Senin, 12 Juli 2010

Homesick

  2 comments    
categories: 

Satu bulan. Empat minggu sudah mereka tinggal di Singapura lengkap dengan asam manis pahit dan getir dunia bekerja di hotel yang nyata. Fani, Lana dan Ogi mulai goyah. Rindu akan rumah dan suasana kampus melanda mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Bahkan segala kemudahan dan kemolekan Singapura tidak mampu menggantikan rindu itu.
Seharian Fani hanya duduk di depan jendela ruang tamu di apartemen itu. Dari pagi dia tidak beranjak dari sofa coklat kumal itu. Ogi baru bangun dan keluar kamar ketika dilihatnya Fani yang sedang duduk termangu sendirian di sana. Seluruh penghuni apartemen itu kebetulan sedang masuk pagi. Lana sendiri bahkan belum pulang sejak semalam karena harus lembur karena ada rombongan yang akan masuk siang ini.
“Kenapa, Fan?” tanya Ogi.
Fani terhenyak sedikit karena terkejut lamunannya terputus. Kemudian dia menghela nafas berat dan kembali memandang keluar jendela.
“Pengen pulang…,” ujar Fani lirih.
Ogi menatap punggung Fani dengan simpati. Dia pun merasakan hal yang sama beberapa hari ini. Dihampirinya Fani dan duduk di sebelahnya.
Tangannya mengelus-elus punggung Fani dengan perlahan. Fani bergeming. Somehow, dia merasa membutuhkan kehadiran sebuah bentuk simpati dari seseorang saat ini.
“Sama, Fan…Gue juga kangen rumah, kangen Bandung, kangen kampus. Tapi sabar aja deh…Tinggal lima bulan lagi, kok…” ucap Ogi yang terdengar tidak yakin di telinga Fani.
Fani menatap Ogi dengan malas dan sebal.
“Lima bulan itu lama, Ogii!” katanya dengan gemas.
“Ya, gue juga tau, Fanii! Gue kan cuma mau menghibur doang. Lah, gue juga kan lagi kangen rumah, sama kayak lo…,” jawab Ogi membela diri sambil meringis. Dibalikkannya badan duduk menghadap ke ruang tamu. Setengah mati dia menahan diri untuk tidak merokok dalam apartemen itu karena Stephen jelas-jelas melarang keras semua penghuni apartemen itu untuk merokok di dalam. Padahal suasana kayak gini paling pas sambil merokok, batinnya dalam hati.
Fani ikut membalikkan badannya di sebelah Ogi. Terlihat sekali kalau dia sedang suntuk. Belum mandi dan rambut masih awut-awutan. Walau begitu Fani tidak pernah pusing memikirkan penampilannya selama dia tinggal di apartemen itu. Namanya tinggal satu rumah, pasti jelek-jeleknya semua penghuni akan terlihat walaupun berusaha disembunyikan sedemikian rupa.
“Ini namanya homesick kali ya, Gi?” tanya Fani seperti pada dirinya sendiri.
Ogi hanya menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Fani. Tiba-tiba Ogi tersentak ketika dirasakannya kepala Fani sudah menyender di bahu kanannya. Ogi tidak berani bergerak sama sekali. Tubuhnya serta-merta kaku dan membeku tidak menyangka kalau Fani bisa dan mau melakukannya.
“Gue inget adek gw, Mami, Papi…gue juga kangen sama kamar kost gue…Lima bulan itu lama banget, Gi…,” Fani kembali berujar seperti pada dirinya sendiri.
Ogi tetap diam membeku.
“Kemaren gue kena omel Mr. Kim, FB Manager itu,” kata Fani lagi. “Gue salah posting menu dalam order machine. Satu botol champagne gue posting satu gelas. Gue baru sadar waktu tamunya udah pergi. Mr. Kim ngomel-ngomel, bilang gak mungkin dia minta ganti sama gue. ‘Mana punya duit trainee macam kamu!,’ gitu katanya. Gue gak boleh megang orderan tamu lagi. Gue bener-bener kayak orang bego diomelin dan dipermalukan di depan orang-orang, Gi…,” kata Fani panjang lebar. Fani menyeka air mata yang sudah jatuh ke pipinya itu.
Ogi tersentak menyadari Fani ternyata menangis. Reflek digerakkan tangannya ke arah pipi Fani, bermaksud hendak menghapus air mata yang sudah terlanjur jatuh itu.
“Fan…,” ujar Ogi sambil menatap wajah Fani dalam-dalam. Tangannya masih memegang pipi Fani dengan lembut.
“Sabar, Fan…Jangan nyerah gitu…Lo bukan orang bego, semua tau itu. Jangan sampai kesalahan sepele meruntuhkan kepercayaan diri lo. Gue juga sering buat salah. Namanya lagi belajar, wajar aja kita salah. Emang rasanya gak enak banget diomelin, apalagi di depan orang banyak. Tapi telan aja, Fan…Toh, kita gak akan selamanya ada di sini. Anggap angin lalu, Fan. Ada gue di sini…Cerita sama gue, Fan. Gue akan dengerin selama yang lo mau. Gue gak akan kemana-mana. Jangan takut dan jangan menyerah…,” ucap Ogi panjang lebar berusaha menghibur Fani.
Fani menatap balik ke dalam mata Ogi. Air matanya justru makin deras berjatuhan ke pipinya setelah mendengar ucapan Ogi itu. Spontan dijatuhkannya kepalanya ke dada Ogi dan menumpahkan segala kekesalan di hatinya. Ogi kembali diam tertegun tak berani bereaksi. Untuk beberapa detik dia hanya bisa diam.
Fani masih menangis sesenggukan di dada Ogi. Akhirnya Ogi tak bisa menahan diri dan hatinya lagi. Direngkuhnya tubuh Fani ke dalam pelukannya. Seolah ingin memindahkan sebagian kekuatannya untuk Fani. Diusapnya rambut Fani dengan lembut. Tanpa sadar dia mengecup kepala Fani dengan penuh perasaan sayang.
Fani mengangkat kepalanya perlahan. Dia tidak yakin akan apa yang barusan terjadi. Sepertinya Ogi mencium atas keningnya dengan sangat perlahan. Dan Fani tiba-tiba merasa heran karena mendadak segala persoalan yang dihadapinya menjadi terasa begitu kecil dan ringan. Untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain. Tak ada suara, tak ada ucapan, tak ada gerakan. Hanya tatapan.
Wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. Tangan Ogi masih memeluk kedua pundak Fani. Antara sadar dan tidak, seperti ada magnet berbeda kutub yang saling tarik-menarik antara mereka. Wajah mereka kian mendekat. Hdiung mereka sudah saling bersentuhan dan…
“Hey! At least do it somewhere else!” sebuah suara mengejutkan mereka.
Sally Wu baru masuk ke dalam apartemen dan mendapatkan mereka berdua tengah dalam posisi hampir berciuman. Kelihatan sekali kalau dia tidak suka melihatnya. Sally masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras.
Fani segera membenahi duduknya. Ogi pun cepat-cepat melepaskan pelukannya di pundak Fani. Tiba-tiba saja mereka menjadi salah tingkah menyadari apa yang hampir saja terjadi.
Apaan sih barusan? Ucap Fani dalam hati tak habis pikir. Did we just almost kiss? Tanyanya lagi dengan heran. Why? Ya, kenapa? Apa itu artinya aku suka pada Ogi? Tanya Fani makin gencar dalam hatinya. Tapi mengapa aku tidak merasakan degup jantung yang berdebar seperti yang aku baca di majalah-majalah itu? Kenapa aku tidak merasa salah tingkah dengan kedekatannya denganku tadi? Kenapa aku bisa membiarkannya memelukku dengan penuh perasaan seperti itu? Kenapa aku merasa sangat nyaman dalam pelukannya? Kenapa dia melakukannya? Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Dan berpuluh pertanyaan berloncatan dalam kepalanya saat ini.
Baru di sadarinya sekarang, jantungnya mulai berdebar-debar ketika dia berusaha menatap Ogi kembali. Ogi tidak berani melihat ke arahnya. Dia hanya mengusap-usao wajahnya lalu berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum dia masuk ke dalam kamar, Ogi berbalik hendak mengatakan sesuatu padanya.
“Maaf ya, Fan…aku lancang. Aku…aku cuma nggak mau kamu terus-menerus sedih seperti tadi…,” ucapnya pelan.
Fani berusaha mempercayai pendengarannya. Apa Ogi baru saja mengganti caranya menyebut dirinya sendiri dari ’gue’ menjadi ‘aku dan menyebut dirinya dari ‘lo’ menjadi ‘kamu’? Apa artinya semua ini? Fani tidak mampu menemukan jawaban selain perasaan melayang yang tiba-tiba hinggap dalam hatinya.
***
BERSAMBUNG
Image from http://www.0303.info/disneyimg/SnowWhite/Snow-White-Prince.jpg

2 komentar:

  1. Eheeeemmmmm! Waw... Love is in the air nih dalam 3 episode berturut2... ahaha!

    Gw menunggu kejadian selanjutnya. Sekarang... goodnight Fani, Ogi dan Lana, jangan nakal2 ya..

    BalasHapus
  2. hahahaaaa...mari kita mulai sesi lebay dari episode ini...wkwkwkwkwkwk

    BalasHapus