Judul Novel: Kau
Penulis: Sylvia L'Namira
Halaman: 107 - 108
Versi asli:
"Igo." Aku memanggilnya.
Igo menoleh. Tak ada ekspresi senang melihatku di sini. What's wrong with him? Paling tidak ia bisa pura-pura senang kek ketemu lagi denganku.
"Aku belum sempat berterima kasih--aku--"
"No problem." Igo memotong omonganku dan kembali sibuk dengan mesin pesawat. Huh. Sombong betul! Bayanganku akan pertemuan yang mengharu biru berkaitan dengan penyelamatku langsung sirna. Obrolan panjang lebar mengenai kesehatanku yang sudah memulih, keadaan cuaca hari ini, bentukan awan yang semalam kulihat di langit, semua sudah menguap ke udara. Kesal aku membalikkan badan dan memilih untuk menunggu di kantor William.
Setelah pesawat take off, Igo membuka pintu kabin dan mengajakku duduk di depan bersamanya. Well, nggak pake ngomong sih, cuma isyarat saja yang aku artikan ajakan untuk duduk di kursi co-pilot. Dengan senang hati aku pindah duduk dan memandang cantiknya awan-awan yang ada di atas kami.
"Cantik banget awan-awan itu. Aku sukaaaa... banget sama awan." Tidak ada respons.
"Sejak kecil aku selalu berlama-lama memandang awan." Masih tidak ada respons.
"Kalau diperhatikan, awan itu seperti memberi pertanda lho." Masih juga tidak ada respons. Bodo lah! Aku ngomong sendiri juga nggak pa-pa.
"Coba lihat yang di sana itu. Bentuknya kayak apa menurut kamu?" Igo melirik sekilas.
"Payung."
"Tepat sekali! Kamu ternyata berbakat!" Igo hanya mengangkat bahu.
"Kalo yang itu tuh! Kayak apa menurut kamu?" Sekali lagi Igo melirik sekilas.
"Sepeda."
Wow! Hanya dengan lirikan sekilas!
"Persis! Itu juga yang aku pikirin! Kamu suka awan juga, Go?"
"Ibu yang suka."
"Oh ya? Aku ingin sekali kenalan sama ibu kamu."
Diubah genre menjadi komedi satire--->>>
Penulis: Sylvia L'Namira
Halaman: 107 - 108
Versi asli:
"Igo." Aku memanggilnya.
Igo menoleh. Tak ada ekspresi senang melihatku di sini. What's wrong with him? Paling tidak ia bisa pura-pura senang kek ketemu lagi denganku.
"Aku belum sempat berterima kasih--aku--"
"No problem." Igo memotong omonganku dan kembali sibuk dengan mesin pesawat. Huh. Sombong betul! Bayanganku akan pertemuan yang mengharu biru berkaitan dengan penyelamatku langsung sirna. Obrolan panjang lebar mengenai kesehatanku yang sudah memulih, keadaan cuaca hari ini, bentukan awan yang semalam kulihat di langit, semua sudah menguap ke udara. Kesal aku membalikkan badan dan memilih untuk menunggu di kantor William.
Setelah pesawat take off, Igo membuka pintu kabin dan mengajakku duduk di depan bersamanya. Well, nggak pake ngomong sih, cuma isyarat saja yang aku artikan ajakan untuk duduk di kursi co-pilot. Dengan senang hati aku pindah duduk dan memandang cantiknya awan-awan yang ada di atas kami.
"Cantik banget awan-awan itu. Aku sukaaaa... banget sama awan." Tidak ada respons.
"Sejak kecil aku selalu berlama-lama memandang awan." Masih tidak ada respons.
"Kalau diperhatikan, awan itu seperti memberi pertanda lho." Masih juga tidak ada respons. Bodo lah! Aku ngomong sendiri juga nggak pa-pa.
"Coba lihat yang di sana itu. Bentuknya kayak apa menurut kamu?" Igo melirik sekilas.
"Payung."
"Tepat sekali! Kamu ternyata berbakat!" Igo hanya mengangkat bahu.
"Kalo yang itu tuh! Kayak apa menurut kamu?" Sekali lagi Igo melirik sekilas.
"Sepeda."
Wow! Hanya dengan lirikan sekilas!
"Persis! Itu juga yang aku pikirin! Kamu suka awan juga, Go?"
"Ibu yang suka."
"Oh ya? Aku ingin sekali kenalan sama ibu kamu."
Diubah genre menjadi komedi satire--->>>




