan orang lain, tapi ya gapapa dong saya catet sendiri. Ih!

Niche

Bahas niche blog ini bikin saya gelisah sebenernya. Sebagai blogger yang kebanyakan mau, saya susah menentukan mau menulis khusus di satu topik yang spesifik. Akhirnya dengan penuh percaya diri, kalau ada yang nanya, "Niche blogmu apa, mak?" Saya selalu jawab, "Niche-nya Emak Gaoel." Nyahaha, apa deh itu! 

Padahal, katanya ahli ngeblog, sebaiknya tema blog itu spesifik. Kalau bahas fashion, ya fashion aja. Kalau kuliner, ya kuliner aja. Kalau traveling, ya udah traveling aja. Biar kepercayaan publik (duile) juga terbangun dengan melihat konsistensi kita menulis di satu bidang. Selain itu, image kita juga terbentuk dengan sendirinya. Lah, saya malah segala macem dibahas. Image macam apa yang terbentuk? Image pasar malem? Entahlah, silakan jawab sendiri. Saya mah pasrah orangnya. :v (pasrah = males mikir).

Sampai udah tahun 2016 ini, saya masih ogah milih mau kheuseus ngebahas apaan di Blog Emak Gaoel. Biarlah, saya ngeblog kan biar santai, bukan buat setres. Kalau ternyata banyak topik yang bikin saya santai, ya sebanyak itu juga yang akan saya share di blog. Bhihihi. 

Klout score vs interactive


Jujur, kalau lagi lihat Klout score yang naik itu emang semacam hiburan, ya. Rasanya, aduuuh saya ternyata sesuatu banget di dunia maya. Wekekekek. Sebagai warga online yang pernah nangkring di Klout score 77 (gara-gara kedongkrak ngadain lomba pake sponsor gede, ini mah), saya paham banget gimana rasa semringahnya itu. Padahal dalam hati ya ngerti sendiri kok, kalau nggak ngadain lomba, nggak bakalan juga se-hits itu Klout score saya. Jadi semacam buat elus-elus diri sendiri aja.

Klout score kan katanya berhubungan erat dengan interaksi kita di social media, ya. Setelah kemaren sempet nyungsep di angka 63, di akhir Desember saya coba cek lagi, ternyata Klout score saya naik lagi ke angka 71-72. Padahal bisa dibilang, isi update socmed saya gak beda-beda amat kayak biasa. Tapi apa mungkin karena saya update foto-foto Crafting for Charity yang notabene rada beda dari bulan-bulan biasanya, ya? Entahlah. Males mikir lagi. :v

DA/PA vs updates

Dari pantauan (kepo), katanya kemaren DA dan PA blog sebagian besar teman-teman blogger mengalami kenaikan, ya? Alhamdulillaah, blog saya juga kebagian naik, dari angka 23/32, sekarang jadi 28/38 (kalau belum berubah lagi). Patut disyukuri juga dong ya, dinaikin cuma-cuma pas saya lagi gak ada update-an yang berarti. Anggap aja lagi beruntung. Bhihihi.

Blogwalking

Blogwalking meningkatkan nilai interaksi kita di dunia maya. Iya, saya paham, kak. Cuma panjang urusannya nih kalau blogwalking jadi semacam kegiatan yang harus saling berbalas. Masalahe, baca postingan orang tuh kalau nggak sesuai sama minat, ya susah enjoynya. Apalagi mau ninggalin komen, lah ngerti juga nggak. Contoh nih, si Sutopo lumayan rajin blogwalk ke sini, kadang ninggalin komen. Kemaren malah dia ikutan lomba Blog Emak Gaoel juga. Makasih, ya. Tapi jangan tuntut saya ke pengadilan ya kalau nggak pernah baca tulisan dia yang lain, apalagi ninggalin komen. Lah, yang dibahas di sana urusannya website design apalah, review spare part motor sama helm, segala teori SEO dan adsense. Otaknya gak sampe, kakaaak! :( Jadi ya, jangan baperan kalau gak dibales komen.

Sebulan kemaren praktis saya nggak ada baca-baca blogpost teman-teman. Maaf, ya. Memang nggak ada waktu. Tapi ini FYI aja, buat teman-teman yang sudah mampir ke sini dan ninggalin komen, saya selalu klik namanya dengan maksud bisa langsung masuk ke link blognya, seenggaknya udah nyumbang satu pageview. Makanya, kalau komen sebaiknya pakai identitas Name dan URL aja. Soalnya kalau pake akun Gmail, masuknya ke profile G+. Kalau udah dibawa ke mana-mana dulu, ya belum tentu nyampe ke blognya. Tergantung lagi rajin atau males.

Soal silaturahmi dan interaksi, saya mah percaya, bisa lewat mana aja. Sejujurnya, silaturahmi saya dengan teman-teman dunia maya justru lebih banyak terjalin di Facebook, Instagram dan Twitter. Jadi, janganlah katakan diriku tak menghargai niat silaturahmi teman-teman yang udah datang berkunjung ke sini karena gak ngunjungin balik. Banyak faktor penyebabnya. Tema yang saya nggak tertarik/mengerti, kurang waktu, kehadang Captcha, sinyal ngehe. Banyaaak! Jangan baper, yes. I love you still, mmuaaach!

Pageviews

Kondisi pageviews harian blog ini sebenernya nggak sebombastis yang dibayangkan teman-teman, kok. Sampe sepuluhribuan sehari? Boro-boro! Hahaha! Kondisi ini udah sejak lama kok, standard banget kalau lagi ada update blog post baru, trafik naik sampai sekitar 1.000 - 2.000an. Selebihnya, hari biasa tanpa blog post baru, nggak sampai 1.000an pageviews. Tergantung saya lagi rajin share link di akun socmed saya atau nggak.

Bulan Desember kemarin, praktis saya cuma posting 4 blog post baru. Ternyata dengan jumlah postingan baru yang minim, kondisi trafik blog saya tetap sama seperti biasa. Artinya, nggak mengalami penurunan.

Lah, jadi panjang. Gak ada ilmunya juga, cuma pengen curhat aja, kenapa selama Desember kemaren kondisi blog saya justru kebalikan dari beberapa teori-teori blogging yang ada? Mungkin ada beberapa kondisi lain di luar teori tadi yang bikin keadaan blog dan akun socmed saya begitu, kali ya. Yang pinter boleh dibahas, di depan saya, di belakang saya, terserah. Sambil ngetawain juga gapapa, asal jangan ketawa sendirian. Hati-hati.

BACA BLOG POST SAYA YANG LAIN SEPUTAR BLOGGING DI SINI.

Jumat, 01 Januari 2016

Absurd Conversation with My Daughter (Part 1)

  40 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Buat teman-teman yang temenan sama saya di Facebook mungkin sering banget baca status percakapan saya dengan Safina sejak beberapa tahun yang lalu. Waktu punya anak perempuan, saya nggak nyangka sama sekali bakal dikasih bocah yang kritis dan "ajaib" banget cara mikirnya kayak si Nana ini. Cara berpikirnya yang "out of the box" udah keliatan dari sejak dia mulai bisa bicara umur 2,5 tahun. Kadang heran, dapet turunan dari mana sih, emaknya kalem dan anggun begini, kok anak ceweknya malah begini? *duduk anggun di singgasana ratu* 



Yang bikin gemes banget itu, Nana kalau sama orang lain pencitraan banget kalemnya. Pemaluuu banget! Cuma sama saya aja di rumah (dan kadang sama Abang dan Papanya) dia berani ngomong dan mengungkapkan pendapatnya dengan lantang. Nggak jarang, dia ekspresif banget kalau lagi emosi. Tapi ya itu, di rumah doang. Makanya saya mulai bikinin home video di Youtube. Tujuannya, selain supaya dia bisa latihan pede ngomong, juga sebagai barbuk kalo saya nggak ngada-ngada di status. Wakakakak, penting! Percakapan yang saya rekam di status semuanya fresh dan langsung saya posting setelah terjadi. Kadang bikin kaget, tapi seringnya mah bikin saya manyun mingkem sambil ngemut pete rebus. -_- 

Mulai bulan ini saya coba kumpulin sedikit-sedikit percakapan antara saya dan Safina selama tahun 2015 kemarin, ya. Siapa tau, ada pakar anak yang bisa bantu saya, gimana biar gak kalah mulu ngemeng sama bocah. Kredibillitas saya sebagai Emak Gaoel sungguh dipertaruhkan inih! Hadah ....

Januari 2015


Kita awali waktu malam tahun baru 2015 yang lalu, Fadhil sama Safina menjelang tidur, kedengeran mereka ngobrol. Biasanya kalau mereka ngobrol, saya belagak cuek, padahal kuping berdiri, pengen tau apaan yang diomongin. Waktu itu Fadhil masih umur 11 tahun dan Safina 6 tahun.

Fadhil: "Nana resolusinya apa?"
Nana: "Apa?" (tahun lalu dia masih mau bicara pakai bahasa Indonesia sama Abangnya).
Fadhil: "Resolusi! Mau ngapain tahun 2015?"
Nana: "Oooh! Mau naik sepeda!" 

Kagak nahan banget liat mukenye si Nana pas bilang, "Ooooh!". Sotoy beud da, ah! Hahaha! Bocah jaman sekarang ternyata ngobrolinnya resolusi kalau pas tahun baru. Okesip.
Beberapa hari kemudian, kami lagi on the way pulang dari rumah Jidah (Nenek). Mobil kami papasan dengan ambulance yang bawa jenazah dan iring-iringannya. Seperti biasa, Nana kalau liat sesuatu yang lain dikit, pertanyaan demi pertanyaan langsung muncrat aja, gak berenti-berenti. Dan seringnya lagi (SELALU) percakapan jadi ke mana-mana, belok jauh banget dari inti percakapan. Untuk urusan yang satu ini, like mother like daughter emang. Ini bukti obrolan serius soal kematian bisa belok jadi ngomongin kambing.

Nana: "Is it dead people inside the car?"
Saya: "Yes, someone died."
Nana: "Where do they go?"
Saya: "Graveyard."
Nana: "No! Dead people go to the hospital." (Ni anak, kalau sotoy suka nyolotan emang)
Saya: "No, they will be buried in the graveyard." (Berusaha sabar seperti ibu peri)
Nana: "Oh, just like the sheep I killed?"
Saya: "What? You killed a sheep? When? Where?" (Mulai mikir, jangan-jangan imaginary friend si Nana ini seekor kambing, terus mereka berantem, terus dia "bunuh" temen kambingnya. Sigh)
Nana: "Yesterday, in Minecraft."
Saya: "Why did you kill it?"
Nana: "Because I took all the wool and he doesn't have wool anymore. So I killed him." (Kalem)
Saya: (OMG) "Next time don't kill the sheep, OK? The wool will grow again soon."
Nana: "Really?"
Saya: "Yes!"
Nana: "It's gonna take forever to grow, mom."

Jadi menurut ngana kalau bulunya lama numbuhnya, bunuh aja gitu? Errrgh, ini percakapan berlanjut terus sampai rumah dan saya rasanya cuapeeek bangeeeeet waktu itu.

Nggak cuma Safina doang yang suka bikin saya keselek. Fadhil, biar anaknya kalem dan pendiam, kadang kalau nyeletuk suka bikin ngakak juga. Waktu itu udah adzan Magrib, dan saya nyuruh dia buat sholat.

Saya: "Udah adzan, sholat yok, Dhil!"
Fadhil: "Yakin udah adzan? Fadhil mau nunggu adzan sekali lagi biar yakin."
Saya: "Adzan sekali lagi ya udah Isya' kali, Baang!"

Hadeeuuh!


Pernah juga saya dibikin melow sama celetukan Safina. Gara-gara lagi nonton film Frozen di TV dan Elsa lagi mau nyanyi lagu Let It Go. Dengan penuh semangat karaoke, saya ngajak Nana buat nyanyi bareng, dong! 

Saya: "I like this song! Let's sing together!"
Nana: "No, mom. Let her sing alone." (ekspresi datar)

Jahat. *baper*

Topik percakapan yang suka bikin saya deg-degan biasanya nggak jauh-jauh dari kematian dan kehamilan. Sekitar pertengahan Januari 2015, Safina menggambar sesuatu dan ngasih liat ke saya.

Nana: "Look, this is my dad's." (Katanya sambil nunjukin gambar kuburan)
Saya: "But your dad is still alive."
Nana: "That's OK, Mom. He can always come back to life."
Saya: "Ummm, actually no. When people die, they don't come back to life."
Nana: "You mean, like ... forever?" (Mukanya bengong)
Saya: "Yes."
Nana: "Like grandma? Where do they go?"
Saya: "Some go to heaven, some will go to ...."
Nana: "Hell?"
Saya: "Yeah, but that's Allah's business. We never know where people go after they die. All I know, if you are good, you will go to heaven." (Mendadak Hayati lelah, bang, membahas tentang kematian ke anak umur 6 tahun)
Nana: "Do they have toys in heaven?"
Saya: "Plenty!"
Nana: "Food? Castle? Ipad? Fruit tea? Alfamart?"

Lanjut ngakak. ALFAMART harus ada di surga, pokoknya! Penting buat Safina. :v

Akhir bulan Januari 2015, Safina pernah nanya sesuatu yang sampe sekarang belum saya jawab, "Mom, why are you wearing bra?" Hahahaha. 

Dan bulan Januari 2015 kemarin ditutup dengan pernyataan epic seputar favorit subject-nya: BUTT. Dia lagi main sambil duduk di lantai dan ngomong, "Mom, I have a cold butt," sambil ngelus-ngelus pantatnya. 


BERSAMBUNG



Rabu, 30 Desember 2015

Give Away Akhir Tahun Blog Emak Gaoel

  129 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Yang masih kerja hari gini mana suaranyaaah? Kaciaaann. Saya dong, udah mules libur kelamaan. -_- Udah segala macem dikerjain dan dibuat di rumah sama bocah, ternyata libur masih lama. Heuh. Karena kamu harus tahu, kebahagiaan kecil seorang mamak stay at home macam saya ini salah satunya adalah bisa punya waktu dikiit aja pas anak-anak di sekolah. Eh, itu mah saya, ya. Gak tau emak yang laen. :p


Bulan ini beneran nggak produktif banget ngeblog. Saya sibuk sama urusan Crafting for Charity (halesyan). Alhamdulillaah, walaupun nggak serame tahun lalu, tetep ada aja yang pesan kartu ucapan buatan saya. Lumayan masih ada yang bisa disumbangkan ke Komunitas Lebah untuk kegiatan Cerdas Tanpa Batas. Selain itu, saya lagi semangat mau mulai project typography Al Qur'an mulai bulan ini. Ambisi besarnya sih, setahun ke depan bisa selesai 30 Juz. Tapi ya kita liat aja ntar, dah! Hihihihi. Kalau inget itu, bahagia. Tapi begitu liat blog lagi, balik lagi galaw. Ini blog bisa mati suri kalo kelamaan ditinggal. Apa kabar trafik harianku? Apa kabar DA? Apa kabar PA? Apa kabar Klout Score? Hiyalaaaah. Mumet amat, mak! Getok, nih!

Doain, ya. Ini project ambisisus sebenernya, tapi mudah-mudahan berhasil selesai tahun 2016. :')

Wekekekek. Alhamdulillaah, saya nggak galaw kok sebenernya sama angka-angka penilaian sistem blog dan socmed itu. Rejeki mah ada aja, nggak cuma lewat ukuran sistem begituan doang. Yang bikin galau saya sebenernya, Blog Emak Gaoel kok udah lama nggak bikin give away, ya? Bikin lagi aja? Ya, udah ayoklah!

Give away kali ini simpel aja, deh. Nggak ngerepotin temen-temen buat bikin postingan yang pake link keluar sampe 15 biji, deh. Janji! Malah, nggak usah bikin postingan aja sekalian. Cukup ninggalin komen di postingan ini. 

Eaa! Yang satu parfumnya kebalik! :)))

Hadiahnya imut, tapi nggak murahan, bener! Ada dua parfum untuk dua pemenang. Caranya cuma ninggalin komen di postingan ini, tuliskan kesan-kesan dan pesan-pesan untuk Blog Emak Gaoel, pengennya tahun 2016 nanti Blog Emak Gaoel ngapain? Curhat soal jodoh juga boleh. Terserahlah. Ditunggu sampai tanggal 3 Januari 2016, ya! Pengumuman pemenang akan diumumkan tanggal 5 Januari 2016. Sok atuhlah, curhat bebas di kolom komentar saya. *balik leyeh-leyeh lagi*

Kamis, 24 Desember 2015

Masalah Yang Muncul Saat Anak Bilingual Belajar Membaca

  32 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Di balik waw wew wow teman-teman saya melihat Safina yang cas cis cus ngomong bahasa Inggris, sesungguhnya dia sedang menghadapi tantangan di fase usianya sekarang ini.

Membaca dan memahami apa yang dibaca masih merupakan kendala buat dia baik di sekolah dan di rumah. Saya sudah paham kalau masalah ini akan datang cepat atau lambat. Ini adalah salah satu problem umum untuk anak-anak yang dibesarkan dalam dua bahasa (bilingual). Apalagi untuk anak-anak Muslim yang juga harus mengenal huruf arab. Tambah banyak bentuk simbol huruf yang harus dihafal dan dipahami pengucapannya. 


Masalahnya adalah, bicara dan membaca tentu berbeda cara untuk mempelajarinya. Membaca dan menulis mengharuskan Safina untuk tekun mengamati bentuk huruf, menghafal bunyi atau pelafalannya dan bagaimana menyambungnya menjadi kata. Belum lagi memahami arti katanya. Mumet pasti buat anak seumur dia. Dan saya adalah Mama Anti Bikin Depresi Anak, karena mama yang depresi tidak baik untuk kesehatan seluruh anggota keluarga. Hihihi. Saya nggak mau mentang-mentang Safina udah mulai terampil komunikasi dalam dua bahasa, terus membaca dan menulisnya juga harus dua bahasa sekaligus. Dan semua harus dikejar barengan. Whew! Kasian anak guwweeh. 

Masalah yang Dihadapi Safina dan Solusi Ala Emak Gaoel

1. Tertukar bunyi/lafal huruf antara pelafalan dalam bahasa Indonesia dengan Inggris. 

Misalnya, huruf A pada bahasa Indonesia dilafalkan "a", sedangkan pada bahasa Inggris dilafalkan "e". Perlu beberapa waktu untuk Safina memahami kalau bunyi satu huruf bisa berbeda dalam bahasa lain. Ini perlu latihan konstan, tapi jangan dipaksakan. Gimana caranya konstan tapi nggak maksa?
Kalau saya biasanya menyempatkan belajar pelafalan huruf bahasa Indonesia saat sedang belajar pelajaran sekolah. Jadi di pikiran dia akan berasumsi kalau yang sedang dia lafalkan adalah bunyi dalam bahasa Indonesia, karena sekolahnya selalu memakai bahasa Indonesia. Sedangkan untuk menghafal bunyi huruf dalam bahasa Inggris, biasanya saya selipkan saat membaca buku cerita atau membaca tulisan yang ada di dalam game yang sedang dimainkannya. Karena selama ini, saat di rumah dan bermain bersama saya atau tidak, dia selalu memakai bahasa Inggris aktif. Sehingga asumsinya terbentuk untuk melafalkan dalam bahasa Inggris. Ini saya lakukan dengan disiplin, tapi tidak dengan frekwensi tinggi. Artinya, cukup dua sampai lima menit dalam sehari, asalkan terus-menerus.


2.  Cenderung tahu arti kata dalam salah satu bahasa.

Untuk kasus Safina, dia lebih cenderung tahu arti kata dalam bahasa Inggris ketimbang dalam bahasa Indonesia. Untuk mengimbanginya, saya selalu berupaya untuk menjelaskan setidaknya satu kata per hari dalam dua bahasa. Misal, dia sedang sering mendengar kata "villager" dari game yang sering dimainkannya. Saya jelaskan kalau dalam bahasa Indonesia, "villager" berarti "orang desa". Dan biasanya pertanyaan berlanjut, "What's 'desa'?" Dari sana percakapan akan berkembang, dan kalau dia masih melontarkan pertanyaan lanjutan, artinya dia akan belajar lebih dari satu kata hari itu. Tapi kalau tidak, ya udah. Saya hanya melanjutkan dengan mencontohkan tulisan satu kata tersebut.
Untungnya, Safina di rumah adalah anak yang aktif sekali bertanya dan diskusi dengan saya. Heu euh, kalau di luar rumah dia pemalu banget. Gemes sebenernya, tapi balik lagi, saya nggak mau maksa anak. Paling saya coba cari solusi-solusi kreatif ala-ala saya aja untuk menyiasatinya. Salah satunya dengan membuat home video kayak gini untuk memancingnya agar lebih percaya diri berbicara.



3. Lama memahami rangkaian kata dalam kalimat.

Iya jelas aja. Untuk menghafal kata aja udah harus berjuang, ditambah lagi harus mengerti makna dalam beberapa kata di satu kalimat. Belum lagi kalau kalimatnya panjang. Yang suka bikin saya rada stress dikit itu kalau udah baca soal pertanyaan esai di sekolahnya. Untuk anak kelas 1 SD, pertanyaan sudah banyak yang berbentuk seperti soal cerita. Minimal ada tiga sampai lima kalimat panjang sebelum pertanyaan dilontarkan. Bujubuneng!
Kasian sebenernya sama anak-anak ini, makanya Safina nggak terlalu saya push untuk dapat nilai bagus di sekolah. Bukan saya cuek dengan pendidikannya. Tapi buat saya, lebih baik dia menikmati proses belajarnya ketimbang tertekan untuk bisa dapat nilai tinggi di sekolah. Hey, buat yang anak-anaknya pinter di sekolah, no offense, ya. Tiap anak berbeda. Maybe my kid just needs different way of learning. Balik lagi, itu tanggung jawab saya untuk menemukan cara yang paling efektif untuk dia. Cara saya belum tentu manjur untuk anak lain.



4. Dikte menjadi "siksaan" sekaligus "permainan" yang mengasikkan.

Gimana itu, deh? Waktu awal mulai sekolah beberapa bulan yang lalu, Safina sempat mengeluh sama saya soal dia nggak suka kalau gurunya menyuruh mereka sekelas menulis dengan cara dikte. Buat anak-anak yang sudah lancar membaca tentu saja itu tugas yang mudah, tapi buat Safina lain hal. Dia berjuang keras untuk bisa menulis kata per kata yang diucapkan gurunya. Sering saya temui kesalahan eja di buku tulisnya. Sekali lagi, saya paham perjuangannya. Dalam hati cuma bisa mendoakan dan mencari jalan keluar.
Akhirnya saya menemukan solusi asik untuk menghadapi masalah ini. Tiap hari, minimal satu kata dalam bahasa Indonesia dan Inggris akan saya diktekan huruf per huruf untuk dituliskan oleh Safina. Jika itu kata dalam bahasa Indonesia, saya lafalkan ejaan dalam lafal abjad Indonesia. Kalau kata tersebut dalam bahasa Inggris, saya lafalkan dalam lafal abjad Inggris. Nggak banyak-banyak, satu kata aja masing-masing. Kadang dalam seminggu satu kata itu diulang terus. Seenggaknya, perlahan tapi pasti, dia mengingat susunan abjad untuk kata tersebut.


Beberapa solusi di atas sudah ada beberapa yang memperlihatkan hasil. Sekarang Safina lebih lancar saat mengerjakan PR-nya dari sekolah. Walaupun masih harus saya bantu sesekali. Dan sejak minggu lalu, Safina punya diary yang ditulisnya setiap hari, dalam bahasa Inggris. Buat saya, ini kemajuan yang luar biasa. Mungkin banyak anak di luar sana yang sudah lancar membaca sejak balita. Tapi saya berusaha untuk tidak terintimidasi dan sebisa mungkin membangun kondisi yang tidak menekan Safina juga, supaya proses belajarnya tetap menyenangkan.

Sebenarnya masih ada beberapa masalah seputar proses belajar membaca Safina, sih. Tapi saya lupa. Hahaha Ntar deh, kalau inget lagi, saya bikin sambungannya. Intinya, nggak ada masalah yang tidak dilengkapi dengan solusi. Jadi orang tua kreatif itu bukan pilihan lagi untuk jaman sekarang, melainkan kewajiban. Semoga ke depannya dia akan memetik buah dari kegigihannya memakai dua bahasa sekaligus sejak kecil. Ibaratnya, Safina sedang menanam benih saat ini Dia lagi bersusah payah menjaga benihnya agar tumbuh dengan rutin menyiram dan memberi pupuk. Suatu saat kelak, dia sendiri yang akan memetik hasilnya. Semoga.  

Hi, my daughter's name is Safina. She's seven years old and still learning how to read, in Indonesian and English. 
She's struggling, and I'm proud of her! ^_^ 


Baca artikel saya yang lainnya seputar anak bilingual di SINI

Sabtu, 19 Desember 2015

Selalu Ada Waktu untuk Bermain Bersama Anak

  30 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Kata pakar anak, bermain dengan anak-anak bisa membuat tingkat stress orang dewasa turun. Saya udah lama banget meng-amin-kan ini. Sejak punya anak, dari bayi, kalau sedang bermain dengan mereka perasaan saya selalu jadi lebih enteng. Lupa utang dan cicilan. Hahaha! 


Katanya pakar lagi, sering-seringlah menghabiskan waktu dengan anak kecil karena mereka, selain menjadi hiburan penghilang stress, selalu bisa memberikan sudut pandang berbeda yang kadang terlewat oleh orang dewasa. Buat saya pribadi, bermain dengan anak justru banyak memberi manfaat ke diri saya sendiri pada akhirnya. If you want to be a happy person, play with your kids. 

Anak jaman sekarang sulit dipisahkan dari perangkat elektronik. Kenapa harus dipisahkan? :D

Hal yang paling terasa saat bermain dengan anak-anak adalah interaksi berbentuk komunikasi yang terjalin saat bermain. Emang kadang kalau main sama Safina, fisik terkuras, tapi sering banget saya mendapat insight yang di luar duaan dari percakapan kami. Saya jadi bisa tahu apa yang sedang dia rasakan, apa yang sedang dia inginkan, atau malah apa yang dia harapkan dari saya, ibunya. Amazing!

Safina tumbuh tinggi dan sehat. Aamiin. :D

Agak gimana gitu kalau baca status orang-orang di social media tentang betapa sulitnya menemukan waktu untuk bermain dengan anak-anak mereka di jaman yang serba sibuk ini. Heu euh, saya juga nggak menyangkal, 24 jam hari gini rasanya kayak sekedipan mata kalau nurutin semua aktifitas. Tapi saya belajar bahwa prioritas adalah kuncinya. 

Bermain prakarya dengan kertas salah satu kegiatan favorit anak-anak di rumah.

Ditambah lagi, sekarang banyak orang tua yang menyerahkan waktu bermain mandiri anak kepada perangkat elektronik komunikasi seperti tablet, smartphone dan laptop. Saya termasuk salah satunya, jujur aja. Suara sinis tentang orang tua jaman sekarang yang dengan mudahnya menggantikan posisi mereka dengn gadget sebenarnya nggak perlu kedengaran, menurut pendapat saya. I mean, kalau mau anak tidak tersentuh gadget, orang tuanya duluan dong yang nggak nyentuh gadget. Hehehe. Sedangkan mengeluhkan anak jaman sekarang yang kurang banget main di luar di social media, menurut saya paradox banget jadinya.

Sesekali masak bersama. Resep-resep sederhana dan cepat jadi aja, deh! ;)

Saya lebih suka menjadi orang tua yang merangkul kemajuan jaman untuk mendidik anak-anak saya. Saya suka mengenalkan permainan baru di tablet yang bisa membawa manfaat untuk perkembangan mereka. Lagian, saya juga aktif banget di social media, ya kali anak- anak saya larang buat megang gadget. Impossible. Semuanya kembali lagi ke priotas dan keseimbangan. Semua ada waktu dan batasan. Saya selalu atur untuk mereka.

Jalan-jalan ke museum bersama keluarga. Penting! 

Kalau kira-kira udah lama nggak main keluar rumah, berarti sudah waktunya main sepeda di luar atau bantuin Mama bersihin rumah. Kalau misalnya udah lama fokus ke project online (anak saya, Fadhil, lagi suka bikin animasi di laptop), dia harus mengimbangi dengan membaca buku atau kegiatan artistik lainnya seperti menggambar atau crafting. Bottomline, nggak perlu musuhan sama gadget kok untuk bisa menghasilkan generasi yang sehat fisik dan mental. 

Melukis juga jadi salah satu kegiatan bermain yang disukai anak-anak saya. 

Mendidik anak agar jadi generasi sehat itu kan bukan cuma tergantung sama satu aspek aja. Ada banyak yang mempengaruhi. Mulai dari kondisi lingkungan (rumah dan sekolah), hubungan dengan anggota keluarga, kebersihan diri, kegiatan fisik dan yang paling mempengaruhi tentu saja kecukupan gizi.

Berenang? Wuih, tiap hari kalau bisa! Hahaha! 

Alhamdulillaah (berkat gadget) saya juga jadi rada pinter dan paham tentang pentingnya ASI ekslusif untuk bayi. Dua anak saya, walaupun tidak sampai usia 2 tahun menyusui, tapi mereka lulus ASI Ekslusif 6 bulan. Bukan tanpa perjuangan memang, tapi karena saya tahu pentingnya untuk masa depan mereka, saya usahakan segala cara agar terpenuhi. Selepas itu, lanjut dengan mencukupi gizinya dengan banyak makanan dan minuman penunjang gizi sehat.

Pagi-pagi buta mengejar Car Free Day biar puas main sepeda di jalan raya. Seru!

Soalnya paling mumet jadi ibu itu kalau anak udah jatuh sakit. Daya tahan tubuh anak-anak memang rentan banget kena penyakit. Udara dingin dikit, kena flu. Cuaca panas dikit, tau-tau mimisan. Kebanyakan minum es, tenggorokan sakit. Tantangan besar bagi seorang ibu buat saya justru di bagian ini, menjaga asupan gizi anak-anak saya supaya daya tahan tubuhnya bagus. Salah satu caranya, selain makan makanan bergizi, ada Friso yang mengandung nutrisi yang mampu menjaga daya tahan tubuh anak dari dalam. Soalnya proses pembuatan Friso menggunakan teknik pemanasan yang tidak berlebihan menjaga keutuhan nutrisi dari alam sehingga membantu menjaga daya tahan tubuh agar anak siap mengeksplor dunianya. Istilah kerennya, anak-anak jadi stronger inside dengan Friso.

Coba-coba posisi yoga, yang penting diawasi, biar gak salah posisi, ya. :D

Balik lagi soal bermain bersama anak, soal waktu jangan jadi kendala ya, mak. Soalnya, kalau waktunya dicari, memang susah ketemunya. Untuk menyiasatinya (berdasarkan pengalaman pribadi), kitanya yang harus kreatif. Setiap saat bisa jadi waktu play day dengan anak kita. Kalau lagi main ke rumah neneknya, Safina suka bantuin Nenek menyiram tanaman. Buat kita kegiatan itu membosankan, tapi buat dia menyenangkan sekali. Atau pernah juga, waktu saya lagi sok-sok nyobain pose yoga yang saya lihat dari Instagram, Safina malah lebih semangat untuk mengikuti pose itu. Ujung-ujungnya malah dia lebih jago dari pada saya.  

Ke pantai dulu, biar santaaaai. :D

Beberapa orang tua kadang suka bingung mau mengajak main anak yang sesuai dengan minatnya. Sama, saya juga kadang begitu, kok. Soalnya Safina ini model anak yang suka mencoba apa aja. Tapi tiap anak pasti ada kecenderungannya. Kalau saya perhatikan, Safina cenderung suka bermain yang berhubungan dengan eksperimen dan air. Jadi memang playday dengannya nggak jauh-jauh dari melukis pakai cat air, berenang, menyiram tanaman dan pernah juga hujan-hujanan. Saya coba cek di kuis #FrisoPlayDay. Di sana ditanya, “Apa kemampuan si Kecil yang paling menonjol saat ini?”, “Obyek apa yang paling menarik perhatian si Kecil?”, dan “Kegiatan apa yang paling disukai si Kecil saat berada di rumah?”. Ternyata benar, Safina lebih cocok dengan kegiatan yang banyak berhubungan dengan air. Kegiatan utamanya, harus lebih sering dibawa berenang. Silakan atuh, coba sendiri kuisnya, biar bisa menemukan kegiatan playday apa yang paling cocok, seru dan bisa dnikmati sama anak-anak kita. 

Penting nggak mengajak si Kecil bermain? Pentinglaah! Tapi bermain yang kayak gimana dulu, nih? Yuk, cari tahu di #FrisoPlayDay kuis. ;)

Saya setuju banget sama campaign #FrisoPlayDay yang lagi diangkat sama Friso di website-nya. Soalnya anak-anak sejatinya memang selalu bermain. Apa pun medianya, di mana pun lokasinya, kapan pun waktunya, anak akan selalu belajar hal baru dengan bermain. Yang paling penting, orang tuanya juga harus enjoy bermain dengan anak-anaknya, ya. ;)

Senin, 14 Desember 2015

Crafting for Charity 2015, Fund Raising Blogger/Crafter Jelang Tutup Tahun

  17 comments    
categories: 
Assalamu’alaikum.

Haloo! Emak Gaoel cuti beberapa hari ngeblog, pasti udah tahu kan kenapa? *sok seleb* Heu euh, saya dan beberapa teman penggiat crafting lagi sibuk sama project akhir tahun kami, Crafting for Charity. Buat yang belum tahu, Crafting for Charity adalah kegiatan tahunan kami setiap bulan Desember untuk menggalang dana. Kami menjual hasil kreasi crafting (prakarya) handmade untuk mengumpulkan dana yang akan disumbangkan untuk kegiatan sosial. Cerita awalnya ada di sini.


Tahun ini nggak jauh beda, kok. Saya emang nggak mau non-stop ngeblog terus ngelupain hobi crafting saya. Selain itu, kegiatan ini yang membuat saya jadi rada “waras” dikit di dunia perbloggingan Indonesia yang luar biasa cetar dan dramatis, terutama akhir-akhir ini. Bhihihi. Ini saya lakukan justru karena saya cinta banget sama blogging, jadi perlu banget buat saya untuk menjaga mood dengan melakukan hal lain dulu selama beberapa saat. 

Tahun ini, Crafting for Charity ketambahan tenaga penyumbang ide dan produk. Kalau tahun lalu kami memulainya bertiga (saya, Teh Dey dan Mbak Ria Rochma) kemudian disusul oleh Rina Shelomita. Tahun ini total ada tujuh crafter yang bergabung dalam kegiatan Crafting for Charity. Ada Mbak Susindra yang jago banget bikin bros bunga dan produk sendal ukirnya yang unik, ada Mbak Vivera yang suka bikin asesoris mulai dari gelang, kalung dan bros. Kemudian ada Mbak Irowati yang terampil membuat beragam pouch. Alhamdulillaah, lengkap, ya. 


Tahun ini saya fokus membuat handmade greeting card. Tidak seperti tahun lalu yang juga membuat handmade notes. Soalnya, mulai project-nya tahun ini rada telaat. Huks. Jadi nggak bakalan sempat kalau semua dipegang. 

Alhamdulillaah, tahun ini juga Crafting for Charity meluncur lewat fanpage-nya. Like ya, like ya! Biar lebih rapi dan memudahkan teman-teman untuk memilih produk buatan kami dan bertransaksi. Berhubung fanpage-nya juga masih bau kencur, like dan gaungnya masih malu-malu kunyuk, kami akhirnya ngadain giveaway juga. Siapa aja yang share info yang ada di fanpage Crafting for Charity selama bulan Desember akan kami undi di akhir bulan. Dua pemenang akan mendapatkan produk buatan para crafter di Crafting for Charity. Ikutan atuhlah. Cuma klik share doang, ich! 




Kalau mau lihat-lihat sebagian dari hasil kreasi kartu buatan saya, silakan. Sebagian besar sudah ada yang adopsi. Sebagian lagi jadi best seller (guaya!) karena banyak yang memesan desain tersebut. Kalau kamu ada request untuk quotes atau tulisan yang diinginkan di kartu, saya juga OK aja. Saya mah apa atuh, orangnya emang gampangan. 

Plus, minggu ini akan ada produk baru hasil kolaborasi saya dengan Mak Tanti Amelia yang jago banget menggambar ilustrasi, lho! Sekarang masih dalam proses. Tunggu, ya! Ini keren banget, bener! 




Pokoknya di postingan ini saya emang jualan, buat amal. Hayo dibeli, ya! 50% dari keuntungan kami sumbangkan ke Komunitas Lebah yang akan mengadakan kegiatan Cerdas Tanpa Batas untuk anak-anak yang kurang mampu dan terbatas akses serta fasilitas pendidikannya. Cerdas Tanpa Batas tahun ini akan diadakan  di sebuah desa di daerah Pandeglang, Banten bulan Januari awal nanti. Kalau kamu mau ikut menyumbang buku dan alat tulis juga bisa, langsung kontak Komunitas Lebah-nya. 


Tunggu apa lagi? Tutup tahun dengan beramal. Supaya tahun barunya berkah, cuy! Selamat belanja.

PS: Iklan banget. Vote saya dong di Kerala Blog Express. Hihihihi! Yang vote saya doain dapet rejeki berlipat ganda tahun 2016. Aamiin.