Senin, 05 Desember 2011

"Jual Diri"

  17 comments    
categories: ,
Ini bukan "jual diri" tapi jual buku...gahahahaaa...

"Serius, mbak! Kalau bukan kita sendiri yang jual diri, kapan orang tahu kita? Lain cerita kalau kita udah terkenal, nggak usah repot-repot lagi bilang, 'Ini lho, saya...yang begini, yang begitu, yang pernah ini, yang pernah itu!' Ya, kan?"
Itu omongan si Srondol, beberapa waktu lalu, saat saya dan teman-teman dari Kampung Fiksi akan presentasi ke Indosat dalam rangka mencari sponsorship. Saya agak rikuh waktu Srondol dengan berapi-api memperkenalkan saya sebagai, "Emak-emak penulis, nih! Sudah menerbitkan lima buah buku. Dan mbak Winda ini istrinya...bla...bla...bla...Kenal kan, pak?" Begitu katanya ke bapak Division Head yang akan meeting dengan kami hari itu.
Walaupun semua yang dikatakan Srondol itu kenyataan, tapi saya risih. Mungkin karena saya takut ada kesan sombong dalam caranya memperkenalkan saya, padahal bukan saya yang melakukannya. Sekali lagi Srondol menggeleng saat saya bilang, "Nggak segitunya juga kali, Ndol!"

Saya paham, dalam dunia komunikasi, ada saatnya kita sebagai individu memperkenalkan diri melalui prestasi kita. Terutama kalau komunikasi yang ingin kita jalin adalah sebuah komunikasi bisnis atau kerja sama. Impression atau kesan itu penting. Image atau citra itu perlu dibentuk sejak awal. Bukan hanya untuk menaikkan posisi tawar (bargaining power) kita, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri kita saat mempresentasikan sesuatu di hadapan orang lain yang belum mengenal kita sebelumnya.
Pengalaman diperkenalkan sebagai "Si Emak yang Sesuatu" oleh Srondol itu adalah pengalaman pertama saya 'menjual diri' demi sebuah kepentingan. Jujur saya risih. Saya takut ada kesombongan atau takabur terkesan di dalamnya. Watak orang Indonesia yang sering merasa malu tanpa alasan yang jelas, memang jelas membentuk sikap saya sejak kecil. Malu itu sopan. Bahkan dalam agama saya pun diajarkan untuk selalu merasa malu, terutama kepada Tuhan, agar kita selalu sadar kalau manusia hanyalah makhluk ciptaanNya yang jauh dari sempurna. Malu menjauhkan kita dari sifat takabur dan sombong.
Personally, saya memang tidak pernah menyukai orang yang sombong (siapa juga yang suka?) dan paling takut kalau sampai saya kena cap 'Sombong' dari orang lain. Itu sebabnya sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak terlalu tampil menonjol dalam setiap kesempatan. Entah itu melalui penampilan atau cara berbicara dan memperkenalkan diri. Kadang, saking saya menghindari kena cap 'sombong' itu saya ibarat sebutir pasir di pantai, tidak terlihat. Tidak ada yang notice akan kehadiran saya, apalagi ngeh kalau saya ada di sana. Untuk beberapa saat saya tidak ada masalah dengan keadaan itu. Tapi saat saya butuh perhatian dari orang-orang tertentu, ternyata menjadi invisible itu menyebalkan sekali. Boro-boro didengar, dilihat aja nggak!
Saya jadi sadar, being humble (rendah hati) beda banget dengan rendah diri. Rendah hati tanpa kebanggaan akan diri sendiri, cenderung jatuhnya seperti rendah diri. Tapi terlalu berbangga dengan diri sendiri juga sangat riskan membuat kita terjerumus ke dalam kesombongan. Segala sesuatu ada takarannya. Orang yang bijak adalah yang tahu bagaimana bersikap dalam setiap keadaan. Jangan mentang-mentang lagi bicara di depan sekumpulan ibu-ibu dengan latar belakang pendidikan SMP, kita koar-koar, "Saya ini S2, lho!" Selain mereka juga belum tentu paham S2 itu apa dan kerennya seperti apa, nggak nyambung juga sama audience atau lawan bicara kita.
Balik lagi ke soal 'jual diri' tadi. Kenapa tiba-tiba saya ngomongin soal itu hari ini? Gara-garanya, saya harus mengirim naskah yang disertai dengan sedikit biodata pribadi saya secara deskriptif. Saya bingung, bagaimana caranya menggambarkan diri saya sebagai penulis tanpa terkesan sombong dan norak. Kalau jatuhnya norak, bisa-bisa saya jadi bahan tertawaan. "Baru segitu doang, sombongnya amit-amit!" Huaaa, saya bisa nggak doyan makan dan tidur kalau sampai itu terjadi! (which is, maybe it's a good way to loose weight....wkwkwkwk..nggak deng!)
Saya bingung, haruskah saya sebutkan semua achievement saya dalam menulis di biodata singkat itu? Bagaimana kalau mereka tidak meloloskan naskah saya, karena saya terlalu berusaha rendah hati, dengan tidak menyebutkan semuanya? Atau bagaimana jika mereka menolak naskah saya karena menilai saya terlalu norak dan sombong? Wuah, ini mind game, nih! Wkwkwkwk, mulai lagi deh, lebay!!!
Akhirnya setelah melalui edit, hapus, ketik, edit, hapus lagi, saya bisa menyelesaikan biodata deskriptif saya dalam satu paragraf. Saya tidak tahu bagaimana kesan yang akan didapat oleh pembaca, karena itu jelas di luar kuasa saya. Tapi yang saya tahu, setiap niat baik akan selalu terlihat pada waktunya. Saya tidak berniat untuk sombong, saya hanya perlu 'menjual diri' saya untuk kepentingan tertentu; dalam hal ini seleksi naskah. Jadi saya rasa, apa pun yang saya tuliskan dalam deskripsi itu sudah cukup mewakili penilaian saya akan diri saya sendiri. Hello! Kalau kita nggak bisa menentukan dimana posisi kita berada, gimana mau berharap orang lain tahu posisi kita? Maksudnya, bangga pada diri sendiri itu penting, jadi sombong itu yang jangan. 'Jual diri' itu perlu, asal jangan jadi murahan dan kena cap 'norak! Wahahahahaa, susah? Iya, susah emang. Soalnya penilaiannya benar-benar ada di tangan orang lain. Berdoa aja deh, semoga mereka nggak salah persepsi. As I said, niat baik akan selalu menemukan jalannya sendiri.
So, siapa mau 'jual diri'? Hahahahahaaa...

17 komentar:

  1. salah mempresentasikan sekecil saja bsa brakibat fatal ya?

    BalasHapus
  2. wuahhh emak2 penulis?
    Cool !!

    kapan yak..pengen belajar.suatu hari nanti.
    jual diri ? hmm mikir2 dulu apa yang bisa dijual.awkawkakwkakwaw

    BalasHapus
  3. bangga pada diri sendiri itu penting, jadi sombong itu yang jangan. 'Jual diri' itu perlu, asal jangan jadi murahan dan kena cap 'norak!

    bagus mbak Winda.... suka tulisannya...

    BalasHapus
  4. emang susah 'si persepsi' itu mbak...kayak bunglon beda2 tergantung isi fikiran orangnya ya.... tapi memang sih niat baik akan menemukan jalannya... Maju terus mbak ^__^

    BalasHapus
  5. yang ahlinya menulis saja masih belum pede untuk menjual diri ya mbak :) bener jangan sampai berlebihan, saya yakin mbak Winda bukan type seperti itu kan ya

    BalasHapus
  6. kirain apa toh bunda rupanya, jual diri seperti pelawak itu ya cuma jangan sampai keceplosan, hmm saya mulaih paham deh arti maskud dari judul postingan bunda kali ini hehe

    BalasHapus
  7. prestasi kan ibarat senjata mbak...

    ada saat2nya mesti di keluarkan, ada saat2nya di sipan baik2 dikolong tempat tidur...

    jooos!

    BalasHapus
  8. k[A]z:
    hehehee, bisa jadi, gitu...jangan kelebihan, jangan kekurangan, yg sedang2 saja... :D

    Uchank:
    mau belajar apa? nulis? itu udah bisa.. :P cepetan cari apaan yg bisa dijual...siapa tau laku, ntar aku dapet komisi ya.. :P

    Insan:
    sip..jangan sampeeee jadi orang sombong...tapi kadang kita juga suka gk sadar kalau udah jadi sombong, makanya perlu berteman, suapaya ada yg mengingatkan.. ;)

    Nufus: tau tuh, anak siapa sih si persepsi itu? wkwkwkwkwk...makasih yaa... :D

    Mama Pascal: hai mbak lidyaa, ketemu lagii...insya Allah mbak, tolong diingatkan kalau saya udah mulai aneh2 ya..wkwkwkwkwk

    Auraman:
    ya masa aku mau jual diri beneraaaan...hihihihi..makasih ya udah mampir.. :D

    Ambu:
    laik yu.. ^^

    BalasHapus
  9. SRONDOL:
    wuaaah, itu diaa perumpamaan yg tepat! senjata juga kalau tidak digunakan dengan bijaksana bisa membunuh org2 yg gak bersalah, dan mungkin juga bisa jadi senjata makan tuan.... weh, makasih mas Srondol, kemaren aku udah dijual..bwaakakakakakaa..

    BalasHapus
  10. tapi kalo berlebihan bisa bikin orang kesel, kayak yang gimanaaaaa gitu.. :D

    BalasHapus
  11. setuju mbaa, terkadang niat kita untuk berbagi apa yang kita bisa, namun sayangnya kultur kita beum tentu bisa menerimanya. Tapi, aku dukung mba, tuliskan aja dengan apa yang mba rasakan sekarang, semangkaa :)

    BalasHapus
  12. Andy:
    hahahahaa, iya, makanya harus pinter2...jangan berlebihan, ntar bikin neg orang... :D

    @yankmira:
    iya, ada bagusnya juga budaya malu masih kita pegang, setidaknya bisa jadi semacam pembatas aja kalau2 kebablasan... ;) makasih ya.. :)

    BalasHapus
  13. berapaan bukunya? keknya bagus juga :)

    BalasHapus
  14. setuju sama komentar bung srondol...
    gimana mbak winda

    BalasHapus
  15. Ya ampun, mbak.. :|
    Persis banget kegalauanku.. :|
    Akupun sedang bingung gimana caranya menjual diri.
    Tapi selalu takut dianggep "manggung".. :|

    BalasHapus