Sabtu, 10 Oktober 2015

Kapan Bilang "NO" untuk Tawaran Kerja Sama di Blog?

  78 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.


Baca judul, kok songong amat nih postingan, yak? :v Tenang, ibu-ibuk. Jangan cepat emosi, itu kerutan di kening udah kayak kain katun nggak disetrika. *pake anti aging* Kita ngubrul santai aja, yuk yah? 

Kan ceritanya blogger-blogger nih katanya lagi "naik daun", yaaa! Banyak diincer sama brand/perusahaan/agency untuk diajak kerja sama mengangkat campaign yang lagi mereka lakukan. Mostly, blogger diajak untuk kerja sama dalam bentuk sof selling berupa tulisan ala-ala user experience gitu. Jadi semacam testimoni-lah, tapi dibayar. Bhihihihi. Gak ada yang larang, kok. Sok aja, ateuh.

Saking banyaknya brand yang mulai ngincer blogger, sampai akhirnya blogger-nya yang kebanjiran tawaran kerja sama. Seneng, dong? Ya, iyalah seneng. Kan, dibayar? Tapi apa semua tawaran terus diterima aja, gitu? Mau produk-nya apaan aja, terima. Mau bayarannya berapa aja, terima. Mau yang nawarin siapa aja, terima. Mau perjanjiannya kayak gimana juga, terima. Pokoknya hajar, bleh! Hihihi, ya terserah blogger-nya, sih. Blog punya sendiri ini, bebas, dong! Duile, iya iya, gak usah sewot gitu, dong. :v

Intinya gini, beberapa blogger mungkin (MUNGKIN, yaa!) ada yang merasa jengah aja kalau isi blognya "jualan" semua. Apalagi yang dulunya bikin blog karena buat tempat curhat. Lah, kok jadi semacam bergeser gini tema dan topik yang dibahas? Akhirnya, beberapa blogger memasang rambu-rambu sesuai dengan keinginan masing-masing. Nggak semua tawaran kerja sama diterima. Sama. Saya juga punya rambu-rambu itu. Mungkin nggak sama dengan teman-teman lain, tapi ya bolehlah dibagi di sini. Buat apaan? Buat apa, kek! Terserah. :v

NO untuk Produk Tertentu

Di Blog Emak Gaoel, sejak awal saya udah pasang rambu dilarang masuk untuk kerja sama dengan brand/perusahaan rokok, minuman keras, judi online, asuransi dan susu bayi. Mungkin hampir sama dengan kebanyakan blogger juga untuk rambu yang ini. Karena blog saya ini menyandang nama "emak" di dalamnya, emang belum pernah masuk tawaran dari perusahaan rokok, miras dan judi online. Tapi beberapa kali masuk juga dari perusahaan asuransi dan susu bayi. Maaf, kita tidak berjodoh. Blog ini pernah kerja sama dengan produk susu anak (bukan susu bayi), itu pun bukan review produk melainkan meliput acara yang diadakan oleh brand susu anak tersebut. Kalau diminta untuk sharing experience saya nggak bisa terima karena anak-anak saya sejak umur 6 tahun sudah berhenti minum susu. Saya nggak mau bohong. Maksa bocah minum susu terus difoto. "Ayo, minum susunya! Kalo nggak mama nggak dibayar, nih!" Wakakakak. Kasian bener anak gue. :v

NO untuk Brand Sejenis dalam Waktu Dekat

Khusus untuk review berbayar, saya selalu usahakan agar tidak ada produk sejenis dalam jangka waktu tertentu. Waktu yang saya tentukan biasanya minimal 3 bulan. Apa harus begitu? Ya, nggaklah. Ini kan buat blog saya. Ya kalau buat blog orang lain, atur aja sendiri enaknya gimana. Kecuali dalam perjanjian kerja sama memang ada ketentuan, tidak boleh bekerja sama dengan brand sejenis selama sekian lama, ya sebenarnya nggak masalah. Saya pernah juga kok menerima kerja sama dengan sebuah aplikasi, lalu 3 bulan kemudian aplikasi sejenis mengajak kerja sama, dan saya terima. Karena perjanjian dengan aplikasi yang pertama tidak mengikat dan masa tunggu yang saya tentukan sendiri sudah lewat (3 bulan).

NO untuk Fee Jauh Di Bawah Standard Rate

Ini topik panas. Tidak semua orang punya pandangan yang sama dengan saya. Saya pernah tulis di sini, bahwa sesungguhnya bukan masalah jumlah nominalnya yang utama, melainkan kenyamanan proses kerja samanya. Saya pernah beberapa kali dibayar "seadanya", tapi karena saya suka dengan produknya dan pembicaraan yang terjalin sangat menyenangkan, tidak ada masalah. Yang saya bicarakan di sini adalah kerja sama dengan brand besar yang sudah established. Saat mereka meminta kriteria tertentu dalam tulisan saya, itu berarti ada ekstra kerja juga bagi saya. Dan ekstra kerja, berarti ekstra payment. Itu lumrah. Saya mata duitan? Nggak. Saya hanya minta kompensasi yang sesuai dengan effort yang sudah saya keluarkan.

NO untuk Perjanjian Berat Sebelah

Udahlah nggak boleh terima job dari brand kompetitornya, kita juga dilarang untuk menghapus tulisan selamanya dari blog, trus rate ditawar sampai separuhnya, dan baru dibayar setelah 3 bulan tulisan tayang di blog. Ini mau bikin gue nangis apa gimana? Wkwkwkwk. Itu tadi cuma ilustrasi aja ya tentang perjanjian yang berat sebelah. Sebenarnya nggak banyak kok agency atau brand yang bikin perjanjian semena-mena gitu. Kebanyakan agency dan brand yang pernah kerja sama dengan saya sangat kooperatif dan enak diajak kerja sama. Tapi ada aja beberapa yang bikin mata agak memicing dikit waktu baca surat kontrak. Eh, disuruh beli sendiri produknya? Harganya hampir separuh dari fee yang disetujui. Lah?

Ya, segitu aja, ya. Saya takut kepanjangan, bisa memancing  kontroversi hati yang menghempas dunia dengan manja aduhai. Halah! Basically, I was just sharing my experience. It might not suit the way you blog, it's OK. We're still friends, right? #ngedip #kelilipansendal

Baca ini juga, ya.

Tanya Jawab Seputar Job Review
Suka Duka Job Review
Tujuh Tahun Membangun Brand Emak Gaoel




Jumat, 09 Oktober 2015

15 Tahun Perjalanan Seorang Jurnalis Sepak Bola

  31 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Kemarin Pak Suami nyeletuk, "Eh, bulan ini ternyata udah 15 tahun jadi wartawan bola." Saya langsung manggut-manggut, gak tau mesti bilang apa. Soalnya belum sarapan. Hahaha! Nggak deeng, saya cuma lagi flashback aja begitu dia ngomong gitu. 



Whew, lima belas tahun itu bukan waktu yang singkat. Lima belas tahun yang lalu saya kenal dengan dia lewat chat room, masih berstatus pengusaha warnet milik sendiri. Masih gondrong, penampilan ala anak metal, badan masih cungkring, dan naik Vespa ke mana-mana. Beberapa bulan kemudian, karena begitu "jadian" (duile, istilahnya bikin eneg banget) saya udah kasih ultimatum potong rambut dan cari kerja, dia diterima bekerja di sebuah majalah olahraga, SPORTIF, lewat ajakan salah satu teman baiknya. Seperti kebanyakan nasib sarjana di Indonesia, pekerjaan nggak harus sesuai pendidikan, pekerjaan yang jauh banget dari gelar sarjana hukumnya waktu itu pun langsung diambil. Daripada nggak kerja? Sementara udah kebelet kawin. Camer mana mau ngelirik kalo belum punya kerjaan tetap. Wkwkwkwk. 


Setelah 2 tahun dia kerja di SPORTIF, baru berani ngelamar cewek kece ini. Maka menikahlah kami dan resmilah saya menjadi istri seorang wartawan bola. Posisinya waktu itu masih reporter. Benar-benar posisi awal dalam struktur kepegawaian di sebuah media cetak. Pelan-pelan saya dan keluarga besar belajar, kalau jam dan gaya kerja wartawan nggak bisa disamakan dengan profesi kantoran lainnya. Berangkat menjelang sore, dan pulang menjelang pagi, itu udah biasa. Orang tua saya yang tadinya khawatir, akhirnya bisa menerima juga. Karena, ya mau gimana lagi? Wkwkwkwk.

Ketika Fadhil lahir di tahun pertama kami menikah, dia memutuskan untuk meneruskan kuliah ke jenjang S2. Saya ketar-ketir. Nggak kuliah aja, waktunya sebagian besar sudah hampir habis di kantor. Ini pake nambah kuliah lagi? Sempet pulang dan nyium istri, gak? Eaaa! Waktu itu saya tanya, ngapain sih ngambil kuliah lagi? Kan udah punya kerjaan. Kan biayanya gede. Kan jadi makin susah ngatur waktu buat anak. Kan, kan, kan yang lainnya menyusul. Dia bilang, sejak awal dia sudah bercita-cita untuk tidak berhenti mencari ilmu sampai jenjang S1. Dia ingin mempersembahkan ijazah S2-nya untuk kedua orang tuanya. Jadi ini sudah ada dalam agendanya sejak sebelum mengenal saya. 


Maka dengan banyak perjanjian, mulailah dia bekerja sambil kuliah S2 di Universitas Indonesia. Weekend dimanfaatkan untuk kuliah dan mengerjakan tugas. Waktu untuk keluarga diselipkan di mana saja kami bisa menyelipkan. Kami bertiga (saya, suami dan Fadhil), menyesuaikan dengan ritme kerja dan kuliahnya yang padat. Satu hal yang selalu saya tanamkan dalam diri saya sejak remaja, nikmati apa yang sedang kamu lakukan atau tidak usah lakukan sama sekali. Nggak pakai lama, karena kondisi seperti itu akan kami hadapi paling tidak selama 3 tahun ke depan, saya mulai bisa enjoy dengan kesibukannya.

Tiga setengah tahun kemudian, dia berhasil mendapatkan gelar S2-nya. Wartawan sepak bola bergelar S2 bidang Hukum Bisnis. Teu nyambung? Eyym! Hahahaha. Tapi dia bahagia. Kebahagiaan terbesarnya adalah ketika akhirnya dia bisa mempersembahkan ijazah S2 untuk Mamah (ibu mertua saya) tercinta. Saya? Untunglah saya perempuan yang punya pola pikir sederhana, suami bahagia, otomatis saya bahagia. Nggak kepikiran tuh, buat apaan gelar S2 itu? Ah, sampai pada waktu yang ditentukan olehNya, apa pun itu ketentuan Allah, pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya. Santai aja, jek. 


Saat saya hamil Safina, dia pindah kerja ke media lain, Top Skor. Irama hidup keluarga kami pun ikut berubah drastis, karena bekerja di majalah dengan di harian (koran) jelas beda. Yang tadinya deadline dua minggu sekali, sekarang SETIAP HARI. Perlahan posisinya merangkak di tengah-tengah struktur perusahaan. Kenaikan pemasukan keluarga, harus dibayar tunai dengan kerja keras yang tak kalah besarnya. Saya makin terampil mengelola hari tanpa kehadirannya mulai sore hari hingga pagi menjelang. Kami mulai luwes mengatur tugas-tugas keluarga dengan jam kerjanya yang tidak biasa itu.

Ah, sedih da' kalau diceritain semua, mah! Wakakakak! Pernah beberapa kali jatuh dari motor karena mengantuk pulang kerja. Pernah nggak bisa nungguin anak di rumah sakit karena ngejar deadline. Tapi alhamdulillaah, kita cepet lupa yang sedih-sedih. Yang diinget seneng-senengnya aja. Seneng waktu dia bisa ngelencer sampai Afrika Selatan dan Ukraine untuk meliput pertandingan bola. Seneng lihat dia bisa selfie-selfie sama pemain bola terkenal idolanya. Seneng waktu dia bisa nongol di layar kaca sebagai pengamat sepak bola dan komentator pertandingan. Perlahan, sosoknya sebagai jurnalis sepak bola diakui oleh kalangan yang lebih luas dari rekan sekantornya. Saya kecipratan bangga, walaupun nggak ada seupil-upilnya pengetahuan saya tentang sepak bola. 


This post I dedicated to my husband, my role model, my partner, my best friend. I'm proud of you!

Saya selalu percaya, jika kita melakukan sesuatu dengan niat karena Allah dan melakukannya sepenuh hati, kebaikan-kebaikan akan selalu menghampiri. Bisa jadi kebaikan-kebaikan itu bukan berbentuk materi, melainkan kebahagiaan hidup yang tidak terbeli oleh emas dan berlian.

Laki-laki ini bekerja keras dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Merintis karirnya dari titik terendah dalam struktur perusahaan. Mengejar nara sumber ke lapangan, dikejar waktu tenggat, menerjang banjir karena berita tak bisa menunggu surut, bekerja sambil kuliah, mengantar anak sebelum ke kantor. Saya saksinya. Jatuh bangun, jatuh sakit, jatuh dari motor, tapi dia tidak pernah berhenti jatuh cinta pada profesinya.

Tidak jarang dia merasa putus asa jika halangan dan kesulitan menghampiri. Tapi kami saling mengingatkan, bahwa tidak semua orang seberuntung dirinya. Memiliki profesi yang dicintai sejak ia masih bocah. Mendapat bonus melihat berbagai sudut negara orang yang sebelumnya bahkan tak pernah melihat lokasinya di peta dunia.

Tak mengapa kurang waktu tidur dua tiga jam. Tak mengapa kadang upah tak sesuai usaha. Tak mengapa juga saya ikut mencari karena toh itu "keberuntungan" saya sebagai pendampingnya. Yang penting, dia mencintai apa yang dilakukannya dan melakukannya karena Allah, maka biarlah Allah yang mengatur segalanya untuk kami.

Semoga Allah melimpahkan kesehatan dan rahmatNya padamu. Semangat terus, Bang!

15 years as a football journalist. You don't have to prove anything to anyone anymore. Keep doing what you do and keep being what you are.





Selasa, 06 Oktober 2015

Toy Gift Guide Obralindo Membantu Orang Tua Mencari Mainan dan Kebutuhan Anak

Assalamu'alaikum.

Tanggal 26 September yang lalu Safina ulang tahun yang ke-7. Bukan tradisi di keluarga kami sebenarnya merayakan dan memberi kado. Faktanya, justru sampai usia 7 tahun ini Safina belum pernah sekali pun dirayakan ulang tahunnya. Karena, ya itu tadi, bukan kebiasaan. Memberi hadiah pun biasanya sambil jalan aja. Kalau pas lagi keluar rumah, uangnya ada, ya silakan. Tapi kalau nggak pun, ya nggak ada masalah. Yang sering biasanya, nenek dan kakek mereka kasih uang dan langsung disimpan sama emaknya. *nyengir* Alhamdulillaah yah, anak-anak saya pengertian banget. :p


Dan waktu ulang tahun ke-7 kemarin, berhubung Safina sudah mulai besar, dan belum pernah sekali pun mendapat kado khusus untuk ulang tahunnya, saya pun memutuskan untuk memberikan sesuatu yang istimewa dalam rangka melepas masa kinyis-kinyisnya. Soalnya saya juga nggak mau membuat ini jadi kebiasaan sampai besar. Mulailah saya gerilya mencari hadiah yang pas untuk anak seusianya. Untung udah kenal sebelumnya sama Obralindo. Apa itu Obralindo? Hayo, pasti pada belum baca tulisan saya yang ini, ya? Obralindo itu market place yang khusus menyediakan produk mainan dan kebutuhan anak dan orang tua, jadi pas banget untuk jadi One Stop Shopping Moms and Dads kalau mencari keperluan anak-anak dan keluarga.

Entah kebetulan atau bukan, di Obralindo ternyata ada fitur baru yang disebut Toy Gift Guide. Laah, kok bisa pas gitu, ya? Enak banget ada fitur ini sekarang di Obralindo. Tinggal klik, masukkan gender anak, usia anak, jenis mainan yang mau dipilih (education, active atau creative toys), lalu masukkan budget yang kita punya. Selesai klik, akan langsung keluar pilihan produk sesuai dengan kategori yang sudah kita pilih.

Saya pilih kategori creative toys untuk Safina (girl), usia 7 tahun dengan budget kisaran Rp 200.000 dan keluarlah beberapa pilihan. Eh kok ya, emang pas ya sama kesukaan si Nana akhir-akhir ini? Mini figures My Little Pony nongol di salah satu pilihan. Dia emang suka banget bercerita dengan memakai properti dan boneka sebagai tokoh ceritanya. Sekarang ini dia lagi sering merekam videonya sendiri bercerita dengan menggunakan boneka (tanpa dia masuk ke dalam frame). Insya Allah, nanti kalau hasilnya udah bagus, akan jadi episode terbaru di Safina's Home Video

Kategori lainnya yang saya pilih adalah Education, dan saya pilih membelikan tab belajar bacaan sholat dan doa harian. Pas banget karena Safina memang sedang melancarkan bacaan sholatnya sekarang.

Yok, lihat video review Safina tentang hadiah ulang tahunnya. Semoga memudahkan Mama Papa yang suka bingung mencari hadiah yang cocok untuk anak-anaknya. Oh iya, karena masalah asap di banyak daerah di Sumatera dan Kalimantan kelihatannya makin memburuk, Safina (dan saya) ingin sedikit berkontribusi membantu anak-anak yang berada di daerah yang terkena asap dengan menyumbangkan rejeki kami. Untuk memancing gairah Safina, saya mencoba membuatnya dengan cara yang menyenangkan. Untuk setiap thumb up di video Safina di bawah ini, Safina akan menyisihkan uang jajannya sebesar Rp 1.000 (plus uang jajan Mama-nya Rp 4.000, total Rp 5.000). Hasilnya nanti akan kami sumbangkan untuk membeli masker bagi korban asap di Sumatera dan Kalimantan lewat akun Aksi Cepat Tanggap (ACT). Jangan dilihat dari nilainya, ya. Niat saya mau mengajarkan Safina untuk peduli sesama dengan cara menyenangkan yang lebih sesuai untuk usianya sekarang ini. So, ditunggu jempolnya sampai akhir bulan ini ya, kakak, om, tante. Ini link Youtube-nya kalau bingung nyarinya. ^_^





Minggu, 04 Oktober 2015

Kamera "Jujur" Andromax R 4G LTE

  14 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Beberapa bulan yang lalu, waktu saya dapat kesempatan jalan-jalan ke Malaysia dengan Anazkia, Pungky, Una dan Darul ke Sepetang Bersama Blogger, istilah "Henpon Fitnah" jadi ngetren di antara kami berlima. Pasalnya, Una bawa smartphone yang kamera depannya bikin muka jadi kinclong banget, walaupun aslinya udah lecek kayak abis digiling mesin cuci. Mwahahaha!

Andromax R 4G LTE (pic: Smartfren)

Sejak saat itu, dalam hati berdoa, "Ya Tuhan, semoga aku juga bisa punya henpon dengan kamera fitnah." (Doa macam apa itu?) Hahahaha. 

Pucuk dicinta, ulat pun tiba. Pucuk, pucuk, pucuk! Emak Gaoel punya smartphone baru yang ciamik gak cuma kamera depannya doang, tapi semuanyaaaa. Lalalalaaa! Nari-nari keliling air mancur di taman. Dan saking kamera depannya bikin saya pede melulu langsung posting di IG tanpa filter, maka saya sebut smartphone ini berkamera jujur. Beneran jujur, gak pake edit-edit apalagi filter-filter. Langsung cuuus, masuk IG. 

Andromax R 4G LTE
(Pic: Smartfren)

Harusnya sih udah pada tau ya kalau Smartfren udah meluncurkan rangkaian seri Andromax terbarunya yang memakai teknologi 4G LTE Advanced. Advanced, ya. Artinya, teknologi 4G LTE yang diusung oleh Smartfren sudah disempurnakan, bukan edisi awalnya. Dari 5 seri Andromax 4G LTE Smartfren ini, yang seri Andromax R memang yang paling bikin mupeng sejak awal.

Diagonal layarnya paling besar (5 inchi) dengan resolusi gambar High Definition IPS OGS yang bikin betah lama-lama nonton video dari henpon. Bening banget! Katanya sih layarnya "dipersenjatai" dengan Dragon Trail Glass yang menjaga ketahan layarnya dari benturan. Saya sih nggak paham-paham banget ya apaan itu Dragon Trail Glass, tapi yang jelas baruuu aja minggu lalu Andromax R saya jatuh waktu turun dari mobil. Udah mau nangis gerung-gerung pas mau ngambil dari kolong mobil. Eh pas diliat, nggak ada lecet ternyata. *nggak jadi nangis*

Selfie pakai kamera depan Andromax R 4G LTE waktu Make Up Battle sama Oline. :)

Nah, kamera Andromax R ini yang bikin hepi banci foto macam saya. Minggu lalu saya ke acara blogger untuk mengikuti sebuah workshop. Seperti biasa, namanya blogger, sibuk ambil foto pembicara di panggung. Teman blogger yang duduk di sebelah saya juga sibuk foto-foto pakai smartphone miliknya. Waktu dia lihat layar Andromax R saya dan membandingkan dengan kualitas gambar dari layar kamera smartphone-nya, dia langsung komentar, "Mbak, hape lo apaan, sih? Bening amat gambarnya?" Eheum. Sebening wajahku, ya? Ngok.

No filter, no edit! Swear! Saking jujurnya ni kamera, noda lipstik di gigi keliatan, lho! Notice, gak? Bwahahaha!

Kamera belakangnya 8 MP lengkap pake dual flash. Kamera depannya, oh kamera depannyaaa! 5 MP dan pakai LED Flash. Pantesan, mau selfie malem-malem yang cahayanya kurang, muka kece tetep keliatan jelas. Kata yang jago foto-foto sih, besarnya MP nggak ngaruh sama kualitas gambar. Saya sih nggak terlalu ngerti soal itu, tapi kalau besaran MP nggak ngaruh dan kualitas yang dihasilkan oleh kamera Andromax R 4G LTE ini bagus banget, berarti emang kameranya mumpuni dong ya, dari segala aspek fotografi?

Hasil kamera belakang Andromax R 4G LTE

Soal sinyal 4G LTE-nya sendiri gimana? Aduh itu mah udah gak usah ditanya, deh. So far, selama pake data internet, ini yang paling lantjar djaja. Enak banget tap, tap, tap, swipe, swipe, swipe, semua langsung nongol. Kalau punya nomor Smartfren dari dulu, bisa di-upgrade ke layanan 4G LTE juga, kok di website Smartfren.

Untuk spesifikasi lainnya, bisa dilihat dengan lengkap di sini, ya. Suara, Dolby Digital Plus. OS, Android 5 Lollipop. Dual UIM/SIM Slot, 4G LTE/CDMA dan GSM. Processor, Snapdragon 410 Quad Core 1.2 GHz. Internal storage, 1 GB RAM dan 8 GB ROM.

Pokoe, saya puassss pake Andromax R! Puas foto-foto dan langsung upload ke socmed. Semacam penting. Hahahaha. Kamu nggak pengen punya? Beli aja, harganya Rp 1.599.000 (berdasarkan web resmi Smartfren). Atau kalau mau mengadu untung, bisa ikut lomba blog Go For It. Siapa tau menang. ;)


Jumat, 02 Oktober 2015

Menjaring Ilmu di Smesco Netizen Vaganza 2015

  15 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Yang tinggal di Jabodetabek, udah pernah lewat gedung SMESCO di Jl. Gatot Subroto, Jakarta? Sering lewat, tapi tahu nggak SMESCO itu apa? Hahaha, jujur baru hari Sabtu (26/9) kemarin saya tahu SMESCO itu kepanjangan dari Small and Medium Enterprises and Cooperatives, atau istilah bekennya dalam bahasa Indonesia adalah KUKM (Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah). Ngaku aja gaul, gitu aja baru tau. Hiks. Tapi bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, Ronaldo? *telenovela*

SMESCO Netizen Vaganza 2015

Ngapain saya ke SMESCO hari Sabtu kemarin? Nah, ini kalau sampai anak gahol socmed nggak tau, keterlaluan banget. Ada acara super duper keren selama dua hari (26-27/9) kemarin di SMESCO. Acara bukan sembarang acara, tapi benar-benar disiapkan khusus untuk yang ngaku netizen sejati. Akrab sama social media? Smartphone nggak pernah lepas dari tangan? Gatel kalau sejam doang nggak nge-tweet? Gelisah lihat kaca bening, bawaannya pengen selfie dan langsung posting di Instagram? Selamat! Kamu sah jadi netizen! Tapi netizen yang gimana dulu? Hohoho, di SMESCO kemarin itulah kita diajarin untuk jadi netizen yang berkualitas cetar menghempas.

SMESCO Netizen Vaganza 2015 selama dua hari ini, diisi dengan workshop dan talkshow bergizi tinggi untuk para netizen. Mulai dari talkshow tentang travel writing oleh penulis traveling inspirasional, Agustinus Wibowo, tips dan trik menjadi vlogger sukses oleh vlogger famous, Sacha Stevenson, workshop Monetize Your Socmed oeh Yeyen Nursjid dan workshop fotografi oleh Raiyani Muharramah. Hmm, nyesel kan nggak dateng? :v

Beruntung banget saya menyediakan waktu seharian untuk ngendon di gedung SMESCO untuk mengikuti acara keren ini. Sambil sesekali cuci mata melihat-lihat produk hasil karya koperasi dan usaha kecil menengah dari berbagai daerah di Indonesia. Ditambah, di area outdoor gedung SMESCO sedang digelar juga SMESCO Art Fest. Di sana ada panggung live music dan berbagai rupa food truck lucu-lucu dengan menu yang enak-enaaaak. Ohohoho! Me like it! ^_^

SMESCO Art Fest (foto pribadi)

Beef Fajitas dari salah satu food truck di SMESCO Art Fest (foto pribadi)

Acara dibuka dengan opening ceremony yang diisi dengan sambutan beberapa undangan dan tari-tarian daerah dari pelajar dan mahasiswa. Aslik, saya mah berasa muda lagi aja gituh karena satu ruangan sama anak-anak muda gini. Hihihihi. Aula utama SMESCO pagi itu memang penuh sesak sama undangan, pengisi acara dan juga pengunjung. Padahal workshop dan talkshow belum dimulai. 

 Opening ceremony SMESCO Netizen Vaganza 2015 (foto pribadi)

Selfie bareng penari dari mahasiswi UHAMKA (foto pribadi)

Bener aja, makin siang ternyata pengunjung makin banyak. Kayaknya memang banyak netizen yang mengincar ketemu langsung sama Mas Agustinus Wibowo atau yang lebih akrab disapa Gus Weng ini. Semua ingin mendengar langsung pengalaman kerennya selama menjelajahi Asia Selatan dan bagaimana proses menuliskan perjalanannya itu menjadi sebuah kisah yang sarat nilai filosofis tentang kehiudpan. Beugh. Nganga. Takjub. Mupeng. -_-

 Agustinus Wibowo dan Mohammad Yusuf (moderator), talkshow Travel Writing (foto pribadi)

Yang mau selfie sama Gus Weng antriii. :D (foto pribadi)

Di lantai 12 gedung SMESCO, workshop Monetize Your Socmed oleh Mbak Yeyen Nursjid juga nggak kalah menariknya. Mbak Yeyen "buka-bukaan" tentang pengalaman pribadinya menjalankan bisnis garmen milknya, Amayra Batik Indonesia dan bagaimana caranya berjualan dengan memanfaatkan social media. Buat yang pengen jadi pengusaha kekinian, penting banget materi yang diberikan oleh Mbak Yeyen ini. 

Workshop Monetize Your Socmed oleh Yeyen Nursjid dan moderator, Donna Imelda (foto pribadi)

Kembali ke aula utama tempat tadi Mas Agustinus Wibowo mengisi talkshow, sesudahnya diisi oleh vlogger dan Youtuber ngehits, Sacha Stevenson. Sebelum Sacha mengisi acara, saya sempet foto bareng sama cewek bule kece yang fasih bicara bahasa Indonesia dengan logat lokal ini. Biar ketularan femeus, cwuyn! Ngihihihi. Sore itu Sacha membagi pengalamannya menjadi seorang vlogger. Sacha juga berbagi beberapa tips dan trik berdasarkan pengalamannya, dan bisa diaplikasikan oleh semua netizen yang ingin mengikuti jejaknya menjadi vlogger sukses. 

 Talkshow VLOG Tips and Tricks oleh Sacha Stevenson (photo courtesy: Dua Badai/Smesco)

Punya selfie sama vlogger tenar! (foto pribadi)

Kembali ke lantai 12, selepas workshop dari Mbak Yeyen, sorenya diisi dengan workshop Still Life Photography yang diisi oleh Mbak Raiyani Muharramah. Beliau ini traveler, blogger dan fotografer terkenal, lho! Cek website-nya di sini. Foto-fotonya, uh-mae-zing! Mbak Raiyani bagi-bagi rahasia tentang bagaimana mengambil gambar dengan kamera sehingga gambar yang tertangkap bisa terlihat hidup. Ini kalau dibikin workshop berbayar, biayanya bisa jutaan, lho! Di SMESCO Netizen Vaganza 2015 kemarin, gratis! Ah, bahagia bener diriku. *pecinta gratisan garis keras*

Workshop Still Life Photography oleh Raiyani Muharramah (photo courtesy: Dua Badai/Smesco)

Local Brand Lebih Keren

So, kenapa SMESCO mengadakan acara keren ini untuk para netizen? Apa hubungannya produk buatan dalam negeri dengan netizen? Saya cerita dikit, ya. 

Sebelum Mama saya sakit, beliau adalah salah satu pengisi pameran produk Indonesia di pameran-pameran di Singapura dan Malaysia. Selama 10 tahun, setiap bulan Mama saya bolak-balik Singapura dan Malaysia. Membawa produk kerajinan tangan dari daerah Tasik dan Garut berupa keranjang anyaman, centong kayu sampai sapu ijuk. Alhamdulillaah, dari pekerjaan itu lumayan penghasilannya. 

Mengisi pameran di luar negeri dengan membawa produk Indonesia seperti yang dilakukan oleh Mama saya itu hanyalah satu dari sekian banyak cara untuk mengenalkan produk Indonesia ke mata dunia. Kalau kita bukan pelaku usaha, apa yang bisa kita lakukan, dong?

Masih perlu saya jabarkan sampai detilkah jawabannya? Kamu netizen, kan? Akrab sama social media, kan? Smartphone di tangan selalu terisi paket data internet, dong? Dari situ aja kita sudah bisa menjangkau dunia untuk mengenalkan local brand Indonesia. Capture foto kain batik tulis Pekalongan, upload di Instagram, kasih hashtag #BatikIndonesia, #IndonesiaHeritage. Kayaknya nggak terlalu besar effort-nya, ya? Tapi kalau kamu netizen sejati, anak socmed yang selalu update, kamu pasti tahu, fotomu sesungguhnya sudah melampaui jarak yang bisa ditempuh langsung oleh langkahmu. Kekuatan netizen untuk memberi pengaruh kepada dunia luar secara instan sangat besar. Kita harus sadari itu dan manfaatkan untuk mengangkat nilai Indonesia di mata orang Indonesia sendiri dan dunia. 

Mak, napas, mak. Napsu amat. :p

By the way, untuk bisa lihat-lihat produk hasil kerajinan tangan dari berbagai daerah di Indonesia, nggak perlu jalan ke daerahnya langsung kok, kalau budget dan waktu nggak ada. Coba sekali-sekali mampir ke gedung SMESCO, di sana galeri pameran produk hasil dalam negeri ada di setiap lantainya. Puasss!!!

Lomba Blog SMESCO Netizen Award

Dalam rangka sosialisasi tagline Local Brand Lebih Keren, SMESCO juga mengadakan lomba blog dengan hadiah-hadiah menarik, lho! Jangan sampai nggak ikutan, ya. Kalah menang urusan belakangan, yang penting kita ikut berpartisipasi mengangkat local brand Indonesia supaya diterima di rumah sendiri dan juga dunia. Info lomba selengkapnya bisa dilihat di sini. Selamat berlomba! ;)


Ikut lombanya, yuk? ;)


Rabu, 30 September 2015

Talented Artists on My Timeline: InkTober's Story

Assalamu'alaikum.

Emak Gaoel apa sih yang gak diikutin demi stateus kekinihhan? Byahaha! Pokoknya apa yang rame di TL, langsung songong pengen ikutan. Soal punya kemampuan atau nggak, urusan belakangan. Yang penting eksis. Hadeuh! Kapan tobat, mak? 

Sebenarnya udah lama saya punya teman-teman yang beneran talented soal "coret-coret" di atas kertas mau pun di komputer pakai aplikasi menggambar yang super njelimet itu. In fact, saya udah jadi saksi bakat "tukang gambar" abang saya, Si Lensa Boetoet, sejak saya masih kinyis-kinyis nggemesin ngeselin. Walaupun abang saya ini sekarang nggak murni berkecimpung jadi "tukang gambar" (baca: desainer grafis), tapi hobinya coret-coret masih sesekali dilakukan. Banyakan main kamera sih sekarang doih. :p

Lensaboetoet.com
 Lensaboetoet.com
Lensaboetoet.com

Berhubung besok udah masuk Oktober, ada keriaan berupa festival menggambar menggunakan tinta bagi pecinta doodling sedunia yang dinamakan InkTober. Ini bukan lomba, sih. Cuma seru-seruan bareng bikin gambar menggunakan pulpen/tinta dan posting di social media selama bulan Oktober. Saya jelas dong pengen ikutan, gak peduli bentuk gambar kek gimana. Kek gimanalah gue ini. Maapin aja, ya. Yang penting kita seru-seruan bareng. Hahaha. Makin lama makin ngeselin gaya lu, mak!

Salah satu talented friend saya di urusan sketching adalah Mak Carra yang saya kenal di komunitas blogger. Alhamdulillaah ya, saya mah kalo liat orang punya bakat yang saya nggak punya, saya cenderung jadi ngefans ketimbang sirik. Maklum, jiwa saya emang masih abege (gampang jatoeh tjinta). Mak Carra ini sering upload hasil "coret-coret" isengnya di FB. Dan saya cuma bisa mangap-mangap kayak Nemo ngeliat hasil karyanya. Walaupun pengakuan beliau (((BELIAU))), cuma iseng dan kalo lagi mood doang kok bikin sketsa gitu. Teuteup aja. Iseng aja hasilnya keren gitu, gimana serius? Lah akoh? Kalo iseng, hasilnya suka bikin orang kesel. Apalagi kalo serius, makin ngeselin. :( Eniwei, enjoy beberapa karya Mak Carra ini. Kalau mau lebih puas, follow IG-nya Mak Carra. Beugh! 

 Carra
Carra

Satu lagi bakat yang tidak sengaja saya temukan di timeline FB adalah Mas Satia, yang notabene adalah sahabat suami saya. Waktu itu nggak sengaja lihat beberapa hasil kerjanya membuat sketsa untuk profil karyawan sebuah perusahaan. Kalau Mak Carra dan Abang saya lebih ke "coret-coret" langsung di atas kertas, Mas Satia ini membawanya ke next level, sketching digitally. Eh apalah istilahnya, saya suka nyiptain istilah sendiri emang. :p Pokoe, hasil goresan tangannya disempurnakan pakai aplikasi komputer. Malah sebagian besar proses awal, menurut pengakuannya, Mas Satia ini menggunakan mouse pen. Ampun dijeh, megang pensil aja saya nggak lurus, gimana bisa nggambar pake mouse pen? Yah, jangan dibanding-bandinginlah. Udah kayak langit sama ampas kopi di bak cuci piring banget itu. 
Dan berhubung saya orangnya suka sok ikrib dan celamitan, saya request lewat pak suami ke Mas Satia untuk bikinin sketsa wajah saya. Yah, siapa tahu ya, kalau dibikin dalam bentuk sketsa muke gue bisa rada ketolong. Alhamdulillaah, beneran ketolong, cyiin. Aku tampak lebih muda bergelora menggetarkan dunia durjana ini. Nih, buktinya. (((JANGAN GUMOH)))

 Satia
Satia

Kegiatan sketching Mas Satia ini udah masuk ranah profesi karena sudah terima banyak pesanan untuk sketsa pre-wed, keluarga bahkan perusahaan. Sambil sibuk dengan pekerjaan lainnya yang masih berhubungan dengan seni rupa, Mas Satia menerima pesanan sketsa. Kalau minat boleh cek dulu nih hasil guratan "pena tikus" Mas Satia dalam bentuk coretan awal dan belum dipoles. 

 Satia
 Satia
Satia

Kayanya saya nggak akan pernah bosen melihat-lihat hasil karya orang-orang berbakat begini. Kalau mau lihat karya lain dari buanyaaak artist-artist doodle muda berbakat di Indonesia, silakan follow akun @doodleartindonesia dan @myindodoodle. Sekalian bisa buat cari inspirasi buat ikutan InkTober. Kamu ikut? Saya ikut, dong! :D

Senin, 28 September 2015

Go Set A Watchman, Novel yang Melahirkan To Kill A Mockingbird

Assalamu'alaikum.

12 September 2015 bisa dibilang sebagai hari lahirnya kembali Harper Lee di Indonesia. Setelah sebulan sebelumnya, novel "terbaru"nya dalam 60 tahun terakhir, Go Set A Watchman, hadir di USA dan Eropa, Harper Lee tidak hanya memberi kejutan bagi pecinta Scout dan Atticus dalam To Kill A Mockingbird, tapi juga kontroversi dan rasa penasaran.

Saya sudah membahas seputar kehebohan kehadiran Go Set A Watchman di sini. Feel free to dig in. Ketika Go Set A Watchman akhirnya tiba di tangan saya melalui Mizan, saya tidak bisa menunggu terlalu lama untuk membacanya hingga tuntas. Seperti yang kita tahu, To Kill A Mockingbird adalah karya legendaris. Dan di atas itu semua, To Kill A Mockingbird juga satu-satunya karya Harper Lee di dunia literasi. Fakta ini memberikan posisi prestise bagi Harper Lee dalam dunia buku fiksi dan sastra dunia. She's a legend. Dengan hanya satu karya, dia mampu mengguncang dunia. 

Mengenal Scout, si gadis kecil dalam To Kill A Mockingbird dan Atticus Finch, sang ayah, yang digambarkan sebagai ayah teladan dan pemberani, membuat banyak orang bertanya-tanya, seperti apa Scout ketika beranjak dewasa. Bagaimana hubungannya dengan sang ayah? Siapa laki-laki yang dicintainya? Masalah apa yang dihadapi mereka di masa itu?

Adalah sebuah kejutan ketika kita membaca buku dengan sebuah asumsi yang sudah terbentuk terlebih dahulu. Itu yang terjadi pada diri saya ketika membaca Go Set A Watchman. Saya menemukan kejutan besar karena menganggap bahwa Go Set A Watchman adalah kelanjutan dari kisah To Kill A Mockingbird. Masih teringat jelas dalam To Kill A Mockingbird bagaimana Atticus Finch muncul sebagai sosok pembela kaum negro di masa ketika rasialisme adalah isu paling keras yang menghantam Amerika kala itu.

Kisah diawali dengan kepulangan Scout (Jean Louise), 26 tahun, ke kampung halamannya, Maycomb untuk menjenguk sang ayah, Atticus Finch. Kepulangannya kali inilah yang memberikan twist hebat dari asumsi awal saya yang berdasarkan pada buku To Kill A Mockingbird. Bagaimana mungkin seorang Atticus Finch bisa berubah pandangan tentang masalah rasialisme di Amerika saat itu? Atticus, sang ayah ideal, pembela kaum segala warna kulit dalam To Kill A Mockingird telah "dipelintir" oleh Harper Lee menjadi sosok aktivis rasis yang membedakan manusia berdasarkan warna kulit. Saya tidak bisa cerita banyak kenapa hal ini bisa terjadi, karena kamu harus caru tahu sendiri, dong!

Selain isu utama seputar rasialisme, Go Set A Watchman juga dibumbui dengan kisah roman antara Jean Louise dengan lelaki pujaannya, Hank. Ditambah kerikil-kerikil kecil yang cukup memberi greget dalam interaksi Jean dan bibinya, Alexandra. Semua menjadikan Go Set A Watchman menjadi satu ramuan lengkap yang siap disantap.

Begitu ramainya pemberitaan media tantang kelahiran novel ini, membuat saya tidak bisa mengabaikan beberapa fakta unik.

1. Go Set A Watchman terbit 60 tahun setelah To Kill A Mockingbird. Tercatat, ini adalah buku KEDUA Harper Lee selama hidupnya. 

2. Terungkap bahwa ternyata Go Set A Watchman adalah naskah yang ditulis Harper Lee sebelum dia menulis To Kill A Mockingbird.

3. Naskah Go Set A Watchman telah lama dianggap hilang, sampai akhirnya "ditemukan" kembali tahun 2014 dan diterbitkan.

4. Penjualan minggu pertama Go Set A Watchman mengalahkan Harry Potter dan 50 Shades of Grey.

Mbak Esti Budihabsari, salah satu bagian dari tim penerjemah Go Set A Watchman di Mizan, berbagi pengalamannya seputar menerjemahkan novel ini. Tapi itu nanti aja, ya kita bahas di sini atau kepo-in blog Kampung Fiksi. ;) Yang jelas, waktu saya tanya Mbak Esti apa kesannya setelah menerjemahkan novel Go Set A Watchman, Mbak Esti berkata:

"Harper Lee adalah salah satu penulis terbesar abad 20. Hanya dengan satu buku, To Kill A Mockingbird, dia melegenda. Buku itu terjual lebih dari 40 juta kopi, diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan hingga kini masih terjual sejuta kopi setahun di Amerika saja. Makanya banyak orang yang menyayangkan kenapa Harper Lee tidak menulis lagi. Go Set A Watchman ini, adalah tulisan Harper Lee yang pertama sebenarnya. Dia lebih dulu menulis kisah ini, lalu oleh editornya dia disarankan menulis kisah Jean Louise saat dia masih kecil, karena itu lahirlah To Kill A Mockingbird. Go Set A Watchman ini bisa dibilang sebagai naskah yang ‘melahirkan’ buku legendaris To Kill A Mockingbird. Naskah Go Set A Watchman ini sudah dianggap hilang selama 60 tahun. Harper Lee pun sudah tak ingat dia masih menyimpan naskah ini. Jadi surprise banget ketika akhirnya Go Set A Watchman terbit. Mengingat usia Harper Lee,  kemungkinan besar Go Set Watchman ini akan menjadi warisan terakhir Harper Lee karena dia sudah 89 tahun. Go Set A Watchman ini mengisahkan tentang prasangka dan rasisme, ditulis 60 tahun lalu tapi sangat relevan dengan situasi sekarang ini."

By the way, imajinasi saya jadi liar baca pernyataan Mbak Esti, "Mengingat usia Harper Lee, kemungkinan besar Go Set Watchman ini akan menjadi warisan terakhir Harper Lee karena dia sudah 89 tahun." Hmmm, siapa tahu, sebenarnya Harper Lee selama ini terus menulis, dan ada puluhan naskah dalam ruang penyimpanan rahasia, menunggu untuk ditemukan seperti harta karun di kapal karam? Ahahaha. 


PS: Pantengin Twitter saya dan Kampung Fiksi, ya. Kita akan ngadain kuis seputar novel ini, berhadiah buku dan merchandise dari Mizan. ;)

Selasa, 22 September 2015

Tujuh Tahun Membangun Branding Emak Gaoel

Assalamu'alaikum.


Kepincut sama Giveaway Mak Uniek di blognya, karena temanya pas banget buat posting tsurhat. Hahaha. Semacam udah lama melupakan blog ini sebagai ajang ngoceh awalnya dulu. Sekarang ini Blog Emak Gaoel udah makin gado-gado isinya, dan makin rame sama yang follow. Semoga yang follow nggak lagi khilaf. Aamiin!

Seperti banyak kejadian yang dialami blogger; eksis di dunia maya, bukan berarti ngeksis juga di dunia nyata. Lah, kadang kalau ditanya, "Kerjanya apa?". Saya jawab, "Ngeblog," gak cuma satu dua orang yang keningnya berkerut, nggak paham saya lagi ngomongin apaan. Dan percakapan akan berlanjut dengan menjelaskan apa itu blog, blogger dan ngeblog dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Karena biasanya dijelasin panjang lebar pun, ujung-ujungnya respon yang saya dapat rada absurd. "Itu kerjaan?" Semacam itu, deh. Hhhh ....

Lagian, kenapa juga saya sok PD jawab NGEBLOG kalau ditanya orang? Karena sehari-hari saya emang nggak jauh-jauh dari nulis di blog. Lah, apa dong namanya kalau bukan kerjaan? Wkwkwkwk, cetek lu, Mak! 

Cuma nulis doang? 

Pertanyaan, "Cuma nulis doang?" itu minta banget dislepet sebenernya. Tapi untunglah Bundadari ini berhati lembut. Berusaha paham kalau penjelasan saya pun mungkin nggak cukup-cukup amat buat menggambarkan kalau ngeblog itu bukan "Cuma nulis doang." Ada keringat, air mata dan darah yang tertumpah dalam proses menghasilkan satu buah tulisan di blog. Call me lebay, tapi rasanya emang begitu, sih. 

Nulis di blog, walaupun isinya kayak apaan tauk ini, nggak pernah sekali pun saya asalan pencet tombol publish. Sebelum menulis di dashboard, saya riset dulu tentang tema yang mau ditulis. Baca sana sini, makan waktu, tapi nggak merasa rugi juga melakukannya. Baca kan nambah ilmu, yes? Abis baca-baca, semedi dulu sambil jongkok. Eh. 

Terus apa kabar kalau bloggernya model gaptek kayak saya gini? Apa-apa nanya. Apa-apa kudu liat tutorial di Youtube. Mau masukin link ke tulisan, liat Youtube. Mau ngedit foto, liat Youtube. Mau bikin video, liat Youtube. Mau permak blog, liat Youtube. Apa-apa Youtube. Mending kalau sekali liat, langsung bisa. Kalo kapasitas otak pas-pasan kayak saya gini, mesti dua tiga kali nonton, baru ngerti. Alhamdulillaaah, yaa. Tiap itu jadi belajar hal baru.

Sesuatu banget rasanya bisa gabungin 3 video ke dalam satu frame dan berhasil upload ke Youtube. Prestasi! :v

Kayak di tulisan ini, saya ngubek aplikasi foto editing dulu semaleman. Demi cuma bisa bikin buletan-buletan ijo-nya. Hahaha. Kalau di tulisan ini, karena modelnya reportase kunjungan, mau gak mau saya harus pinter-pinter mengolah data seabrek dari press release. FYI, dapat press release itu bukannya bikin gampang kerjaan kalau buat saya. Malah harus lebih muter otak supaya tulisan kita nggak kayak laporan kerja atau tulisan di koran. Lah, namanya juga blogger, sentuhan personal itu penting, kaan. Dan di tulisan ini saya mulai metamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu emak gaptek menuju emak rada pinteran dikit bikin video. Akhirnya bisa juga edit-edit video dikit sebelum di-aplod ke Youtube dan bikin postingan berdasarkan video itu. Dengan bangga, sekarang kumpulan Safina's Home Video udah bisa dilihat di sini, Maks! ^_^

Karena selalu belajar hal baru dan selalu ada cerita berbeda di balik tiap tulisan saya di blog ini, saya jadi semangat terus untuk ngeblog. Kalau gini caranya, pelan tapi pasti, saya pasti bisa jadi orang pinter! Semangat! Hahahaha. 

Dapet apa dari ngeblog?

Dapet HAPPY! Banyak latar belakang blogger memulai perjalanan ngeblognya. Saya pribadi, diawali dari basi banget nggak ada kegiatan di rumah selain ngurus anak-anak, rumah dan suami. Ketemu blog, rasanya kayak ketemu mantan. Eh, salah. Ketemu blog rasanya kayak ketemu sama hasrat yang sempat hilang dan terlupakan. 

Bisa ketemu penulis idola jadi salah satu bonus menyenangkan menjadi seorang blogger ^_^

Begitu terjun ngeblog, perlahan tapi pasti, semangat saya meningkat. Berawal dari curhat seharian sama anak, meningkat ke protes kecil-kecilan soal jalanan rusak depan kompleks rumah. Lalu meningkat nulis tentang hasil jalan-jalan dan jajan sekitar rumah. Nggak lama nulis soal buku-buku yang saya baca. Terus iseng-iseng nyelipin satu dua tulisan fiksi ala ala saya. Semuanya, deh. 

Sampai saat ini, dari ngeblog saya bisa dapet duit! Eh, ada yang mau bayar tulisan saya di blog ternyata. Emejing! Tawaran pekerjaan menulis review mulai berdatangan. Beberapa saya ambil, beberapa saya tolak. Biar gimana, sulit untuk menulis sesuatu yang nggak sesuai sama hati nurani. Beberapa topik memang saya "haramkan" untuk dibahas di blog ini. Selain itu, hayuk aja.

Kalau udah denger duit, langsung deh telinga berdiri. Padahal proses sampai invoice pembayaran cair itu juga bukan perkara gampang. Kalau model kerjaannya harus meliput acara, artinya saya harus luangkan waktu untuk ninggalin anak-anak di rumah, keluar ongkos transport, bawa-bawa kamera dan laptop berat, keliling-keliling event kayak wartawan beneran. Ini kerja. Tapi dibawa happy karena sekalian bisa ketemu teman-teman blogger. 

Precious moments with my fellow bloggers :*

Pertama kali dapat bayaran dari tulisan saya di blog, mata saya langsung melek. Ada peluang di sini. Ternyata, selain mengisi waktu dengan exercise otak, ngeblog juga bisa bantu-bantu nambah isi dompet sendiri. Mulailah saya belajar sedikit-sedikit. Saya sadar banget, kadar gaptek saya udah di ambang batas memprihatinkan. Kalau nggak mau belajar, pasti cepet banget ketinggalan sama kemajuan jaman dan teknologi.

Yang tadinya males belajar ngulik statistik blog, dikit-dikit belajar dari temen-temen blogger yang udah jago. Mulailah saya kenalan sama yang namanya Google Analytics (walaupun sampai sekarang masih aja suka bingung). Yang tadinya pasrah cuma bisa foto asal-asalan, mulai belajar teknik dasar potret-potret dan edit-editan. Yang tadinya mager banget buat bikin video, pelan-pelan mulai belajar akrab sama video editing dan upload ke Youtube. Pokoknya nikmat bener dah proses belajarnya, karena HAPPY!

Hayati lelah, Bang. Ngulik analytics gak mudeng-mudeng. -_-

Sampai nggak terasa udah tujuh tahun ngeblog. Banyak yang udah saya dapat dan pelajari. Tapi masih lebih banyak yang saya nggak tahu. Saya masih penasaran sama banyak hal seputar blogging. Itu yang bikin tiap postingan selalu berkesan buat saya, karena setiap menulis satu artikel, selalu ada hal baru yang harus saya pahami.

Di luar peluang mendapat income dari ngeblog, sekarang ini sebenarnya saya lebih fokus untuk menciptakan personal branding saya sebagai blogger. Pengennya, suatu saat nanti, kalau orang baca tulisan saya, pada bilang, "Emak Gaoel banget ini bahasanya." Hahahaha, kenapa saya pengen banget gitu dikenal sebagai si Emak Gaoel? Penting buat saya menancapkan kuku dengan kokoh di dunia maya. Karena banyak peluang yang bisa terbuka jika posisi saya di blog dan social media sudah stabil. Untuk sekarang mungkin masih sejauh peluang mencari income tambahan. Tapi ke depannya saya ingin dapat peluang untuk bisa berbagi banyak hal positif, bisa ikut terlibat dalam gerakan-gerakan yang memberi manfaat ke masyarakat luas, ingin juga lebih banyak terlibat dalam kegiatan offline untuk memasyarakatkan ngeblog. Pokoe seperti banyak blogger inspiratif yang jadi idola saya di luar sana. 

Makanya, dalam rangka branding sebagai si Emak Gaoel yang gagal gaul dan gaptek ini, saya mah gak mau jaim kalau nulis di blog. Bahasa yang saya pakai (walaupun) untuk pekerjaan review sekali pun, selalu saya usahakan sebagai bahasa Emak Gaoel, bukan bahasa iklan atau jualan. Dan nulis tema serius (apalagi buat jualin produk orang lain) pake bahasa kayak gini, itu susah-susah nikmat, cyin! Kudu punya strategi dan lihai bermain kata. Tsah! Salah-salah, jatuhnya bisa kayak nggak respect sama tema/produk yang ditulis. Jadi, please, ini tulisan biar dibacanya kayak ditulis gak pake effort, percayalah saya sampe nungging-nungging ini bikinnya. :v So guys, my fellow bloggers, ciptakan peluangmu lewat ngeblog

Giveaway Cerita di Balik Blog